Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

Pandemi Covid-19 dan Mandat Menuju Jalan Perubahan

×

Pandemi Covid-19 dan Mandat Menuju Jalan Perubahan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Andi Firdaus
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Pandemi Covid-19 telah mengantarkan bangsa Indonesia pada sebuah persimpangan. Memilih bertahan dengan kebiasaan lama atau melangkahkan kaki untuk menempuh jalan perubahan?.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut situasi itu sebagai “status quo” yang menguji sistem kesehatan dunia saat diguncang oleh SARS-CoV-2 pemicu pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir dua tahun di Tanah Air.

“Masih segar dalam ingatan, rumah sakit yang penuh dengan pasien, suara sirine ambulans yang terus menerus berbunyi, susahnya mencari kamar perawatan atau obat bagi orang yang kita kasihi, bahkan tidak sedikit masyarakat, petugas, dan tenaga kesehatan yang gugur karena Covid-19,” katanya saat berpidato di Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-57/2021 di Jakarta, Jumat.

Menkes mengatakan bertahan pada titik persimpangan justru membawa bangsa pada berbagai masalah kesehatan yang tak kunjung reda. Tekanan COVID-19 di fasilitas pelayanan kesehatan membuat fokus kegawatdaruratan penyakit lain cenderung terabaikan.

Hingga 30 Oktober 2021, Kemenkes melaporkan penderita diabetes menempati peringkat tertinggi kematian pasien sebanyak 560 orang, hipertensi 543 orang, pneumonia 345 orang, jantung 284 orang, ginjal 121 orang, penyakit pernapasan 26 orang, dan ibu hamil 11 orang.

Pengalaman pahit di hilir sistem kesehatan Indonesia adalah alarm peringatan dari terbatasnya kemampuan pengendalian di sektor hulu dalam upaya pencegahan, deteksi dan respons dini pada potensi krisis kesehatan.

Pada situasi itu, Indonesia terus melakukan perbaikan agar pandemi Covid-19 terkendali. Saat ini, kasus Covid-19 telah menurun drastis dari puncaknya di bulan Juli 2021sebanyak 56.000 kasus per hari, kini berada di kisaran 500 kasus per hari. Keterisian tempat tidur perawatan pasien pun berada pada angka yang sangat rendah di kisaran 3 persen.

Belajar dari dua kali gelombang Covid-19, Kemenkes berkesimpulan bahwa potensi terbesar penularan Covid-19 bersumber pada aktivitas masif masyarakat setelah agenda libur panjang saat perayaan hari besar di antaranya, Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru.

Baca Juga:  Seruan Boikot Produk Pendukung Zionis, Harus Totalitas!

Epidemiolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan dua gelombang Covid-19 pada saat itu berlangsung cukup cepat, yakni satu juta kasus pertama berlangsung selama setahun, sejuta kasus berikutnya terjadi hampir enam bulan dan satu juta kasus lainnya hanya butuh waktu sebulan.

“Itu menunjukkan terjadi akumulasi bahwa semakin banyak orang yang terinfeksi, makin banyak penularannya dan berlaku masif,” katanya.

Pandu mengungkapkan rahasia keberhasilan pengendalian pandemi Covid-19 di Tanah Air adalah mengintegrasikan efek gerakan 5M untuk menekan penularan, efek 3T untuk memutus rantai penularan dan efek vaksinasi supaya tidak ada lagi yang terinfeksi berat.

Efek 5M yang dimaksud adalah mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, mengurangi mobilitas dan menjauhi kerumunan. 3T adalah testing, tracing dan treatment.

Sementara capaian vaksinasi dosis pertama di Indonesia per Ahad (14/11) 2021 menembus 130.283.345, dosis kedua 84.161.759 orang dan dosis ketiga 1.189.235 orang dari total target sasaran 208.265.720 orang.

Jalan perubahan

Rangkaian peristiwa pandemi yang melanda dunia selalu menuntut perubahan perilaku manusia yang lebih sehat. Contohnya, saat Wabah Hitam atau Black Death kali pertama melanda Eropa pada pertengahan hingga akhir abad ke-14.

Saat itu muncul produk sabun untuk memudahkan masyarakat mencuci tangan agar “Black Death” yang dipicu kutu yang dibawa tikus mati dan tidak membawa virus ke dalam tubuh manusia.

Peristiwa lainnya saat human immunodeficiency virus (HIV) memakan puluhan juta korban yang menuntut perubahan perilaku dalam berhubungan badan.

Pun dengan kebiasaan baru menghadapi Covid-19. Dibutuhkan konsistensi masyarakat dalam mengubah kebiasaan baru yang lebih sehat.

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Reisa Broto Asmoro mengatakan perilaku 5M terbukti menurunkan sejumlah kasus penyakit di berbagai daerah di Indonesia maupun dunia.

Ilmuwan Center for Disease Control and Prevention di Atlanta Amerika pada September 2020 melaporkan 5M telah menurunkan kejadian influenza musiman di Amerika Serikat berkat adanya masker dan jaga jarak. Situasi serupa juga terjadi di Chile, Australia dan Afrika selatan.

Baca Juga:  Adopsi Budaya Kerja Netflix pada Birokrasi

Pada situasi di dalam negeri, Puskesmas Karangasem, Bali, melaporkan situasi serupa. 5M turut menurunkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). “2019 pernah tercatat 945 kasus dan 2020 turun 750 kasus dan pada tahun ini sampai dengan Oktober terdata ada 450 kasus,” katanya.

Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal selama 20 detik, kata Reisa, juga membantu mengurangi masuknya kuman ke dalam tubuh manusia. Salah satunya di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kasus diare berkurang 1.300 kasus di 2020 dibandingkan 2019.

Reisa mengatakan perilaku menjaga jarak diyakini membuat masyarakat terhindar dari berbagai penyakit menular seperti batuk, pilek bahkan tuberkulosis, meskipun belum ada penelitian yang komprehensif.

Inisiatif mengurangi mobilitas sampai dengan 30 persen di bawah rata-rata pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di awal pandemi juga membantu mengurangi polusi dan menaikkan kualitas udara.

“Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melaporkan bahwa indeks standar pencemaran udara di DKI Jakarta, Padang, Pekanbaru, Makassar dan Banjarmasin menurun,” katanya.

Transformasi

Rumus 5M+3T+Vaksinasi nyatanya baru sebatas pembuka jalan menuju perubahan. Masih diperlukan langkah lanjutan agar Indonesia mampu bertahan dari gempuran pandemi di masa depan.

Peringatan HKN 2021 menjadi momentum yang tepat bagi pemerintah untuk mentransformasi sistem kesehatan di enam bidang pelayanan publik.

“Saya, bersama Presiden Joko Widodo, memilih jalan yang kedua. Jalan perubahan. Dengan mandat dari Presiden, Kementerian Kesehatan terus berproses untuk melaksanakan transformasi sistem kesehatan Indonesia,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Reformasi fundamental pada sistem kesehatan Indonesia meliputi enam pilar, pertama transformasi layanan primer, dengan memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, promosi kesehatan, membangun infrastruktur, melengkapi sarana, prasarana, dan SDM, serta memperkuat manajemen di layanan primer.

Baca Juga:  Dengan Bom, Apakah Menyempurnakan Islam Kita?

Transformasi berikutnya adalah layanan rujukan di fasilitas pelayanan kesehatan dengan meningkatkan akses serta mutu rumah sakit Indonesia, melalui program sister hospital dengan rumah sakit internasional, pengembangan Center of Excellence, sistem pengampuan rumah sakit hingga pendidikan dan penelitian.

Transformasi berikutnya menyasar sistem ketahanan kesehatan dengan mendorong kemandirian farmasi dan alat kesehatan dalam negeri, serta meningkatkan jejaring surveilans dan persiapan tenaga kesehatan cadangan dalam merespon ancaman krisis kesehatan.

Selaian itu, transformasi juga dilakukan Kemenkes pada sektor pembiayaan kesehatan dengan menata ulang pembiayaan dan manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) serta meningkatkan proporsi pembiayaan layanan promotif dan preventif melalui penambahan layanan skrining dasar bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kelima adalah transformasi SDM kesehatan dengan meningkatkan kuantitas, distribusi, dan kualitas tenaga kesehatan, melalui beasiswa, pemberdayaan diaspora kesehatan dan pertukaran tenaga profesional kesehatan dengan mitra internasional.

Terakhir adalah transformasi teknologi kesehatan, yang meliputi teknologi informasi dan bioteknologi. “Indonesia dikaruniai keanekaragaman hayati dan biodiversitas yang luar biasa. Di sisi Barat, flora dan fauna mengikuti biodiversitas Asia. Pada sisi Timur, Indonesja memiliki flora dan fauna yang berbasis genomik di Australia. Di tengah-tengahnya kita memiliki campuran dari keduanya,” katanya.

Keenam pilar itu diharapkan Menkes menjadi kompas bagi bangsa Indonesia menuju jalan perubahan. “Penunjuk arah bagi kita, di mana pun kita berada dan apa pun peran kita di dalam perjalanan ini, kita dapat bergerak ke satu tujuan yang sama, Indonesia sehat,” katanya.

Jalan perubahan ini mungkin berbatu, bergelombang, dan tidak mulus. Namun, pilihan yang kita ambil hari ini akan menentukan nasib bangsa di masa depan.

Tinggal, maukah kita menyingsingkan lengan baju, bergandengan tangan dan melangkahkan kaki untuk menempuh jalan perubahan?

Iklan
Iklan