Masyarakat harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang terjadi saat ini, mengingat posisi daratan Kota Banjarmasin yang sudah berada di bawah permukaan laut
BANJARMASIN, KP – Banjir rob yang menerjang Kota Banjarmasin dinilai sudah menjadi agenda rutin di setiap bulan. Bahkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat meminta warga untuk bisa terbiasa dengan fenomena alam tersebut.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Banjarmasin, Fahrurraji mengatakan, bahwa banjir rob yang diakibatkan oleh meluapnya Sungai Martapura tersebut sudah jadi ciri khas dari kota yang berjuluk sebagai Kota Seribu Sungai ini.
“Ini memang sudah jadi ciri khas kita (Kota Banjarmasin) sebagai wilayah pasang surut,” ucapnya saat ditemui awak media di lobi Balai Kota, Rabu (25/05) siang.
Karena itu, ia meminta masyarakat harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang terjadi saat ini. Mengingat posisi daratan Kota Banjarmasin yang sudah berada di bawah permukaan laut.
“Yang penting bagaimana kita menyikapi persoalan ini. Jangan panik, termasuk cara membangun sebuah bangunan, jangan asal didirikan misalnya dengan cara diurug,” tukasnya.
Ia membeberkan, luapan banjir rob ini hampir terjadi di setiap bulannya selama tahun 2022 ini. Dibulan ini saja misalnya, banjir rob kembali melanda hampir di semua kecamatan sejak tanggal 18 Mei 2022 dengan ketinggian air bervariasi.
Raji pun mengakui kondisi ini tentunya membuat warga tak nyaman. Bahkan aktivitas pun kerap terganggu, lantaran banjir rob meluas hingga ke tempat-tempat usaha.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin, Fahrurraji pun membenarkan kondisi tersebut.
“Hampir setiap bulan. Biasa pada saat awal, pertengahan atau akhir bulan hijriah,” ungkapnya.
Menurutnya, banjir rob sangat bergantung dengan pasang air laut yang terjadi pada saat bulan timbul dan purnama. Bukan terpengaruh oleh musim.
Ditambah lagi menurut Raji, kondisi Kota Banjarmasin yang memang berada dibawah permukaan laut. Sehingga jika terjadi pasang, maka air juga akan ikut naik ke daratan.
“Ini sesuatu yang rutin terjadi dan berulang. Musim kemarau pun bisa terjadi. Jadi lebih dipengaruhi oleh gravitasi bulan. Misalnya sekarang ini, kondisi bulan sedang dekat dengan bumi. Sehingga berpengaruh dengan air laut,” jelasnya.
“Memang ada kekhawatiran pasca banjir besar yang melanda Januari 2021 lalu. Jadi mereka mengira jika terjadi banjir rob, akan ada banjir besar lagi, tambahnya.
Raji menjelaskan, alasan mengapa banjir rob bisa lebih tinggi dari biasanya. Hal itu tidak lepas pengaruh dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito yang melewati Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
“Karena hulunya ada di Kalimantan Tengah, hilirnya di Kalimantan Selatan. Jika hujan di daerah hulu besar, maka akan berdampak turun ke sungai kita,” ungkapnya.
“Contohnya yang terjadi sekarang, ketinggian air di sungai Barito berkisar antara 2,5-3 meter. Di pintu air kita sekitar 130-140 sentimeter. Itu sudah menggenangi halaman Balai Kota,” sambungnya lagi.
Meski dianggap aman, pihaknya mengklaim terus melakukan monitoring ke lapangan setiap saat. Jika diperlukan evakuasi, maka petugas akan melakukan penyelamatan terhadap warga.
“Sesuai tupoksi, kita (BPBD Banjarmasin) tetap stand by 1×24 jam, jika memerlukan evakuasi alat dan petugas kita siap melayani,” tuntasnya.
Sementara itu, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina menyebut, bahwa banjir rob yang terjadi juga tidak lepas akibat terjadinya perubahan iklim.
“Siang-siang cerah tidak ada hujan lalu ‘calap’ atau genangan. Itu sesuatu yang sering terjadi di Banjarmasin,” ujarnya.
Ia mengatakan, bahwa pasang tertinggi itu kerap terjadi saat bulan purnama. Kondisi itu dianggapnya masih bisa dikendalikam, selama tidak berbarengan dengan curah hujan tinggi.
“Tidak terjadi setiap bulan sebetulnya. Pada saat bulan purnama biasanya terjadi pasang. Kalau bertemu dengan hujan tinggi itu biasanya yang menimbulkan banjir,” jelasnya.
“Program normalisasi sungai kecil dan sedang sudah banyak dikerjakan. Lelang pengerjaan selanjutnya juga sudah selesai. Mudah-mudahan bisa rampung sebelum tibanya musim hujan,” harap Ibnu.
“Sebetulnya itu sesuatu yang bisa dikendalikan kalau tidak dibarengi dengan curah hujan. Makanya fenomena ini sangat bergantung dengan fungsi drainase dan sungai,” tuntasnya. (Kin/K-3)















