Intelektual Idap Islamofobia

Oleh : Siti Rahmah, S.Pd
Pemerhati Sosial Keagamaan

Postingan Prof Budi Santoso memicu kontroversi, tulisan tersebut dipermasalahkan netizen lantaran di anggap mengandung unsur SARA. Dalam postingan itu, Prof Budi menulis mengenai alat penutup kepala (hijab) seperti ala manusia gurun. Berikut status Facebook yang ditulis oleh Prof Budi Santoso Purwokartiko dengan menyebut mahasisiwa menutup kepala ala manusia gurun.

Founder of Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi turut prihatin dengan tulisan yang dibuat Rektor ITK Balikpapan, Prof Budi Santosa Purwokartiko. Ismail menilai tulisna tersebut bisa masuk kategori rasis dan xenophobic.

Memiliki gelar akademis yang tinggi tidak lantas menjadi tolok ukur taraf berpikir seseorang. Sebagaimana kabar yang sempat viral beberapa waktu lalu. Seorang profesor dari perguruan tinggi ternama mengeluarkan pernyataan yang dinilai rasis oleh netizen. Siapa pun yang membacanya pasti merasa kecewa karena perkataan itu keluar dari mulut seorang guru besar.

Rektor Institut di Kalimantan itu menyebut bahwa kehidupan sesudah mati, qadarallah, insyaallah serta barakallah sebagai masalah langit. Sedangkan cita-cita dan usaha sebagai masalah bumi. Bahkan menggunakan istilah penutup kepala manusia gurun untuk mengganti kata hijab. Pernyataannya membuat kita memahami sampai di mana pandangannya tentang Islam (1/05/22).

Paham sekularisme mengajarkan manusia untuk percaya dan yakin akan kemampuannya. Mereka bisa hidup nyaman dan mengatur kehidupannya sendiri tanpa campur tangan agama. Pandangan ini masuk melalui sistem pendidikan di seluruh negeri, bahkan negeri muslim.

Alhasil, orang berpendidikan dan memiliki pangkat akademis tinggi saja sudah cukup. Mereka tidak memerlukan agama sebagai penuntunnya. Itulah sebab, tidak heran jika ada intelektual negeri ini menganggap Islam hanya agama langit, yang tidak bisa disatukan dengan kehidupan bumi.

Melihat latar pendidikan guru besar tersebut yang merupakan tamatan universitas di Amerika Serikat (AS), memperlihatkan bahwa cara pandangnya mengikuti pola pendidikan sistem kapitalis, di mana AS dikenal sebagai negara pengusung kapitalisme dunia. Negara ini berhasil mengekspor sekularisme ke seluruh pelosok bumi, termasuk Indonesia.

Kebencian atau ketidaksukaan dengan Islam ini menegaskan bahwa ia kemungkinan sudah terjangkiti virus islamofobia. Sebagaimana kita tahu, saat ini isu negatif tentang Islam sedang ramai digaungkan oleh orang-orang yang memusuhinya. Tujuannya tidak lain untuk menjauhkan umat dari Islam itu sendiri, serta membuat nonmuslim juga benci terhadap agama ini.

Pandangan yang nyeleneh tersebut juga merupakan akibat dari diterapkannya kebebasan berpendapat. Sebuah kebebasan yang membolehkan seseorang menyampaikan sesuatu tanpa memperhatikan rambu-rambu. Kebebasan berpendapat ini diambil oleh demokrasi sebagai salah satu dari empat kebebasan yang diagungkan.

Berita Lainnya

Polemik Vaksin Booster Bagi Para Pemudik

Perubahan Iklim Ubah Perilaku Masyarakat

1 dari 512
loading...

Istilah “islamofobia” pertama kali diperkenalkan sebagai suatu konsep dalam sebuah laporan Rummymade Trust Report pada 1991. Istilah ini diciptakan dalam konteks umat Islam Inggris khususnya dan Eropa umumnya, dan dirumuskan berdasarkan kerangka xenofobia (ketakutan dan kebencian terhadap orang asing) yang lebih luas.

Munculnya islamofobia di Barat tidak bisa terpisahkan dari nilai-nilai sekuler yang mengakar kuat. Kelahiran sekularisme berawal dari konflik agama yang memicu perang 30 tahun (1618—1648) di Eropa, antara negara-negara Katolik dan Protestan.

Perang tersebut menjadi salah satu peperangan terpanjang dan paling brutal dalam sejarah. Pasalnya, lebih dari delapan juta orang menjadi korban akibat pertempuran militer, kelaparan, dan penyakit selama perang berlangsung. Hasilnya, perang itu mengubah wajah geopolitik Eropa dan peran agama dalam kehidupan masyarakatnya.

Trauma akibat berbagai Perang Agama pada masa lalu menginspirasi lahirnya “mitos kekerasan agama”. Orang Eropa menyimpulkan bahwa kefanatikan selalu melekat dalam agama dan hanya bisa dibendung dengan menciptakan negara liberal yang memisahkan agama dari politik. Semangat fanatik—yang menurut orang Eropa intoleran—dipandang selalu dipicu oleh agama. Oleh karenanya, agama harus dijauhkan dari kehidupan politik.

Pemisahan agama dari kehidupan politik pun melahirkan residu kekhawatiran yang memuncak menjadi ketakutan (fobia). Fobia ini makin besar saat Eropa dibanjiri imigran dan pengungsi dari dunia Islam.

Komunitas muslim menuntut secara alami eksistensi identitas dan budaya mereka. Mereka mulai menjalankan beberapa aturan syariat dalam kehidupan. Hal ini mengusik tatanan liberal negara-negara Barat dan mendorong kuat kebencian akan Islam (islamofobia).

Selama 13 abad Islam berhasil memimpin dunia. Dalam kurun waktu itu, Islam dengan aturannya yang sempurna berhasil melahirkan intelektual berkualitas. Bukan hanya jago dalam masalah ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga jago dalam ilmu agama.

Contohnya Al Farabi, seorang cendikiawan ahli filsafat. Selain itu, ilmuwan ini juga menguasai berbagai cabang ilmu, diantaranya logika, fisika, ilmu alam, kedokteran, kimia, ilmu perkotaan, ilmu lingkungan, fikih, ilmu militer, sampai musik. Selain al Farabi, masih banyak ilmuwan lain seperti Jabir Ibn Hayyan, Avicena, Al Khawarizmi, dll.

Mereka semua lahir dari sistem Islam, yang memiliki aturan sempurna, yang menyandarkan akidahnya pada Islam, bukan yang lain. Sistem pendidikan Islam memiliki tujuan membentuk pribadi yang ber-syakhsiyah Islam. Mereka memiliki pola pikir Islam dan pola sikap Islam. Semua pemikiran dan aktivitasnya mengikuti cara pandang Islam. Senantiasa merasa lemah tanpa bantuan Allah SWT.

Sistem pendidikan Islam ini hanya akan berjalan dengan bantuan sistem lainnya. Seperti sistem pemerintahan Islam, ekonomi Islam, pergaulan hingga sistem sanksi. Semuanya itu diterapkan dalam satu naungan, yaitu negara Islam, Khilafah Islamiyyah. Jadi, kalau ingin memiliki intelektual yang tangguh, cerdas, tangkas, taat, dan cinta Islam hanya sistem Islam solusinya. Wallahualam.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya