Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Tantangan UMKM Naik Kelas

×

Tantangan UMKM Naik Kelas

Sebarkan artikel ini

Editorial Kalimantan Post, 10 Agustus 2026

PENGHARGAAN gelar “Bunda QRIS Kalimantan Selatan” kepada Ketua Dekranasda Kalsel Hj Fathul Jannah Muhidin dalam penutupan Pamor Borneo 2026 patut dimaknai lebih dari sekadar penghargaan seremonial.

Gelar tersebut membawa pesan penting: digitalisasi ekonomi harus semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi daerah.

Kalimantan Post

Pamor Borneo telah menunjukkan potensi besar. Puluhan Letter of Interest investasi, ribuan transaksi bisnis, serta promosi produk UMKM dan pariwisata menjadi bukti bahwa Kalsel memiliki sumber daya ekonomi yang layak diperhitungkan.

Namun, tantangan sesungguhnya justru muncul setelah pameran dan seremoni berakhir. Jangan sampai transaksi berhenti sebagai angka laporan, LoI berhenti sebagai dokumen, sementara pelaku UMKM kembali menghadapi persoalan klasik: modal terbatas, kualitas produk belum seragam, pemasaran sempit dan kemampuan digital yang belum merata.

Di sinilah momentum “Bunda QRIS” harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata.

QRIS bukan sekadar alat menerima pembayaran. Bagi UMKM, transaksi digital seharusnya menjadi pintu masuk menuju pengelolaan usaha yang lebih modern. Data transaksi dapat membantu pelaku usaha memahami pola penjualan, menyusun pembukuan dan membangun rekam jejak usaha yang lebih baik.

Karena itu, pemerintah daerah bersama BI, perbankan dan dunia usaha perlu membuat program pendampingan yang berkelanjutan. Bukan sekadar mengajak pedagang memasang QRIS, tetapi juga mengajarkan literasi keuangan, pencatatan digital, pemasaran melalui media sosial, fotografi produk, hingga pengemasan yang mampu menembus pasar lebih luas.

Sasirangan juga harus mendapat perhatian khusus. Pelestarian wastra jangan berhenti pada parade busana. Sasirangan harus didorong menjadi industri kreatif yang memberikan penghasilan layak bagi perajin dan pelaku UMKM.

Caranya, antara lain dengan memperkuat kurasi produk, desain, standardisasi kualitas, perlindungan merek, pemasaran digital dan membuka akses pasar melalui hotel, pusat perbelanjaan, perkantoran serta pasar ekspor.

Baca Juga :  Warisan Imam Bukhari Jembatan Spiritual Pemersatu Dua Bangsa

Pamor Borneo telah membuka pintu. Tugas berikutnya adalah memastikan pintu itu benar-benar dilewati pelaku usaha Banua.

Kolaborasi “the power of we” harus diwujudkan dalam target yang terukur: berapa UMKM naik kelas, berapa yang mampu menembus pasar luar daerah, berapa transaksi digital yang bertambah, dan berapa tenaga kerja baru yang tercipta.

Dengan demikian, gelar “Bunda QRIS” tidak berhenti sebagai simbol, tetapi menjadi energi perubahan. Digitalisasi, UMKM dan sasirangan harus bergerak dalam satu ekosistem ekonomi yang saling menguatkan.

Banua membutuhkan lebih dari sekadar pameran. Banua membutuhkan kesinambungan, pendampingan dan keberanian mengubah peluang menjadi kesejahteraan.

Iklan
Iklan