Mampukah, UIN Antasari Mendirikan Fakultas Kedokteran ?
(Momentum Dies Natalis ke-58)

Oleh : Amal Fathullah
Mahasiswa Program S3 UIN Antasari Banjarmasin

Dies Natalis Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin pada 20 November 2022, bertepatan dengan Ahad, 25 Rabiul Akhir 1444 Hijiriyah. Ditetapkannya, Dies Natalis pada 20 November 1964, berdasarkan Kepmenag Nomor 89 tahun 1964, diresmikannya pembukaan IAIN Al Jami’ah Antasari yang berkedudukan di Banjarmasin dengan Rektor Pertama Zafry Zamzam. Kemudian pada 3 April 2017, IAIN Antasari beralih status menjadi UIN Antasari, melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 2017, dengan Rektor UIN Antasari pertama Prof DR H Akhmad Fauzi Aseri, MA, kemudian dilanjutkan Rektor saat ini, Prof DR H Mujiburrahman, MA.

Pada usia ke-58 ini, ada pertanyaan yang muncul, mampukah kampus ini merealisasikan mimpi-mimpi indahnya, diantaranya penambahan prodi baru, bahkan mampu mendirikan Fakultas Kedokteran, seperti beberapa UIN lainnya di tanah air. Ini sebuah pertanyaan besar sekaligus tantangan, yang harus dijawab dengan kerja keras, melalui semboyan pantang manyarah, waja sampai kaputing oleh petinggi kampus. Terlebih momen Dies Natalis ini berdekatan dengan Hari Pahlawan 10 November. Apalagi UIN Antasari mengunakan nama tokoh pejuang Kalimantan yang dikenal dengan keberanian dan semangatnya melawan kaum penjajah, kolonial Belanda, yakni Pangeran Antasari. Haram manyarah, itu merupakan pernyataan Pangeran Antasari yang jadi pelopor perang Banjar pada 28 April 1859.

Rektor Pertama

Siapakah Zafri Zamzam, yang sempat menjadi Rektor IAIN pertama dari 1964 hingga 1972 ini? Beberapa referensi dan jejakrekam.com, sejarah hidup Zafri Zamzam tercatat pada 1948 menjadi Anggota Dewan Daerah Banjar. Bahkan menjadi Ketua PWI pertama di Kalsel. Namun seiring berjalan waktu, tahun 1940 dan 1953 ditugaskan sebagai Kepala Jawatan Penerangan Daerah Hulu Sungai, menjadi anggota BPD dan kemudian anggota DPR Kabupaten HSS. Pada tahun 1954 dan 1963 menjadi anggota DPRDS Kabupaten HSS, juga sempat menjadi MPRS di Jakarta.

Dies Natalis, dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah hari ulang tahun berdirinya suatu lembaga pendidikan tinggi. Dies Natalis ini sudah menyangkut momentum bersejarah. Kata pepatah lama, ada tiga hari yang paling bersejarah di dunia ini. Pertama, Hari kelahiran, Kedua Hari Perkawinan dan ketiga Hari Kematian. Namun lebih bersejarah lagi, jika pada momentum ini, UIN Antasari mendeklarasikan gagasan berdirinya sebuah prodi baru, atau Fakultas favorit, diantaranya Fakultas Kedokteran.

Sejumlah pimpinan perguruan tinggi dan beberapa rektor sudah menyampaikan ucapan selamat pada Dies Natalis ke-58, diantaranya IAIN SAS, Syaikh Abdurahman Siddik, Bangka, Belitung, Dr Irawan, M.Si melalui kanal youtobe. Rektor beserta civitas akademika IAIN, Dr Danila, M.Ag Lhokseumawe dan sejumlah pimpinan dan lembaga lainnya. Ada juga disampaikan melalui Instagram, kanal yautobe, maupun whatsApp, atau sejenisnya. Bahkan Humas UIN Antasari dalam memeriahkan Dies Natalis ini membuat twibbon, untuk akses dan diisi. Twibbon dapat dibuka pada link https://twb.nz/diesnatalis58uinantasari.

Bahkan, kalangan eksternal maupun internal kampus, akademisi, pemerhati dunia pendidikan, juga menyampaikan upacan selamat dan sukses, melalui berbagai sarana lainnya, seperti medsos. Berbagai harapan, ungkapan dan tanggapan serta perasaan, bahkan bernada ada curhat. Termasuk diantaranya upaya merealisasikan dibukanya prodi baru hingga lahirnya fakultas-fakultas baru, diantaranya Fakultas Kedokteran.

Fungsional Humas UIN Antasari Banjarmasin, Ali mengungkapkan Dies Natalis tahun ini dilaksanakan secara sederhana. Namun diharapkan tetap semarak, karena masih dalam suasana wisuda yang dijadualkan pada 23 November. Pada momentum ini akan diserahkan beberapa penghargaan kepada civitas akademika berprestasi, khususnya mahasiswa yang berhasil meraih juara pada MTQ Nasional ke-29 lalu.

Fakultas Kedokteran?

Berita Lainnya
1 dari 703
loading...

Momen Dies Natalis ke-58 diwarnai pertanyaan, mampukah kampus Islam negeri tertua di Kalimantan ini, yang pernah mempunyai cabang Fakultas Tarbiyah di Palangka Raya, Kalteng, bertransformasi menjadi UIN dan Samarinda Kaltim menjadi UIN Sultan Aji Muhammad Idris, dengan Rektor Prof Dr H Mukhamad Ilyasin, M.Pd. Obsesi ini, bukan tanpa alasan, karena UIN lainnya, yang bertransformasi seperti UIN Syarif Hidayatullah DKI Jakarta, UIN Maulana Malik Iberahim, Malang, Jawa Timur, UIN Alauddin, Makasar, di Sulawesi Selatan, setelah menjadi UIN, maka mimpi indah tersebut menjadi kenyataan, yaitu terbangunnya prodi baru dan lahirnya Fakultas Kedokteran.

Bagaimana dengan UIN Antasari? Mungkin jawabanya sangat beragam, seperti belum waktunya, serta sejumlah persoalan klasik lainnya, atau bahkan impossible. Namun terlepas dari semua itu, kalau UIN lain bisa, kenapa UIN Antasari tidak?

UIN Antasari dengan moto “Sebagai Pusat Peradaban Ilmu Berbasis Lokal, Berwawasan Global” dengan visi “Unggul dan Berakhlak” ini, tentu diharapkan membawa iklim kampus yang lebih baik dan berkualitas. Kalsel terkenal dengan jumlah madrasah dan pondok pesantren, santrinya cukup besar juga cerdas, bahkan banyak hafal Al Qur’an, tidak kalah bersaing dengan provinsi lain. Terlebih sekarang, ada MAN IC di Kabupaten Tanah Laut, dengan prestasinya sampai ke tingkat nasional. Bahkan pondok pesantren di Kalsel sudah terverifikasi, ada 15 daftar pondok pesantren terbaik di Kalsel versi Infopesantren.com.

Bangun Fakultas Kedokteran

Beberapa IAIN yang bertransformasi menjadi UIN, membuktikan kemampuannya membangun Fakultas Kedokteran ini. Misalnya Fakultas kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sudah memiliki akreditasi B sejak 2013. Pembentukan fakultas ini 12 Maret 2004 dan diresmikan atas dasar Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional RI (Dirjen Dikti) Nomor 1356/D/T/2005 tertanggal 10 Mei 2005 dan Dirjen Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI Nomor DJII/123/2005 tertanggal 17 Mei 2005 dengan program Studi Pendidikan Dokter, Kesehatan Masyarakat, Farmasi, dan Ilmu Keperawatan.

Kemudian, Fakultas Kedokteran UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang dibuka sejak 2016 berdasarkan keputusan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Nomor 126/KPT/I/2016. UIN Alauddin Makasar diresmikan tahun 2015 dan mulai menerima mahasiswa baru tahun 2016 melalui jalur SMPTN, jalur mandiri, dan jalur afirmasi. Jalur afirmasi merupakan jalur pemihakan bagi kaum dhuafa dan para hafidz Quran, untuk dapat mengenyam pendidikan kedokteran secara gratis. 

Apalagi, pasca Kemenristekdikti telah mencabut moratorium izin pendirian fakultas kedokteran (FK) yang diberlakukan sejak Juni 2017. UIN sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berada di bawah Kementerian Agama ada beberapa UIN telah menyatakan kesiapannya menambah fakultas kedokteran. Tiga pimpinan UIN menyampaikan sebelumnya, punya keinginan untuk membuka fakultas kedokteran saat bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Selasa (31/10). Ketiga UIN tersebut adalah UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Raden Fatah Palembang, dan UIN Syarif Kasim Riau. Keinginan ini juga didukung oleh anggota Komisi X DPR RI mengatakan UIN boleh saja membuka fakultas kedokteran selama memenuhi seluruh persyaratan dan kualifikasi yang dibutuhkan. kata Dadang Rusdiana seperti diberitakan  Republika, Rabu beberapa waktu lalu.

Kampus II

Sejak diresmikan Menteri Agama, KH Syaifuddin Zuhri pada 20 November, IAIN Antasari berkedudukan di Banjarmasin. Maka tahun ini, UIN Antasari berusia lebih dari setengah abad dan beralih status menjadi UIN Antasari oleh Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, telah memiliki dua kampus besar, di Jl A Yani Km 4.5 Kebun Bunga, Kecamatan Banjarmasin Timur dan Kampus II, Jalan Kemuning, Kecamatan Banjarbaru Selatan.

Kampus II yang berada di Kota Banjarbaru berdiri cukup megah dan luas, tidak kurang dari sepuluh bangunan berlantai tiga dengan gaya modern, yang dilengkapi tangga berjalan otomatis dan lift. Kampus 2 dibangun dari dana SBSN tersebut sudah dipergunakan untuk wisuda dan perkulihan tahun akademik 2022/2023. Kampus ini memiliki lima fakultas, yakni Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Fakultas Syariah dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, serta Program Pascasarjana.

Rektor UIN Antasari, Prof Dr H Mujiburrahman, MA dalam kata pengantar buku “Rencana Strategis UIN Antasari”, berisi Rencana Induk Pengembangan UIN Antasari 2017-2039. Maka Rencana Strategis 2020-2024 ini merupakan Tahap Pengembangan, dengan dilaksanakan pembangunan infrastruktur Kampus II, pembukaan prodi-prodi baru dan fakultas baru. Pada tahap ini pula dilaksanakan pemantapan pelaksanaan empat pilar filosofi keilmuan dalam kegiatan yang berskala nasional dan internasional tingkat Asia Tenggara. Selamat dan sukses Dies Natalis UIN Antasari yang ke-58.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya