Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Berkah Wali & Persatuan Umat

×

Berkah Wali & Persatuan Umat

Sebarkan artikel ini

Oleh : Salasiah, S.Pd
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Syekh Muhammad Saleh Al-Munajjid About Islam, Kamis (26/1/2023,) menjelaskan keutamaan bulan Rajab adalah salah satu bulan suci yang difirmankan Allah dalam Al Qur’an.

Kalimantan Post

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (QS. At Taubat : 36).

Bulan-bulan yang diharamkan yang dimaksud surah Al-Maidah ayat 36 tersebut adalah Rajab, Dzul-Qidah, Dzul-Hijjah, dan Muharram. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Satu tahun adalah dua belas bulan, empat di antaranya haram: tiga bulan berturut-turut, Dzul-Qidah, Dhul-Hijjah dan Muharram, dan Rajab Mudar yang datang antara Jumadil dan Syaban”. (Al-Bukhari dan Muslim).

Pelanggaran batas-batas suci didalamnya lebih buruk daripada waktu lainnya. Bulan-bulan ini suci karena dua alasan, yakni dilarang berperang di dalamnya kecuali diprakarsai oleh musuh. Meskipun melakukan dosa dilarang selama bulan-bulan ini dan di waktu lain, itu lebih dilarang di bulan-bulan ini.

Ibnu ’Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak”. (Latho-if Al Ma’arif, 207). Bulan Rajab termasuk ke dalam empat bulan yang dimaksudkan (muslim.or.id).

Diriwayatkan, “Apabila Rasulullah SAW memasuki bulan Rajab, maka beliau berdo’a, “Ya, Allah berkahilah kami di bulan Rajab (ini) dan (juga) Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan”. (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik).

Baca Juga :  Pajak Naik, UMKM?

Ahmad al-Banna dalam Blugh al-Amani berkata, “Doa Nabi untuk barokah (berkah Allah) dalam tiga bulan ini menunjukkan posisi mereka yang tinggi dan pahala yang besar”.

Banyak peristiwa penting terjadi di bulan Rajab. Seperti mengandungnya Sayyidah Aminah, Isra Mi’raj dan perubahan kiblat, turunnya perintah sholat lima waktu, hingga runtuhnya Kesultanan Turki Utsmani.

Pada 3 Maret 1924 Masehi, bertepatan 28 Rajab 1342 H adalah keruntuhan benteng terakhir pertahanan umat Islam oleh Mustafa Kemal Ataturk. Keruntuhan Kesultanan Turki Utsmani bermuara dari kelemahan pemikiran kaum muslim. Dimulai ketika mereka menerima dan memasukkan pemahaman sekuler ke dalam pemahaman Islam.

Sejak masuknya faham sekuler, aturan-aturan syariat mulai sedikit demi sedikit dihapuskan dalam aturan negara dan sosial kemasyarakatan. Karena pendukung sekularisme membenci pengaruh agama dalam politik dan kehidupan pribadi.

Pada 2 Maret 1924, Kemal mendorong beberapa Rancangan Undang-Undang (RUU) melalui parlemen baru. Yakni, mengakhiri kode hukum berdasarkan agama, membentuk satu sistem pendidikan umum sehingga mengakhiri sekolah-sekolah agama dan menghapuskan sistem kekhalifahan. Perubahan tersebut ditantang ulama Islam. Namun, beberapa diantaranya dapat disahkan dengan mudah (Khazanah,19 Okt 2021).

Bagi perempuan, Kemal melarang pemakaian jilbab, mengakhiri poligami, dan mewajibkan pernikahan sipil. Aturan pergaulan tidak lagi terjaga, pergaulan menjadi bebas. Alkohol dan minuman keras menjadi minuman jamuan umum sebagaimana kebiasaan bangsa Eropa.

Sejak runtuhnya Daulah Islamiyah di Turki. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin pun menjadi bergeser. Umat akhirnya lebih banyak menjadi pembebek arahan dari organisasi dunia yang menjadikan umat Islam sebagai pasar bisnis kapital dunia. Kesadaran untuk bangkit dengan kemulian Islam harus kembali dibangun dan disadarkan di hati kaum muslim.

Kesadaran menyambut berkah kemulian Rajab, Kalimantan Selatan mewarnainya dengan haulan bertaraf internasional untuk mendulang berkah wali. Sejak wafatnya Guru Sekumpul pada 2005, kaum muslimin Kalsel hingga luar daerah tumpah ruah di bumi serambi Mekkah hingga Kota Banjarbaru untuk memperingati Haul Guru Sekumpul.

Baca Juga :  UU PPRT: Antara Harapan Perlindungan Dan Tantangan Kesejahteraan Perempuan

Mereka rela berkorban demi kecintaan kepada ulama besar asal Martapura, KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau akrab disapa Abah Guru Sekumpul. Berharap kegiatan ini menjadi berkah bersama dalam persatuan kaum muslim di bumi Serambi Mekkah sebagai awal meraih kebangkitan Islam

Kaum muslimin harus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT di bulan Rajab ini, persiapan menuju bulan latihan, ampunan dan limpahan Rahmat (Ramadhan) sekaligus meraih kembali kemulian Islam. Sebagaimana dimuliakannya Baitul Maqdis oleh Sholahudin Al Ayubi pada 27 Rajab 583 H atau 2 Oktober 1187 M. Insya Allah berkah wali membersamai. Wallahu’alam bishshawab.

Iklan
Iklan