Muara Teweh, KP – Masa SMA merupakan masa yang paling indah, meski hanya tiga tahun bersama namun kebersamaan tersebut banyak meninggalkan kesan dan ribuan kenangan. Kerinduan pasti ada, setelah sekian lama berpisah dengan teman-teman SMA, terlebih ingin memberikan suatu kontribusi.
Mungkin hal itulah yang menyeret hati alumni SMA Persiapan I Muara Lahei, Kecamatan Lahei, Kabupaten Barito Utara (Barut) untuk melaksanakan Forum Silaturahmi, Minggu (7/5) di Cafe Tarera Muara Teweh.
Adapun kegiatan tersebut dihadiri mantan Kepala Sekolah SMA Persiapan I Muara Lahei dan mantan guru yakni Junaidi Aspar dan Zainal Arifin serta puluhan alumni angkatan pertama yaitu angkatan 90-an.
Muliadi yang didampingi Rodi Hartono dan Samiyah selaku Ketua Panitia dan penggagas kegiatan ini menjelaskan bahwa, dilaksanakannya forum silaturrahmi ini dimaksudkan sebagai wahana para-para alumni angkatan 90-an untuk bisa merajut kembali tali silaturahmi, temu kangen dan bertukar pengalaman setelah sekian tahun berpisah dan berkecimpung pada kegiatan masing-masing.
Menurutnya, pahit manis yang dikenang masa sekolah dulu masih tersimpan dalam memori kepala ini, karena perjuangan seorang guru dengan sabarnya mendidik alumni pertama ini.
Alam reuni ini, alumni bisa mengenang masa-masa indah dulu berseragam putih-abu. Mulai dari pertemanan, percintaan semasa muda hingga masa-masa kenakalan hingga dihukum oleh guru.
Ataukah perjuangan bagaimana dulu selain belajar di pagi hari dan di sore hari kita sekolah lagi bawa cangkul dan parang untuk meratakan tanah serta meratakan rumput disekitaran sekolah.
“Saya dan teman-teman angkatan tahun 90-an dulu rela masuk pagi dan sore agar SMA Persiapan I Muara Lahei ini bisa berdiri kokoh dan dikenal masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Mantan Kepala Sekolah SMA Persiapan I Muara Lahei Ibrahim. D. Garang mengatakan perjuangan guru dan anak didik ini sama-sama berjuang dari nol, oleh karena itu marilah kita sama-sama memajukan sekolah yang ada sekarang ini jangan sampai perjuangan pertama dulu hilang dan padam.
Dijelaskannya, selama kita berjuang ingat kalau sehari tidak turun, maka dikenakan sansi untuk mengerjakan atau melakukan pembuatan pagar sekolah dan sansi lainnya.
“Selama 34 tahun ini sudah meluluskan kurang lebih sebanyak 500 anak didik, hingga saat ini sudah ada menjadi pejabat baik di pemerintahan daerah maupun aparat di perdesaan,” pungkasnya. (asa/K-10)















