Kota “Baiman” Seakan Tercoreng Geng Motor

Selama ini Banjarmasin diklaim sebagai kota baiman , bahkan sudah mendeklarasikan sebagai kota kreatif.

BANJARMASIN, KP – Fenomena geng motor atau sejenisnya dari sekelompok remaja yang melakoni aksi kejahatan jalanan, mempertaruhkan nama baik Kota Banjarmasin.

“Selama ini Banjarmasin diklaim sebagai kota baiman (beriman), bahkan sudah mendeklarasikan diri sebagai kota kreatif,” kata Antropolog ULM yang juga dosen Program Studi Pendidikan Sosiologi FKIP ULM, Nasrullah.

Ia katakan, jika tidak diberikan tindakan tegas keberadaan geng motor seperti ini akan muncul lagi dan bisa melakukan aksi-aksi kejahatan yang sangat berbahaya seperti merampas hak orang, mabuk-mabukan, prostitusi dan prilaku patologi sosial lainnya.

“Munculnya fenomena diduga geng motor, gangster atau sejenisnya akan mencoreng predikat itu atau malah paradoks,” ucapnya, Selasa (24/10).

Menurutnya, fenomena aksi pembegalan hingga tawuran antar kelompok remaja tanggung serta kejahatan jalanan merupakan ranah hukum karena sudah terakomodir dalam peraturan perundang-undangan.

“Ironisnya, justru aksi mereka yang disiarkan secara live atau langsung melalui media sosial (medsos) merupakan bentuk pelecehan dan meremehkan hukum. Termasuk pula norma dan nilai-nilai yang selama ini dipegang masyarakat Banjarmasin, terlebih lagi dengan slogan baiman itu,” katanya.

“Penekanan sosial patut diberikan kepada para pelaku, sehingga tercipta efek jera, jangan sampai dibiarkan dan membuat mereka justru bangga dengan aksi kejahatan,” ujarnya.

Menurut Nasrullah, efek jera itu bisa seperti mempublikasikan para pelaku seraya menjelaskan konsekuensinya dari perbuatan melawan hukum, terlebih lagi mempertontonkan hal itu di ruang publik melalui medsos.

Berita Lainnya
1 dari 3,070

Tumpas

Sememtara menanggapi tersebut, pengamat publik Dr Taufik Arbain, juga sangat menyayangkan Taufik berharap pihak kepolisian bisa menumpas para pelaku hingga sampai ke akarnya.
“Sejauh ini langkah cepat dilakukan pihak Kepolisian patut diapresiasi. Bahkan sejumlah pelaku sudah diamankan,” katanya.

Dosen Fisip ULM ini juga menjelaskan ada sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi anak muda tersebut dalam teori sosiologis adanya sikap ingroup, dimana seseorang yang lemah berada dalam komunal yang banyak maka dia akan merasa kuat.

Menurutnya, prilaku imitation (peniruan) dari kelompok remaja dan anak muda sangat cepat terkonsolidasi.

Taufin kemudian merasa perlu adanya penyaluran prilaku tersebut pada hal positif.

Sebab tidak sedikit para geng motor/komunal tersalur ke arah yang positif dengan melakukan aksi sosial, wisata dan lainnya.

Namun, lanjutnya, jika tidak ada penyaluran dan bahkan terbangun dari lingkungan buruk, aksi balapan liar hinga ugal-ugalan dalam berkendara sangat berpotensi menjadi geng motor yang mengganggu ketertiban umum, apalagi merasa tidak ada yang membatasi.

Dosen Fisif ULM ini kemudian berharap gejala gejala menuju geng motor tersebut harus terus dipantau seperti komunal balapan, komunal minuman keras dan lainnya.

“Kalau yang ugal-ugalan hingga menggangu ketertiban masyarakat perlu juga diberikan “shock therapy”.

Sebab jika tidak diberikan tindakan tegas keberadaan geng motor seperti ini akan muncul lagi dan bisa melakukan aksi-aksi kejahatan yang sangat berbahaya seperti merampas hak orang, mabuk-mabukan, prostitusi dan prilaku patologi sosial lainnya,” pungkasnya.(fin/net/K-2)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya