Iklan
Iklan
Iklan
HUKUM & PERISTIWA

Kejari Tapin Hentikan Penuntutan Perkara Tindak Pidana Pencurian Berdasarkan Keadilan Restoratif

×

Kejari Tapin Hentikan Penuntutan Perkara Tindak Pidana Pencurian Berdasarkan Keadilan Restoratif

Sebarkan artikel ini
Kajari Tapin Adi Fakhrudin melepaskan borgol terhadap terdakwa Muhammad Syamsudin atas dihentikannya kasus tindak pidana pencurian berdasarkan keadilan Restorative justice (RJ). (Kalimantanpost.com/abd)

RANTAU, Kalimantanpost.com – Kejaksaan Negeri Tapin kembali menghentikan penuntutan berdasarkan keadilan restoratif atau restorative justice atas perkara tindak pidana pencurian bertempat Kantor Kejaksaan Negeri Tapin, Rabu (8/5/2024).

Penghentian penuntutan atas nama tersangka Muhammad Syamsudin (39) Warga Kecamatan Bungur dengan korban Rahmadi (23) Warga Kecamatan Tapin Utara atas perkara tindak pidana pencurian sebagaimana diatur dalam Pasal 480 Ayat (1) KUHPidana.

Kepala kejaksaan negeri Tapin Adi Fakhrudin menjelaskan, pertimbangan dilakukannya Penghentian Penuntutan berdasarkan Keadilan Restorative Justice sesuai dengan PERJA No.15 Tahun 2020.

“Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restorative oleh Kejaksaan Negeri Tapin dengan kerangka berfikir antara lain dengan mempertimbangkan, semua pengecualian tersebut didasarkan kepada kriteria/ keadaan yang bersifat kasuistik yang menurut pertimbangan Penuntut Umum dan persetujuan Kepala Kejaksaan Negeri Tapin dapat dilakukan penghentian perkara berdasarkan keadilan restoratif.” “jelasnya.

Disamping itu pula penghentian penunututan berdasarkan Keadilan Restorative bahwa tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana, kemudian
Tindak pidana hanya diancam dengan pidana denda atau diancam dengan pidana penjara tidak lebih dari 5 (lima) tahun dan
Tindak pidana dilakukan dengan nilai barang bukti atau nilai kerugian yang ditimbulkan akibat dari tindak pidana tidak lebih dari Rp.2.500.000,-.

“Korban dan tersangka saling memaafkan dengan disertai surat kesepakatan damai tanpa syarat,” katanya.

Adapun kronologi kasus pencurian berawal ketika terdakwa Muhammad Syamsudin (39) sedang berada di warung Houling Desa Paring Guling hari Jumat ditahun 2024

Terdakwa Syamsuddin didatangi saksi Sahdi dan Lanidalam berkara perkara terpisah di Pondok tempat tinggal terdakwa yang tidak jauh dari warung.

Sesampainya di pondok, diperlihatkan Sahdi barang berupa satu buah kontroler panel alat Exavator merk Hitachi Zaxxis 210 MF dan satu buah kontrol unit alat Exavator merk Hitachi Zaxxis 210 MF, kepada Syamsuddin. Sahdi (terdakwa dalam perkara terpisah) meminta kepada Syamsuddin yang baru pertama kali dimintai tolong untuk menjualkan besi, karena terdakwa merupakan seorang pekebun yang tidak memiliki pengalaman dalam hal jual beli besi bekas.

Baca Juga:  Sidang Pembunuhan di Komplek Taekwondo Dituntut 14 Tahun Penjara, Terdakwa Minta Keringanan

Dengan dijanjikan jika barang tersebut berhasil terjual, hasilnya di bagi tiga secara merata, setelah barang tersebut di serahkan.

Namun belum sempat terjual, terdakwa Syamsuddin keburu diamankan pihak aparat kepolisian, untuk dimintai keterangan mengenai bagian alat berat yang telah dicuri.

Namun Syamsuddin menjawab bahwa, barang tersebut benar adanya di tempatnya tetapi barang tersebut milik Lani dan saksi Sahdi yang mana kedua saksi tersebut minta tolong untuk menjualkan barang yang dimaksud melalui tersangka Muhammad Syamsudin.

“Berdasarkan tahapan yang kami lakukan dan pertimbangan yang kami sampaikan, kami selaku jaksa penuntut umum dan fasilitator telah melakukan mediasi serta kami berpendapat bahwa perkara ini layak untuk dihentikan penuntutannya berdasarkan keadilan Restorative justice. Namun, demikian kami tetap patuh dan taat pada sesuai dengan petunjuk serta kebijakan pimpinan, “tutupnya.

Turut hadir dalam pelepasan borgol dan rompi tahanan dan penyerahan surat keputusan penghentian penuntutan atas kasus perkara tindak pidana pencurian, Camat Tapin Utara Ivada Chandra Sari, Ariyanto Wibowo, S.H. selaku Kepala Seksi Tindak Pidana Umum dan Jaksa Fasilitator Thesa Tamara Sanyoto, SH dan Novia Kartika Utamie, S.H. serta pihak Keluarga Tersangka, Tokoh Masyarakat, Korban maupun Keluarga Korban.(abd/KPO-3)

Iklan
Iklan