Iklan
Iklan
Iklan
OPINI PUBLIK

Ruang Digital Merusak Generasi, Dimana Peran Negara?

×

Ruang Digital Merusak Generasi, Dimana Peran Negara?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Haritsa
Pemerhati Generasi dan Kemasyarakatan

Keberadaan game online telah sampai pada derajat yang membahayakan generasi. Para orang tua dan tenaga pendidikan mengeluh dan menuntut pemerintah untuk bertindak. Mewakili suara orangtua, KPAI mendesak pemerintah untuk memblokir game online yang tidak sesuai (jawapos.com, 26/04/2024). Pemerintah akhirnya merespon dengan menetapkan sejumlah aturan untuk meredam dampak negatif game online.

Namun sejumlah pihak meragukan efektivitas regulasi tersebut. Regulasi yang dikeluarkan justru menegaskan kebebasan bagi game online dan menyerahkan tanggungjawab pribadi dan orangtua terhadap pilihan gim berdasarkan rating. Sangat jelas pemerintah tidak serius menjaga generasi dari dampak negatif ruang digital.

Keresahan orang tua sangat beralasan. Memang tidak lama sejak kemunculannya game online ataupun game manual sudah dikeluhkan. Lebih khusus game online yang telah berdampak negatif pada generasi baik secara fisik dan non fisik. Dampak ekstrimnya sudah terlihat sejak beberapa tahun silam. Kini, jumlah anak dan remaja yang menderita gangguan akibat dari adiksi game dan dirawat di rumah sakit jiwa semakin meningkat. Bahkan terdapat kasus meninggal akibat kecanduan game seperti kasus seorang pelajar di Banyumas (kompas.com, 27/05/2021). Belum lagi dampak tidak langsung seperti budaya kekerasan dan ekses pornografi. Yang tidak ekstrim, seperti gangguan konsentrasi dan penggerusan minat belajar tidak kalah merugikan. Ruang digital dengan game online telah merusak dan membajak generasi.

Semestinya dampak negatif baik ekstrim atau tidak ekstrim tidak boleh terjadi. Namun kenyataan menunjukkan sebaliknya. Pemerintah seolah menutup mata. Mengapa bisa terjadi?

Korban Industri

Tatanan kehidupan sekulerisme membuat masyarakat dan pemerintah seperti abai terhadap dampak negatif teknologi. Kita abai dan membiarkan teknologi yang ibarat pisau bermata dua. Orang tua bangga dengan anak yang sedari kecil sudah aktif bermain dengan gawai. Bahkan orang tua merasa diuntungkan karena membuat anak tidak ‘merepotkan’ orang tua yang sibuk karena sang anak sudah sibuk sendiri dengan gawai. Anak yang begitu lihai dan menggemari game dianggap keren.

Baca Juga:  Generasi Hanyut dalam Arus Budaya Populer, Dimana Peran Negara?

Memang game bisa membantu stimulus kecerdasan pada anak namun itu terbatas dalam kecerdasan tertentu. Selain itu stimulus dari game harus diberikan sesuai takaran, tidak berlebihan sehingga melenakan. Itu dari aspek positif. Lalu bagaimana dengan paparan massif kekerasan, pornografi dan permainan judi? Yang ada adalah dampak negatif apalagi ditambah dengan efek candu.

Ketidakpekaan orangtua, pendidik dan standar aturan yang dengan prinsip kebebasan dalam kehidupan sekuler kapitalisme menumbuhkan sisi negatif ruang digital. Ruang digital menjadi media untuk permainan, ekspresi kekerasan dan pornografi, transaksi judi dan kemaksiatan lainnya. Supply dan demand bertaut dan menjadi industri yang menghasilkan uang. Ironinya pemerintah juga turut mengambil keuntungan dari industri game online dan memperhalus penyebutan industri game dengan istilah E-sports. Pemerintah bahkan berambisi menumbuhkan industri game dalam negeri. Presiden Jokowi menerbitkan Perpres Nomor 19 tahun 2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Game Nasional.

Secara global industri game, baik online dan game konsol tumbuh pesat melampaui perputaran uang pada gabungan industri musik dan olahraga. Karenanya industri game sangat menggiurkan.

Namun orientasi keuntungan ekonomi tersebut mengabaikan efek pada generasi, yaitu merusak mereka atau paling tidak membajak potensi mereka. Tidak ada kerugian dan kehilangan yang lebih besar daripada kehilangan generasi. Betapa sedih orang tua melihat anaknya yang teradiksi game dan harus menjalani perawatan panjang untuk memulihkan. Dan betapa rugi bangsa dan umat mendapati generasi yang terlena dan tidak punya minat belajar akibat perhatiannya lebih tertuju pada permainan game.

Pengabaian terhadap generasi dengan dalih kemajuan teknologi hanya terjadi dalam sistem sekuler kapitalisme. Alih-alih mengambil manfaat positif, teknologi justru memperbudak dan merendahkan manusia.

Baca Juga:  Peran Mahasiswa dalam Arus Perubahan Bangsa

Berbeda dengan sistem sekuler kapitalisme, sistem Islam mengarahkan negara untuk menjaga ruang digital dan membersihkannya dari ekspresi-ekspresi dan transaksi yang melanggar syariat. Negara menegakkan sanksi bagi pengguna ruang digital untuk pornografi dan judi, misalnya.

Selain penegakkan hukum, yang juga dilakukan negara adalah membina masyarakat untuk ketaatan pada syariat, termasuk membina generasi. Pendidikan mengasah pemikiran dan kecenderungan hingga terbentuk pola pikir dan pola kecenderungan yang dilandasi akidah Islam. Metode pendidikan adalah menanamkan informasi yang benar dan memacu proses berpikir dari penginderaan langsung dan pengalaman-pengalaman nyata.

Dalam kerangka tujuan pendidikan, aktivitas dan kesibukan generasi diarahkan pada kesibukan yang berfaedah seputar ilmu, pengamalan dan dakwah. Masa muda dengan potensi kecerdasan dan energi difasilitasi dalam pendidikan yang dilengkapi sarana prasarana berkualitas. Pendidikan yang berkualitas menjadikan proses belajar bisa dinikmati, tidak menjemukan dan menjadi beban.

Hukum-hukum syariat yang ditegakkan oleh negara didukung dengan opini dan kesadaran masyarakat yang selaras dengan pemikiran-pemikiran Islam. Masyarakat akan melakukan kontrol dengan dakwah dan amar makruf nahi munkar.

Generasi yang dididik dalam sistem pendidikan Islam dan tumbuh dalam masyarakat yang menerapkan standar Islam akan memiliki imunitas dan selera. Mereka memiliki daya kontrol terhadap media dan kecenderungan memanfaatkan media digital untuk hal-hal yang syar’i dan berfaedah.

Sistem Islam dengan peran negara yang menegakkan hukum-hukum syariat secara kaffah akan menjaga generasi dan mengafirmasi pilihan-pilihan yang benar dalam ruang digital. Kondisi generasi tidak dipertaruhkan dalam paparan massif sesuatu yang merusak dan membajak potensi mulia mereka. Mereka tidak menjadi umpan kerakusan industri gim yang hanya berorientasi keuntungan.

Hanya dengan sistem Islam dalam naungan Khilafah generasi akan terjaga dan menjadi insan yang unggul dan mulia. Walllahu alam bis shawab.

Iklan
Iklan