Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

Tekan Polusi Dengan Transportasi Publik

×

Tekan Polusi Dengan Transportasi Publik

Sebarkan artikel ini

Oleh : Abdul Hakim
Pemerhati Transportasi

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi polusi udara akibat kendaraan bermotor adalah dengan mengutamakan transportasi publik dalam kegiatan sehari-hari. Transportasi publik memberikan manfaat bagi masyarakat dan perkembangan suatu daerah.

Jika menilik ke belakang, angkutan umum seperti kereta api, bus kota, mini bus hingga oplet, pernah merajai jalanan di semua ruas jalan kota besar di Tanah Air.

Bahkan, jika hendak ke pasar, sekolah, tempat kerja, rekreasi, hingga mudik Lebaran, angkutan umum menjadi pilihan. Tidak heran jika terminal-terminal bus dan angkutan kota, kala itu termasuk wilayah yang padat lalu lintasnya.

Era penggunaan transportasi publik mulai bergeser ketika kepemilikan kendaraan roda empat dan roda dua bertambah luar biasa setiap tahunnya. Demikian juga dengan jaringan jalan yang kian mulus serta bahar bakar minyak (BBM) yang terjangkau harganya, karena kesejahteraan masyarakat yang terus meningkat, baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Bertambahnya jumlah kendaraan pribadi yang melampaui batas telah menimbulkan banyak persoalan, khususnya di perkotaan. Masyarakat lebih suka menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor, untuk bekerja dan beraktivitas sehari-hari.

Kemacetan mulai muncul dimana-mana, terbatasnya lahan parkir kendaraan juga menimbulkan masalah tersendiri, polusi udara yang mencemari lingkungan kian mengkhawatirkan. Demikian juga dengan tingkat kematian yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas juga meningkat.

Pemerintahan pun memikirkan jauh hari persoalan-persoalan mendasar yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah kendaraan pribadi. Bukan hanya kemacetan yang menguras energi, waktu dan biaya BBM yang hilang percuma di tengah jalan, juga menurunnya efisiensi dan produksitivitas masyarakat akibat kemacetan yang ditimbulkan oleh banyaknya kendaraan yang mengaspal di jalan.

Langkah meningkatkan pembangunan infrastruktur jalan memang terus digalakkan, demikian juga dengan pembangunan jalan bebas hambatan/jalan tol, jalan layang, underpass, serta rekayasa sosial lalu lintas, serta pembangunan moda transportasi kereta api, pengadaan dan pengembangan bus umum, dan lain sebagainya.

Pembangunan moda transportasi umum digenjot oleh pemerintah sebagai salah satu upaya agar masyarakat tidak banyak menggunakan kendaraan pribadi. Pemerintah terus meningkatkan kinerja transportasi massal di Indonesia agar mudah digunakan, diminati, dan nyaman.

Baca Juga:  BPJS Naik Rakyat Tercekik

Melalui Gerakan Nasional Kembali ke Angkutan Umum, pemerintah mengajak masyarakat untuk kembali menggunakan angkutan umum, seperti bus, kereta api, maupun angkutan kota (angkot).

Gerakan tersebut menjalar di daerah-daerah, salah satunya Kota Surabaya. Sebagai kota terbesar kedua setelah DKI Jakarta, Surabaya juga kerap dilanda kemacetan lalu lintas, termasuk dampak ikutannya pencemaran udara.

Untuk itu, Pemerintah Kota Surabaya membuat kebijakan baru guna mengurangi kemacetan lalu lintas serta mengendalikan pencemaran udara di wilayah itu, yakni lewat “Gerakan Bebas Macet dan Polusi”. Pada gerakan itu, seluruh pegawai, baik aparatur sipil negara (ASN) maupun non-ASN diwajibkan menggunakan kendaraan umum saat ke kantor setiap hari Jumat. Gerakan itu sudah dimulai sejak Jumat, 1 September 2023.

Sebelumnya Pemkot Surabaya juga melarang penggunaan kendaraan bermotor pribadi yang sudah diberlakukan sejak Maret 2023. Pelarangan itu bersamaan dengan Pemkot Surabaya meluncurkan transportasi umum “Wira-Wiri” agar bisa dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat.

Saat itu, Wira-Wiri yang merupakan angkutan penumpang masih terbatas jangkauannya. Namun, saat ini Wira-Wiri sudah banyak menjangkau semua wilayah di Kota Pahlawan. Selain Wira-Wiri, juga ada angkutan bus, seperti Trans Semanggi dan Suroboyo Bus.

Bahkan untuk kantor di lingkungan Pemkot Surabaya telah terintegrasi dengan transportasi umum, mulai dari Suroboyo Bus, Trans Semanggi Suroboyo, dan Wira-Wiri. Sehingga, jika diperhitungkan bisa untuk mengurangi kendaraan bermotor di hari Jumat.

Gerakan ini masih tahap uji coba hingga tiga pekan ke depan. Setelah itu, seluruh pegawai pemkot, baik yang kantornya di sekitar Balai Kota Surabaya maupun di luar, harus naik kendaraan umum. Pemkot memberlakukan sanksi bagi pegawai yang melanggar kebijakan tersebut.

Kualitas udara

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemkot Surabaya agar kualitas udara tetap bersih, mulai dari penanaman pohon, pengawasan pembuangan polusi industri, mempertahankan penerapan bangunan hijau, hingga diberlakukan uji emisi kendaraan.

Hal itu dilakukan bukan hanya untuk menjaga kualitas udara agar tetap bersih, tetapi juga untuk kelestarian lingkungan di Kota Pahlawan.

Baca Juga:  Khilafah dan Kesultanan Banjar(Sebuah nafas perjuangan dakwah dan jihad di Kalsel)

Adanya gerakan “Bebas Macet dan Polusi” berdampak pada lingkungan dan kualitas udara di Surabaya. Apalagi, kalau itu bisa dimasifkan hingga di seluruh kantor kecamatan dan kelurahan se-kota itu.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya menyebut, 97 persen polusi udara itu berasal dari sumber bergerak atau kendaraan bermotor. Sehingga kalau kendaraan bermotor di jalanan dikurangi, akan berdampak pada kualitas udara.

Berdasarkan penilaian Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di tiga Stasiun Pemantau Kualitas Udara Ambient (SPKUA) khusus untuk dua kota besar di Jawa Timur, yaitu di Malang dan Surabaya, kondisi udara baik dengan nilai 37 untuk Kota Malang dan 28 untuk Surabaya.

Untuk nilai 0-50 merupakan kategori baik dan nilai 50-100 kategori sedang. Sementara untuk nilai 101-200 merupakan kategori tidak sehat dan nilai 201-300 tergolong kategori sangat tidak sehat. Dengan demikian, saat ini kualitas udara di Surabaya dan Malang masih tergolong baik.

Meskipun sesuai hasil ISPU tergolong baik, pemerintah tidak berpangku tangan. Selain memanfaatkan alat stasiun pemantauan udara, DLH berencana menambah peralatan pemantauan udara portable yang ditempatkan di beberapa titik di Kota Surabaya. Nantinya, alat tersebut akan disebar, kemudian data hasil pemantau udara portable itu akan dianalisa dan dibandingkan dengan ISPU untuk pengkajian lebih lanjut.

Ada hal yang lebih penting dari alat pemantauan kualitas udara, yakni agar masyarakat menunda bepergian pada jam tertentu.

Misalnya, di jalan-jalan yang pada jam tertentu tingkat polusinya tinggi, warga bisa diimbau untuk memakai masker ketika berkendara menggunakan kendaraan bermotor. Selain itu, warga diminta menghindari keluar rumah ketika di jam tertentu.

Tak hanya itu, penanaman pohon oleh warga perlu terus digalakkan, terutama yang rumahnya berada dekat dengan tepi jalan. Banyak literatur menyebutkan bahwa tumbuhan yang dinilai ampuh menyerap polusi udara adalah jenis Sansevieria (lidah mertua).

Keberhasilan dalam menjaga dan mengelola kualitas lingkungan maupun udara itu sudah diakui berhasil oleh pemerintah pusat. Terbukti, Kota Surabaya sudah delapan kali berturut-turut meraih penghargaan Green Leadership Nirwana Tantra.

Baca Juga:  Pondok Pesantren dan Perilaku Manusia

Terakhir, pemkot meraih penghargaan itu pada Selasa, 29 Agustus 2023. Kala itu, Surabaya mendapatkan penghargaan Green Leadership Nirwana Tantra Tahun 2022 di dua kategori, yaitu kategori Pemerintah Daerah Kota Besar dan Kepala Daerah Kota Besar.

Perluasan

Untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan terhindar dari polusi, maka perluasan cakupan Gerakan Bebas Macet dan Polusi, yang saat ini baru diberlakukan pada pegawai pemerintah kota.

Sebelum mengajak masyarakat menggunakan transportasi umum, seluruh pegawai di lingkungan Pemkot Surabaya sudah memberikan contoh terlebih dahulu, dengan memanfaatkan layanan transportasi publik atau bersepeda saat akan ke kantor.

Harapannya, gerakan tersebut bisa meluas di kalangan masyarakat. Warga tidak keberatan untuk menggunakan angkutan umum dalam aktivitas keseharian.

Selain menggunakan transportasi, bersepeda juga sebagai upaya mengurangi polusi kendaraan bermotor dan ramah lingkungan. Hal ini telah dicontohkan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Wakil Wali Kota Surabaya Armuji.

Keduanya kerap bersepeda dari kediamannya menuju kantor di Balai Kota Surabaya. Bahkan saat akhir pekan, Wawali Armuji bersepeda bersama komunitas NOSS (Numpak O Sepeda Society).

Warga Surabaya diajak untuk membiasakan diri dengan berolahraga, salah satunya dengan bersepeda. Selain sehat, bersepeda secara bersama-sama juga bisa merekatkan silaturahmi di antara para pesepeda lainnya. Juga dalam tubuh yang sehat juga terdapat pikiran dan jiwa yang sehat.

Pemanasan global

Pemanasan global yang sangat cepat, ditambah dengan banyaknya peristiwa alam yang terjadi di berbagai negara, saat ini saatnya masyarakat beralih ke penggunaan transportasi umum.

Dengan keadaan udara yang buruk, beraktivitas di luar rumah dan berpergian keluar rumah bukan opsi yang baik. Terlebih jika terkena paparan polutan dari banyaknya kendaraan umum dalam jangka panjang serta intensitas sering, mengakibatkan sesak nafas, terkena penyakit dalam atau penyakit lainnya.

Pemkot Surabaya telah memulai dengan “Gerakan Bebas Macet dan Polusi”, yang harus terus dikampanyekan sehingga semua pihak sadar bahwa penggunaan angkutan umum menjadi suatu keniscayaan di masa kini dan masa depan untuk menjamin kualitas udara kita tetap baik.

Iklan
Iklan