LUAR BIASA Kalimantan memiliki kekayaan flora dan fauna endemik. Banyak spesies yang hanya bisa ditemukan di pulau ini.
Tetapi, ada pula spesies endemik Borneo yang telah punah, bahkan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Dalam dunia konservasi, istilah punah nyatanya tidak selalu berarti benar-benar lenyap di bumi.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), suatu spesies bisa dikategorikan punah jika tidak ditemukan lagi dalam jangka waktu panjang meskipun sudah dilakukan pencarian intensif di habitat aslinya.
Ada pula istilah lost species atau spesies hilang, belum ditemukan kembali selama puluhan hingga ratusan tahun, sehingga keberadaannya menjadi misteri. Salah satu contohnya adalah Katak Pelangi Kalimantan.
Katak Pelangi Kalimantan memiliki nama ilmiah Ansonia latidisca dan juga dikenal sebagai Sambas stream toad. Spesies ini pertama kali ditemukan pada tahun 1893 oleh seorang ahli botani Jerman, Johann Gottfried Hallier di kawasan hulu Sungai Sambas, sekitar Gunung Damus yang berada di wilayah Kalimantan Barat.
Setelah penemuan awal tersebut, katak ini nyaris tidak pernah terlihat lagi di Indonesia. Laporan terakhir hanya muncul pada awal abad ke-20, tepatnya pada tahun 1924. Sejak saat itu, tidak ada lagi temuan resmi di habitat aslinya selama lebih dari 100 tahun.
Kondisi ini membuat banyak peneliti menduga bahwa spesies ini telah punah.
Kekhawatiran itu bahkan diperkuat ketika Conservation International memasukkan Katak Pelangi ke dalam daftar “Top 10 Most Wanted Lost Frogs”, yaitu daftar spesies amfibi yang paling dicari di dunia karena lama tidak ditemukan.
Ditemukan Kembali di Malaysia
Pada 2011, tim peneliti dari Universiti Malaysia Sarawak yang dipimpin oleh Indraneil Das berhasil menemukan kembali tiga individu Katak Pelangi di kawasan Pegunungan Penrissen, Sarawak, Malaysia. Penemuan ini menjadi pembuktian bahwa spesies ini belum benar-benar punah.
Di tahun 2022, dalam kegiatan eksplorasi di Cagar Alam Gunung Nyiut, Kalimantan Barat, tim dari BKSDA bersama peneliti muda Indonesia kembali menemukan spesies ini di habitat alaminya di Indonesia.
Penemuan tersebut dilakukan oleh seorang ahli botani Indonesia bernama Randi Agusti pada 17 Agustus 2022, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI.
Menariknya, penemuan sempat tidak disadari.
Katak yang ditemukan awalnya dianggap spesies biasa, hingga beberapa hari setelah ekspedisi berakhir dan dilakukan identifikasi lebih lanjut.
Baru kemudian dipastikan bahwa itu adalah Katak Pelangi yang telah menghilang selama lebih dari satu abad di Indonesia.
Katak Pelangi Kalimantan memiliki penampilan yang sangat khas dan berbeda dari kebanyakan katak lainnya.
Sebutan pelangi juga bukan sekadar sebutan, tapi benar-benar menggambarkan warna tubuhnya.
Secara fisik, katak ini berukuran kecil, dengan panjang tubuh sekitar 30 hingga 50 milimeter.
Tubuhnya ramping dengan kaki yang panjang dan kurus. Bentuk kaki ini yang membantunya bergerak lincah di lingkungan hutan pegunungan yang lembap dan berbatu.
Yang menjadi ciri khas tentu warna kulitnya. Permukaan tubuh Katak Pelangi dipenuhi bintil-bintil menyerupai kutil, dengan warna mencolok seperti hijau terang, ungu, dan merah bata.
Pola warna ini berfungsi sebagai kamuflase di habitat aslinya yang dipenuhi lumut, daun, dan bayangan hutan. (net/K-2)















