Oleh : Airin Elkhanza
Aktivis Dakwah Gen Z
Kecerdasan akademik tidak menjamin kemuliaan perilaku. Inilah yang bisa kita pelajari dari kasus teranyar, yang menimpa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Melibatkan 16 terduga pelaku dengan minimal 27 korban dari kalangan mahasiswi hingga dosen, kasus ini adalah sebuah tamparan keras. Bagaimana mungkin di tempat di mana keadilan dipelajari dan hukum dijunjung tinggi, justru menjadi sarang terjadinya pelecehan?
Dikutip dari Detik.com (15/04/2026), tindakan dugaan kekerasan seksual ini mencuat dari tersebarnya tangkapan layar grup percakapan yang berisi 16 mahasiswa FH UI. Dalam grup tersebut, para anggota grup melontarkan narasi bernuansa seksual kepada korban-korbannya (20 mahasiswi dan 7 dosen FH UI). Kasus ini pun viral, kemudian pada hari Senin (13/04) FH UI mengadakan sidang terbuka di Auditorium FH UI dengan mendatangkan 16 pelaku beserta dihadiri elemen-elemen kampus seperti mahasiswa, dosen, hingga dekan fakultas.
Mencoreng Sistem Pendidikan Kita
Lantas, mengapa kebejatan ini bisa terjadi di ruang yang seharusnya aman dan terpelajar? Jawabannya ada pada akar sistem pendidikan kita. Selama ini, kita terjebak dalam pola pikir bahwa pendidikan sukses adalah yang mampu mencetak lulusan dengan IPK tinggi dan daya serap kerja yang cepat. Kita sangat ambisius membangun kecerdasan intelektual, namun abai dalam membangun kecerdasan moral.
Inilah asal muasal kegagalannya, pendidikan kita saat ini memisahkan antara ilmu dan adab. Sistem kehidupan sekulerisme, telah membawa arah pendidikan jauh dari agama. Jika berkaca dengan kasus yang dibahas tadi, maka mahasiswa diajari cara memahami pasal, tapi tidak dididik untuk takut pada dosa. Mereka diajari cara berdebat, tapi tidak dilatih untuk berempati. Akibatnya, ilmu yang mereka miliki hanya menjadi alat untuk memuaskan ego dan nafsu tanpa ada “rem” internal yang menahan mereka.
Jika sistem pendidikan hanya mencetak orang yang “tahu” tanpa “sadar”, maka kita sebenarnya sedang membesarkan individu yang hanya terlihat manusia secara fisik, namun bertindak tanpa nurani. Di titik inilah kita sadar, manusia tidak bisa dibiarkan tumbuh hanya dengan logika, mereka butuh pegangan yang lebih tinggi untuk tetap menjadi manusia yang utuh. Agama lah jawabannya.
“Halah, dikit-dikit ke agama,” ucap seseorang di antara kita. Tapi, itulah salah satu solusi fundamental atas yang terjadi saat ini. Agama hasrunya bukan sebuah hiasan kehidupan namun bertransformasi sebagai kebutuhan di situasi akhir zaman seperti sekarang. Agama bisa menjadi sebuah jawaban mendasar untuk menjadikan manusia tetap menjadi manusia. Karena, terkadang sanksi saja tidak cukup menghentikan permasalahan kekerasan seksual atau masalah moral apapun itu yang kita hadapi hari ini, tetapi kita perlu sebuah nilai-nilai kehidupan yang dijunjung tinggi dan diterapkan atas manusia. Sebagai negara yang menjunjung nilai agama dan kemanusiaan, tentulah agama jangan sampai lepas dari kehidupan kita.
Islam Mengatur Pendidikan
Krisis moral ini membuktikan bahwa kita butuh lebih dari sekadar aturan kampus atau sanksi hukum. Islam hadir bukan hanya sebagai ritual, melainkan sebagai sistem kehidupan, salah satunya membahas bagaimana sistem pendidikan yang mampu mencetak pribadi-pribadi yang berkepribadian Islam. Sebuah konsep di mana kepintaran otak bersatu padu dengan kemuliaan sikap.
- Membentuk Pola Pikir
Menanamkan keyakinan bahwa setiap tindakan akan dihisab. Pendidikan Islam mengajarkan bahwa “pintar” yang sesungguhnya adalah ketika seseorang mampu menggunakan akalnya untuk tunduk pada aturan Sang Pencipta. Dengan begitu, kejujuran dan kehormatan bukan dijaga karena takut pada CCTV kampus, tapi karena sadar akan pengawasan Allah yang Maha Melihat.
- Menyelaraskan Ilmu dengan Adab
Dalam Islam, adab adalah syarat utama sebelum ilmu. Sistem ini memastikan bahwa seorang calon sarjana hukum, misalnya, tidak hanya hafal undang-undang, tapi juga memiliki jiwa yang bersih (takwa). Hasilnya adalah SDM yang memiliki empati tinggi, menghargai sesama sebagai mahluk Tuhan, dan memiliki kontrol diri yang kuat terhadap nafsu.
- Kebutuhan untuk Memanusiakan Manusia
Bagi orang awam dan mahasiswa, kita harus memahami bahwa agama adalah kebutuhan. Tanpa iman dan takwa, manusia akan kehilangan kompas moralnya. Islam memastikan bahwa pendidikan menghasilkan manusia yang utuh: cerdas secara pemikiran, santun secara perilaku, dan berani membela kebenaran karena dorongan iman. Seminimal-minimalnya punya rasa malu yang menhindarkannya dalam berbuat maksiat atau bejat.
“Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang… dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).
“Sesungguhnya di antara ungkapan kenabian terdahulu yang masih dikenal masyarakat adalah: ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’” (HR. Bukhari).
Kita tidak bisa lagi hanya berharap pada gelar akademik untuk memperbaiki bangsa. Kasus ini adalah peringatan bahwa tanpa kepribadian yang berlandaskan takwa, ilmu pengetahuan hanya akan menjadi alat perusak. Kembali ke sistem pendidikan yang memprioritaskan pembentukan karakter bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak agar kampus atau lingkungan pendidikan kembali menjadi tempat yang memuliakan manusia, bukan tempat melahirkan predator berkedok pelajar. Dan memastikan SDM yang tercetak dari institusi pendidikan kita benar-benar berguna dan bermanfaat bagi agama, negara, bahkan dunia.
“…Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11). Wallahu’alam.












