Oleh : AHMAD BARJIE B
Surah Yusuf dalam Alquran disebut ahsanul qashash, the best story atau kisah terbaik, sebab kisahnya sangat terinci, menarik dan mengandung banyak pelajaran. Ketika surah Yusuf turun kepada Nabi Muhammad SAW dan diketahui oleh orang-orang Yahudi, banyak orang Yahudi masuk Islam, sebab ceritanya sama bahkan lebih lengkap daripada yang mereka ketahui dari kitab Taurat dan Injil.
Di antara kisah Nabi Yusuf yang terkenal adalah keahlian beliau menafsirkan atau membuka tabir mimpi. Dalam ayat 43 diceritakan, Raja Hexos yang berkuasa di Mesir saat itu bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus, dan tujuh bulir gandum yang hijau serta tujuh bulir lainnya yang kering. Tidak seorang pun pemuka istana yang sanggup menafsirkan mimpi tersebut. Mereka mengatakan itu hanya mimpi kosong, tapi raja yakin mimpinya punya makna tersendiri, sebab mimpi itu berulang kali.
Akhirnya seseorang yang pernah kenal dengan Yusuf sewaktu sama-sama di penjara mengatakan kepada raja bahwa di penjara ada seorang pemuda saleh yang pandai menafsirkan mimpi. Raja pun memanggilnya. Kepada raja dan orang-orang istana, Yusuf menerangkan makna mimpi itu. Maksudnya, raja, para pemimpin dan segenap rakyat Mesir harus rajin bertani gandum selama tujuh tahun dan membiarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk dimakan. Sebab sesudah itu akan datang masa paceklik selama tujuh tahun pula yang akan menghabiskan bahan pangan yang tersimpan.
Menyadari kelebihan Yusuf dan mengantisipasi masa sulit, raja tak segan meminta Yusuf menjadi orang dekatnya. Dalam ayat 54-55 dinyatakan yang artinya: (Dan raja berkata: Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang dekatku. Maka ketika raja bercakap-cakap dengan Yusuf dia berkata: Sesungguhnya kamu mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya di sisi kami. Berkata Yusuf: jadikan aku bendaharawan Negara Mesir, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga/mengelola ekonomi lagi berpengetahuan).
Dari kisah ini paling tidak ada dua pelajaran. Pertama, seorang raja yang bijaksana tidak segan mengangkat orang yang menjadi penghuni penjara untuk memangku jabatan penting, karena diyakininya orang itu tepat dan ahli. Ternyata pilihan raja memang tepat, sebab ramalan Yusuf benar adanya, sehingga meski negeri Mesir dan sekitarnya dilanda paceklik yang parah selama tujuh tahun, namun masih bisa selamat, bahkan dapat membantu rakyat sekitarnya, termasuk Nabi Yaqub dan putra-putranya dari Palestina. Sekiranya bukan Yusuf yang terpilih, tentu akan banyak orang yang mati kelaparan.
Kedua, Yusuf yang menyadari dirinya punya pengetahuan dan keahlian, tidak segan menawarkan diri untuk diangkat sebagai bendaharawan Mesir. Tawaran jabatan itu bukan untuk mencari kekayaan dan kedudukan, tapi semata untuk menyelamatkan Mesir dari bahaya. Ada versi mengatakan, jabatan bendahara negara saat itu mungkin semacam perdana menteri atau menteri perekonomian dan sejenisnya.
Sekarang orang sering berebut dan berlomba minta dipilih untuk memegang jabatan publik. Bagi masyarakat hal itu kadang-kadang membingungkan. Tapi dari cerita di atas kita sudah punya bekal, kita hendakya memilih orang yang amanah dan tepat. Jangankan untuk memimpin Negara dan jabatan publik penting, dalam urusan yang kecil pun dibutuhkan orang-orang yang ahli, amanah dan jujur.
Sekarang pejabat tinggi juga sering mengangkat orang lain sebagai pejabat hanya karena golongan, kedekatan keluarga dan kelompok (nepotisme), atau karena loyalitas saja, tanpa menimbang keahliannya. Hal ini tidak sejalan dengan peringatan Nabi SAW dalam sebuah hadits: (Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu kehancurannya. HR Bukhari).
Sebaliknya jika kita punya pengetahuan, keahlian, kesanggupan, kita boleh manawarkan diri untuk memangku suatu jabatan atau menangani suatu urusan, jika tidak ada orang yang lebih baik. Tapi jabatan itu bukan untuk mencari keuntungan, melainkan semata untuk beres dan keberhasilnya urusan serta untuk kemaslahatan orang banyak. Namun kalau ada orang yang lebih ahli dan tepat daripada kita, maka kita harus lapang dada dan tidak perlu memaksakan diri.












