Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Naik Jabatan, Pencari Muka Versus Pekerja Keras

×

Naik Jabatan, Pencari Muka Versus Pekerja Keras

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ade Hermawan
Dosen FISIP Uniska MAB Banjarmasin

Naik jabatan (promosi) adalah perpindahan posisi seorang karyawan ke tingkat struktur organisasi yang lebih tinggi di dalam sebuah perusahaan atau instansi.

Kalimantan Post

Secara sederhana, naik jabatan bukan sekadar perubahan nama kartu nama atau perpindahan tempat kerja, melainkan sebuah paket perubahan yang mencakup tiga aspek yaitu Peningkatan tanggung jawab dan wewenang, Pengakuan atas kompetensi dan kinerja, dan Peningkatan fasilitas dan kompensasi.

Peningkatan tanggung jawab dan wewenang adalah esensi utama dari naik jabatan. Seseorang yang naik jabatan akan memikul tugas yang lebih besar, cakupan kerja yang lebih luas, dan biasanya mulai memimpin sebuah tim atau departemen. Wewenang dalam mengambil keputusan penting perusahaan juga akan meningkat.

Dari sudut pandang perusahaan, mempromosikan seseorang adalah bentuk apresiasi dan pengakuan resmi bahwa karyawan tersebut dianggap berprestasi, memiliki kompetensi yang mumpuni, serta dinilai siap untuk menghadapi tantangan yang lebih kompleks.

Sebagai konsekuensi logis dari tanggung jawab yang membesar, naik jabatan hampir selalu diikuti dengan peningkatan hak-hak karyawan. Hal ini meliputi Kenaikan gaji pokok, Tunjangan jabatan yang lebih besar, dan Fasilitas penunjang kerja yang lebih baik (misalnya kendaraan dinas, ruang kerja khusus, atau laptop yang lebih canggih).

Jika diibaratkan sebuah kendaraan, naik jabatan berarti Anda berpindah dari kursi penumpang atau pengemudi biasa, menjadi kapten yang menentukan arah jalannya kendaraan tersebut. Risiko dan lelahnya bertambah, namun pandangan ke depannya menjadi jauh lebih luas.

Dalam konteks profesionalisme yang berintegritas, jabatan bukan sekadar puncak karier atau simbol status sosial. Jabatan adalah amanah dan titipan. Ketika jabatan dimaknai sebagai ruang untuk mengabdi, maka esensi tertinggi yang dicari adalah keberkahan, yaitu nilai kebaikan yang terus bertambah, membawa kedamaian bagi diri sendiri, serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan lingkungan kerja.

Memperoleh jabatan yang berkah memerlukan keselarasan antara niat yang lurus, cara yang halal, dan kompetensi yang nyata. Keberkahan bermula dari dalam hati. Jika niat utama merengkuh jabatan adalah untuk kesombongan, mengejar kekayaan materi secara buta, atau sekadar gengsi (takabur), maka keberkahan akan menjauh.

Pandanglah jabatan sebagai alat untuk meluaskan kebermanfaatan, menegakkan keadilan, dan membantu lebih banyak orang. Secara etika, mengejar jabatan dengan cara memintanya secara agresif atau mengemis kekuasaan sering kali menjauhkan pertolongan moral dan spiritual dalam memimpin kelak. Biarkan jabatan datang karena kelayakan, bukan paksaan.

Cara kita mendapatkan sesuatu menentukan kualitas hasil yang kita bawa pulang. Jabatan yang berkah mustahil lahir dari proses yang cacat moral. Jauhi segala bentuk suap, sogokan, nepotisme, atau memberikan gratifikasi kepada pemegang keputusan demi memuluskan jalan ke atas. Dan Keberkahan tidak akan tumbuh di atas air mata rekan kerja yang dizalimi, difitnah, atau disabotase kariernya demi ambisi pribadi.

Baca Juga :  Pelajaran Penting Perang AS–Iran: Kesatuan Negeri-Negeri Islam dan Tantangan Hegemoni Global

Tuhan dan organisasi menyukai orang yang bekerja secara ihsan (optimal dan profesional). Kompetensi adalah bentuk syukur atas talenta yang diberikan. Teruslah belajar dan tingkatkan keahlian (skill). Pemimpin yang berkah adalah pemimpin yang tahu apa yang harus dilakukan ketika duduk di kursi kekuasaan, bukan yang kebingungan setelah menjabat. Dan Jadilah problem-solver di lingkungan kerja saat ini. Dedikasi yang konsisten akan memancarkan nilai diri Anda dengan sendirinya.

Dalam interaksi kerja sehari-hari, karakter personal sangat menentukan bagaimana energi kepemimpinan Anda terbentuk. Biasakan diri untuk membagikan ilmu, membantu rekan kerja yang kesulitan, dan mengapresiasi keberhasilan tim. Orang yang pemurah jiwanya akan selalu dirindukan kehadirannya untuk memimpin. Dan Jauhi sifat arogan dan mudah tersinggung. Pemimpin yang berkah mendekatkan yang jauh dengan keteduhan, bukan mencerai-beraikan dengan kemarahan.

Pastikan bahwa setiap kenaikan fasilitas, insentif, atau tunjangan yang menyertai jabatan baru tersebut bersumber dari anggaran yang sah dan halal. Pendapatan yang bersih akan membawa ketenangan batin bagi diri sendiri serta membawa berkah bagi keluarga yang menafkahinya.

Sering kali, keberhasilan karier yang lancar dan membawa ketenteraman tidak melulu soal hitung-hitungan logis di atas kertas, melainkan adanya restu spiritual. Setelah ikhtiar profesional dilakukan secara maksimal, serahkan hasilnya kepada ketetapan yang terbaik. Doakan agar jika jabatan tersebut baik untuk dunia dan akhirat Anda, maka didekatkan; namun jika buruk, maka dijauhkan. Dan Ketuklah pintu berkah dengan meminta doa restu dari ibu dan keluarga. Kebeningan doa seorang ibu sering kali menjadi benteng tak terlihat yang memuluskan langkah karier anak, sekaligus menjaganya dari marabahaya fitnah jabatan.

Jabatan yang berkah tidak akan membuat pemegangnya menjadi angkuh ketika duduk, dan tidak akan membuatnya meratap sedih ketika harus turun. Sebab ia tahu, jabatan hanyalah panggung sementara untuk menanam benih-benih kebaikan.

Di koridor-koridor perkantoran, ada sebuah panggung sandiwara yang setua sejarah dunia kerja itu sendiri. Di satu sudut, ada seorang karyawan yang pulang paling malam, menyelesaikan target sebelum tenggat waktu, namun mejanya berada di area yang jarang dilewati bos. Di sudut lain, ada karyawan yang selalu hadir di barisan depan setiap kali direksi lewat, tertawanya paling keras mendengar lelucon sang atasan, dan mengangguk paling cepat dalam rapat, meski kontribusi nyatanya bias-bias saja.

Saat musim promosi tiba, sebuah pertanyaan klasik nan menggelitik kembali mencuat, siapakah yang akan naik jabatan ? Si pekerja keras yang mengandalkan kinerja, atau si pengambil hati yang piawai cari muka ?

Fenomena “cari muka” kerap kali dipandang negatif. Kita cenderung sinis melihat rekan kerja yang terlihat terlalu asyik membangun kedekatan personal dengan pemegang keputusan. Namun, jika kita mau jujur dan melihat lanskap profesional secara jernih, dikotomi antara cari muka dan kinerja sebenarnya tidak hitam-putih.

Baca Juga :  Urbanisasi Meningkat, Ancam Perekonomian Desa

Banyak profesional pemula yang terjebak pada romantisasi kalimat, “Bekerja keraslah dalam diam, biarkan kesuksesanmu yang membuat kebisingan.” Di dunia nyata yang kompetitif, prinsip ini sering kali berujung pada kekecewaan.

Kinerja yang luar biasa adalah pondasi mutlak. Tanpa kinerja, seseorang yang hanya bisa mencari muka akan segera tumbang begitu dihadapkan pada tanggung jawab yang lebih besar. Masalahnya, kinerja tidak selalu bisa “berbicara” sendiri. Di perusahaan dengan ratusan karyawan, manajemen tidak memiliki waktu untuk mendeteksi kejeniusan Anda yang tersembunyi.

Di sinilah aspek yang sering disalahartikan sebagai “cari muka” sebenarnya bertransformasi menjadi keterampilan yang sah, yaitu visibilitas. Kemampuan untuk mengomunikasikan hasil kerja, berani berpendapat dalam rapat, dan membangun hubungan interpersonal (jejaring) dengan pemangku kepentingan bukanlah tindakan manipulatif. Itu adalah keterampilan bertahan hidup. Jika Anda berkinerja tinggi tetapi tidak terlihat, Anda adalah aset yang terkubur.

Namun, batas antara visibilitas yang sehat dan perilaku penjilat memang sangat tipis. Ketika sebuah organisasi mulai mempromosikan orang-orang yang hanya bermodalkan kedekatan emosional tanpa kompetensi riil, di situlah petaka dimulai.

Hukum alam organisasi, promosi yang didasarkan pada favoritisme (pilih kasih) akan merusak budaya kerja secara sistemik. Ketika si “pencari muka” yang miskin kinerja naik jabatan, perusahaan sedang mengirimkan sinyal berbahaya kepada seluruh karyawan, bahwa menjilat lebih dihargai daripada berkeringat. Dampaknya instan, yaitu Karyawan berkinerja tinggi akan merasa demotivasi dan mulai mencari pintu keluar (resign), Terjadinya penurunan standar kualitas kerja karena orang-orang sibuk memoles presentasi, bukan memoles substansi kerja, dan Lahirnya pemimpin-pemimpin baru yang tidak kompeten, yang pada akhirnya akan merugikan keberlangsungan bisnis perusahaan itu sendiri.

Untuk mencapai kenaikan jabatan yang sehat dan elegan, seorang profesional idealnya tidak memilih salah satu, melainkan mengawinkan keduanya. Kita perlu mendefinisikan ulang apa itu “cari muka” menjadi sesuatu yang lebih profesional, yaitu pemasaran diri yang beretika.

Kenaikan jabatan yang langgeng adalah hasil dari kinerja sebagai mesinnya, dan visibilitas sebagai bahan bakarnya. Anda tidak bisa bergerak tanpa mesin, tetapi Anda tidak akan berjalan jauh di kegelapan tanpa lampu yang menyala.

Pada akhirnya, bola panas berada di tangan para pemimpin dan HRD. Sistem penilaian kinerja harus dibuat seobjektif mungkin agar tidak menyisakan ruang bagi bias personal. Pemimpin yang bijak harus mampu membedakan antara karyawan yang menghormati mereka karena profesionalisme, dengan karyawan yang menyanjung mereka demi mengamankan kursi.

Naik jabatan seharusnya menjadi pengakuan atas kesiapan seseorang memikul tanggung jawab yang lebih besar, bukan hadiah bagi mereka yang paling rajin menyiram ego sang atasan. Bagi Anda para pekerja keras, keluarlah dari balik meja. Tunjukkan hasil kerjamu, bicaralah, dan biarkan dunia tahu bahwa Anda tidak hanya bekerja, tapi Anda juga memimpin.

Iklan
Iklan