Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Urbanisasi Pasca Lebaran Terulang Lagi

×

Urbanisasi Pasca Lebaran Terulang Lagi

Sebarkan artikel ini

Oleh: Marlina Shofiyyah
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Arus urbanisasi pasca lebaran kembali menekan daya tampung Banjarmasin. Dalam hitungan hari setelah hari raya, lebih dari 20 pendatang langsung mengajukan perpindahan domisili untuk mendapatkan KTP Banjarmasin.

Kalimantan Post

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Banjarmasin, Yusna Irawan, mengakui lonjakan ini bukan fenomena baru. Namun momentum lebaran selalu memicu peningkatan signifikan. (Kalselmaju.com,01/04/2026)

Fenomena urbanisasi selalu terjadi setelah lebaran. Momen tersebut menjadi kesempatan orang-orang desa pindah ke kota. Dengan harapan pekerjaan dan kehidupan menjadi lebih baik. Kesulitan pekerjaan, lahan pertanian yang semakin sempit, sehingga desa dianggap tidak membawa perubahan lebih baik. Sedangkan kota dianggap ada banyak peluang untuk meraih kesuksesan.

Tidak hanya di Banjarmasin, fenomena tersebut juga terjadi di kota-kota besar. Sedangkan di Jakarta ibukota Indonesia terjadi lonjakan pendatang baru dari desa meningkat drastis. Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, mengatakan, fenomena arus balik yang semakin ramai dari tahun ke tahun telah menjadi salah satu aspek penting dalam dinamika migrasi penduduk Indonesia. Tidak lagi hanya sekadar tradisi mudik saat libur lebaran, arus balik kini mengambil bentuk yang lebih kompleks. (metrotvnews.com)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka Net Recent Migration (Migrasi Risen Neto) Indonesia tahun 2025, secara nasional, migrasi risen neto tercatat sekitar 1.2 juta jiwa, menandakan arus masuk ke kota lebih besar daripada arus keluar. BPS juga mencatata, dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 287.6 juta jiwa pada tahun 2025, sekitar 54.8 persen penduduk tinggal di perkotaan, sementara 45.2 persen sisanya tinggal di pedesaan.

Warga yang memilih pindah ke kota karena biasanya peluang kerja lebih banyak dan gaji lebih besar dibanding di desa. Termasuk dari sisi akses pendidikan, infrastruktur, akses kesehatan di kota lebih baik. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan ekonomi antara desa dengan kota itu nyata. Dan urbanisasi ini jika terus berlanjut maka akan menimbulkan masalah baru yakni kepadatan penduduk di kota dan kekurangan sumber daya manusia produktif di desa.

Baca Juga :  RAHMAT ALLAH

Kesenjangan ekonomi antara desa dan kota ini terjadi akibat diterapkannya sistem kapitalisme. Kapitalisme fokus kepada akumulasi modal dan efisiensi yang lebih mudah dicapai di kota. Sedangkan ekonomi untuk desa justru menjadi ajang bancakan proyek yang menguntungkan segelintir pihak.

Ketika orang punya modal besar tentu dia akan membuat pabrik misalnya, tentu memilih di kota karena fasilitas listrik lebih stabil, pekerja lebih banyak, dan konsumen lebih dekat. Biaya produksi lebih murah. Laba pabrik bisa membangun pabrik baru di kota.

Sedangkan di desa, pemburu proyek lebih menguntungkan ketimbang membangun pabrik. Karena kurang strategis untuk mengembangkan usaha bagi mereka. Sehingga menghabiskan anggaran menjadi incaran.

Politik ekonomi Islam mampu mewujudkan pembangunan yang merata di desa maupun di kota. Sehingga Islam mampu meminimalisir terjadinya urbanisasi. Ini karena adanya jaminan pemenuhan kebutuhan orang per orang. Di mana pun ada manusia, akan dilakukan pembangunan ekonomi untuk melayani kebutuhannya.

Pembangunan dalam sistem Islam berbasis akidah Islam bukan berbasis keuntungan sebagaimana kapitalisme. Sehingga penguasa wajib memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya termasuk papannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Di antara bentuk kebahagiaan bagi seorang Muslim di dunia adalah jika dia memiliki tetangga yang saleh, tempat tinggal yang lapang, dan kendaraan yang nyaman.” (HR Ahmad Al-Hakim dan Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad)

Karakteristik desa memiliki ruang hidup yang berbeda dengan kota. Maka, masyarakat desa dan kota akan merasakan kesejahteraan ketika sistem Islam diterapkan. Tanpa menghilangkan ciri khas yang melekat pada ruang hidup mereka.

Misal di sektor pertanian dikelola dengan baik maka akan memajukan masyarakat desa. Insentif para petani akan bertambah seiring meningkatnya produktivitas pertanian. Hal ini akan tercapai jika didukung dengan sistem ekonomi Islam.

Baca Juga :  Hari Terbaik di Dunia

Di dalam sistem Islam, Khalifah melakukan inspeksi sampai ke pelosok desa sehingga tahu betul kondisi rakyat dan kebutuhan mereka. Ini adalah bentuk tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Dan Allah SWT akan meminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat.

Khalifah Umar rutin melakukan inspeksi, berpatroli tanpa sepengetahuan masyarakat. Untuk melihat langsung kondisi rakyatnya. Ketika beliau mengetahui ada keluarga yang kelaparan dan sedang memasak batu. Beliau sendiri memikul bahan makanan yang diambil di Baitul Mal untuk diantarkan kepada keluarga tersebut.

Khalifah juga mengelola kekayaan negara melalui Baitul Mal untuk kesejahteraan rakyat. Di desa maupun di kota. Sehingga rakyat bisa berkembang di wilayahnya sendiri khususnya masyarakat desa tanpa harus merantau ke kota.

Iklan
Iklan