RANTAU, Kalimantanpost.com – Pemerintah Kabupaten Tapin melalui Dinas Pertanian mulai memperkuat kemandirian benih padi untuk kebutuhan petani di Kabupaten Tapin di saat musim tanam. Hal itu terlihat di lahan pertanian Kelompok Tani Rawali Dua Desa Purut, Kecamatan Bungur, menggelar panen raya penangkaran benih padi Inpari 32 HBD, Selasa (19/5/2026).
Panen padi seluas 6,5 hektare dengan benih varitas Infari 32 dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Tapin drh Muhammad Triasmoro, pimpinan Muspika Kecamatan Bungur, Perwakilan Kecamatan Bungur, Kepala Desa Purut Suriansyah, Kelompok Tani Rawali Dua Desa Purut. Dengan dilakukan cara manual menggunakan aret dan kedua menggunakan mesin pemotong padi (combine).
Kepala Dinas Pertanian Tapin Muhammad Triasmoro mengatakan hasil panen varietas Inpari 32 menunjukkan peningkatan produktivitas. Jika sebelumnya rata-rata produksi berada di angka 5 ton per hektare, kini meningkat menjadi 5,9 ton per hektare.
“Kenaikan hasil ini menunjukkan varietas Inpari 32 cukup potensial dikembangkan di Tapin,” kata Triasmoro.
Menurut dia, pengembangan penangkaran benih menjadi langkah penting agar petani tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar daerah. Saat ini Tapin telah memiliki 29 penangkar benih yang tersebar di sejumlah wilayah kabupaten Tapin.
Pemerintah daerah, kata dia, juga memberikan dukungan berupa bantuan benih, pupuk, pupuk cair, hingga herbisida untuk menunjang produksi petani. Hasil panen petani penangkar kemudian dibeli kembali oleh perusahaan mitra sehingga memberi kepastian pasar.
“Kalau musim tanam tiba, petani cukup mencari benih di daerah sendiri,” ujarnya.
Triasmoro menilai keberadaan penangkar benih lokal akan mempercepat distribusi bibit unggul sekaligus menjaga kesinambungan produksi padi di Tapin.
Sementara Pemerhati pertanian Baehaki menyebut peningkatan produktivitas menjadi tantangan utama sektor pertanian di tengah berkurangnya lahan sawah akibat alih fungsi lahan.
Karena itu, menurut dia, peningkatan hasil panen harus dilakukan melalui penguatan budidaya dan penggunaan benih unggul. Pengembangan tersebut dilakukan melalui kerja sama kelompok tani dengan sejumlah perusahaan, seperti PT Sinamyang Indonesia, CV Cahaya Agro Mandiri, CV Cahya Agro Maju Bersama, dan CV Banua Barakat.
“Lahan pertanian semakin terbatas, sehingga produktivitas harus terus ditingkatkan agar hasil panen tetap naik,” kata Baehaki.
Ia menilai pola kemitraan antara petani dan perusahaan memberi dampak langsung terhadap keberlanjutan budidaya padi, terutama dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran hasil panen.
Dengan peningkatan hasil produksi itu, Tapin mulai membangun rantai benih mandiri sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai salah satu sentra produksi padi di Kalimantan Selatan. (abd/KPO-3)















