Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

NUMPANG LEWAT

×

NUMPANG LEWAT

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ade Hermawan

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang bergerak begitu cepat, kita sering kali terjebak dalam perlombaan yang tiada habisnya. Mengejar jabatan, mengumpulkan materi, hingga memburu pengakuan sosial seolah menjadi tujuan akhir dari segalanya. Kita mengerahkan seluruh energi, waktu, dan pikiran demi memantapkan posisi di dunia, seakan-akan kita akan menetap di sini selamanya. Padahal, jika kita mau sejenak berkaca dan merenung, semua riuh rendah ini sejatinya hanyalah sebuah persinggahan singkat. Dalam falsafah hidup yang sederhana namun mendalam, kita ini sebenarnya hanya sedang “numpang lewat”.

Kalimantan Post

Dalam esensi hidup yang sementara (numpang lewat), jabatan seharusnya digunakan sebagai alat untuk menebar manfaat dan keadilan, materi sebagai sarana untuk berbagi dan mencukupi kebutuhan tanpa keserakahan, dan pengakuan terbaik yang dikejar sejatinya bukanlah dari pandangan manusia, melainkan dari ketenangan hati yang datang dari keberkahan hidup.

Mengerahkan energi, waktu, dan pikiran untuk dunia tentu tidak dilarang, bahkan wajib hukumnya untuk memenuhi tanggung jawab hidup. Namun, kekeliruannya adalah ketika kita melakukannya tanpa kesadaran akan batas waktu. Jika kita menanam kesadaran bahwa kita hanya “numpang lewat”, maka seluruh energi, waktu, dan pikiran yang kita gunakan untuk memantapkan posisi di dunia itu akan diubah niatnya, yaitu bukan untuk pamer atau menetap selamanya, melainkan untuk membangun warisan kebaikan (keberkahan) yang bisa mengalir hingga kehidupan setelah dunia.

Istilah “numpang lewat” membawa pesan spiritual dan moral yang sangat kuat. Ia mengingatkan kita pada hakikat dasar kemanusiaan, yaitu bahwa dunia bukanlah destinasi, melainkan sekadar jembatan. Menganggap dunia sebagai rumah abadi adalah sebuah kekeliruan cara pandang yang sering kali menjadi akar dari rapuhnya etika dan moralitas manusia. Ketika seseorang merasa akan hidup selamanya atau menganggap dunia adalah segalanya, maka lahirlah sifat-sifat destruktif seperti keserakahan (tamak), kesombongan (takabur), hingga hilangnya rasa kepedulian terhadap sesama.

Baca Juga :  UU PPRT: Antara Harapan Perlindungan Dan Tantangan Kesejahteraan Perempuan

Seorang musafir yang tahu dirinya hanya singgah di sebuah penginapan tidak akan merusak fasilitas penginapan tersebut, tidak akan berebut kursi dengan tamu lain, dan tidak akan menumpuk perabot penginapan untuk dibawa pulang. Ia akan bersikap sopan, menjaga ketertiban, dan fokus mengumpulkan bekal terbaik untuk melanjutkan perjalanan. Dengan demikian, membenahi etika manusia tidak cukup hanya dengan memperketat aturan atau menambah sanksi hukum, melainkan harus dimulai dengan meluruskan kembali orientasi hidupnya, yaitu mengingatkan kembali bahwa dunia ini hanyalah persinggahan, bukan rumah abadi.

Secara esensial, sifat tamak, takabur, dan apatis bukanlah penyakit yang berdiri sendiri, melainkan gejala dari satu penyakit utama, yaitu hilangnya kesadaran bahwa kita hanya “numpang lewat”. Oleh karena itu, obat terbaik untuk mengikis sifat-sifat destruktif ini bukanlah sekadar nasihat moral sesaat, melainkan pemulihan kesadaran spiritual secara totalitas. Ketika seseorang mulai menyadari betapa rapuh dan singkatnya hidup di dunia, genggaman eratnya terhadap ego duniawi akan melonggar, dan perlahan akan digantikan oleh ketulusan, kerendahan hati, serta semangat untuk menebar kemaslahatan (keberkahan) bagi sesama.

Dalam panggung kehidupan modern, perangkap visual dan duniawi begitu memikat. Banyak orang yang rela menghalalkan segala cara demi meraih puncak karier atau menumpuk kekayaan, bahkan dengan mengorbankan integritas dan nilai-nilai kejujuran. Fenomena ini memperlihatkan betapa mudahnya manusia terbuai oleh fatamorgana.

Jika kita kembalikan pada falsafah bahwa hidup ini hanya “numpang lewat”, tindakan menghalalkan segala cara ini menjadi sebuah ironi yang sangat menggelikan sekaligus menyedihkan. Manusia rela mengotori tangannya, merusak nama baiknya, dan mengorbankan kedamaian batinnya demi meraih sesuatu yang sifatnya sementara. Puncak karier akan ada masa purnanya, dan harta yang melimpah tidak akan pernah bisa dibawa ke liang lahat.

Baca Juga :  SIAPA PERTAMA BERHAJI?

Kesuksesan sejati tidak terletak pada tingginya jabatan atau banyaknya materi, melainkan pada keteguhan kita dalam menjaga integritas di tengah badai godaan duniawi. Kekayaan dan jabatan barulah menjadi berkah jika diraih dengan cara-cara yang terhormat dan dijalankan dengan penuh amanah. Hidup yang sementara ini sering kali diisi dengan perebutan kekuasaan dan materi yang fana, sementara esensi sejati dari kehidupan itu sendiri, yaitu kemanfaatan bagi sesama dan kedamaian batin justru terabaikan.

Jika kita melihat dari kacamata yang lebih luas, apa yang kita banggakan hari ini akan menjadi usang esok hari. Jabatan yang disandang pasti akan purna, harta yang dikumpulkan akan ditinggalkan, dan raga yang gagah ini pun pada akhirnya akan menyatu kembali dengan tanah. Kesadaran bahwa kita hanya “numpang lewat” seharusnya menjadi rem darurat yang efektif untuk menahan laju ego dan nafsu serakah kita.

Iklan
Iklan