Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Ketika Sekolah Tak Lagi Seramai Dulu, Refleksi atas Sepinya Peminat di Sejumlah Sekolah

×

Ketika Sekolah Tak Lagi Seramai Dulu, Refleksi atas Sepinya Peminat di Sejumlah Sekolah

Sebarkan artikel ini

Oleh : RK Ariyandi
Praktisi Perbankan

Hari pertama sekolah selalu membawa suasana yang istimewa. Seragam masih tampak rapi, sepatu belum banyak terkena debu, dan wajah-wajah kecil menyimpan rasa ingin tahu. Di depan gerbang, orang tua melepas genggaman tangan anaknya dengan doa yang mungkin tidak pernah terucap. Para guru menyambut mereka dengan harapan bahwa dari ruang-ruang kelas itulah masa depan mulai dibentuk.

Kalimantan Post

Namun, tidak semua sekolah merasakan keramaian yang sama.

Pada tahun ajaran baru ini, sejumlah sekolah dasar negeri di Banjarmasin kembali menghadapi keadaan ketika jumlah peserta didik baru belum memenuhi daya tampung yang tersedia. Fenomena tersebut bukan hanya mengundang perhatian, tetapi juga memunculkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar berapa bangku yang belum terisi.

Keadaan ini perlu dibaca dengan jernih. Sekolah yang belum banyak dipilih masyarakat tidak serta-merta memiliki mutu yang rendah. Pilihan orang tua lahir dari banyak pertimbangan, mulai dari jarak rumah, keamanan lingkungan, fasilitas, kedisiplinan, kegiatan keagamaan, komunikasi guru, pengalaman keluarga, hingga kesan yang berkembang di tengah masyarakat.

Pada saat yang sama, kehidupan kota terus bergerak. Kawasan yang dahulu dihuni banyak keluarga muda dapat berubah menjadi lingkungan dengan jumlah anak usia sekolah yang lebih sedikit. Permukiman baru berkembang di wilayah lain, sementara pilihan pendidikan semakin beragam. Fenomena serupa juga mulai terlihat di beberapa kota lain di Indonesia. Penyebabnya memang tidak selalu sama, tetapi menunjukkan bahwa perubahan demografi, pola permukiman, dan preferensi masyarakat mulai memengaruhi wajah pendidikan dasar di berbagai daerah.

Dengan demikian, yang sedang berubah bukan hanya jumlah murid di beberapa sekolah. Peta kebutuhan pendidikan juga sedang bergeser.

Perubahan demografi menjadi salah satu konteks yang perlu diperhatikan. Data kependudukan menunjukkan bahwa jumlah anak dalam keluarga Indonesia cenderung semakin kecil dibandingkan masa lalu. Di banyak tempat, perubahan ini berjalan beriringan dengan bergesernya kawasan permukiman, berpindahnya keluarga muda ke wilayah baru, dan semakin beragamnya pilihan pendidikan yang tersedia bagi orang tua.

Baca Juga :  Program MBG Jadi Bancakan Korupsi, Hentikan Atau Evaluasi Total!

Keadaan tersebut tentu tidak dapat dijadikan satu-satunya penjelasan atas sepinya peminat di sejumlah sekolah Banjarmasin. Setiap sekolah memiliki kondisi lingkungan, sejarah, fasilitas, dan tingkat kepercayaan masyarakat yang berbeda. Namun, perubahan jumlah anak usia sekolah tetap penting dibaca karena akan memengaruhi kebutuhan ruang kelas, persebaran guru, serta keberlanjutan layanan pendidikan pada tahun-tahun mendatang.

Dalam kehidupan ekonomi, perubahan kebutuhan selalu menuntut penyesuaian cara mengelola sumber daya. Pendidikan pun demikian. Sekolah, guru, ruang kelas, sarana, dan anggaran merupakan sumber daya publik yang harus terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Keberhasilan sekolah memang tidak dapat diukur hanya dari terpenuhinya daya tampung, tetapi juga dari kemampuannya membantu setiap anak memperoleh pengetahuan, membangun karakter, dan tumbuh dengan percaya diri.

Cara pandang inilah yang membawa kita pada pertanyaan yang lebih penting: bukan siapa yang harus disalahkan, melainkan apa yang perlu dilakukan bersama.

Pemerintah daerah perlu terus memperbarui peta layanan pendidikan berdasarkan jumlah anak usia sekolah, perkembangan permukiman, jarak antarsekolah, daya tampung, kondisi sarana, dan persebaran guru. Perencanaan tidak cukup hanya menjawab kebutuhan satu musim penerimaan murid baru, tetapi juga harus mampu membaca arah perubahan kota beberapa tahun ke depan.

Penataan atau penggabungan sekolah dapat menjadi salah satu pilihan apabila benar-benar didukung oleh data yang kuat. Namun, langkah tersebut harus dilaksanakan secara terbuka dan manusiawi. Di balik setiap sekolah terdapat guru yang telah lama mengabdi, alumni yang menyimpan kenangan, masyarakat yang merasa memiliki, serta anak-anak yang membutuhkan akses belajar yang mudah. Efisiensi penting, tetapi tidak boleh mengurangi mutu dan keterjangkauan layanan pendidikan.

Sekolah juga perlu dibantu menemukan kekuatannya sendiri. Kepercayaan masyarakat tidak tumbuh dari promosi semata, melainkan dari pengalaman yang nyata. Orang tua akan melihat apakah guru peduli kepada murid, apakah lingkungan sekolah aman, apakah pembelajaran berlangsung menyenangkan, dan apakah komunikasi dengan keluarga berjalan baik.

Baca Juga :  DIBALIK LELAKI SUKSES

Setiap sekolah memiliki peluang untuk mengembangkan keunggulannya sesuai dengan karakter lingkungan. Ada yang memperkuat literasi dan numerasi, ada yang menonjolkan pendidikan karakter, seni, olahraga, teknologi, budaya Banjar, maupun pembelajaran yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Keunggulan tidak selalu lahir dari bangunan yang megah. Bagi banyak orang tua, guru yang mengenal setiap anak dengan baik dan sekolah yang membuat anak merasa aman justru menjadi alasan paling berharga.

Jumlah peserta didik yang lebih sedikit pun dapat menjadi kesempatan untuk memberikan perhatian belajar yang lebih personal. Namun, kesempatan itu hanya akan bermakna apabila didukung mutu pengajaran, kepemimpinan sekolah, dan fasilitas yang memadai.

Masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Alumni, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan warga dapat ikut menghidupkan sekolah melalui kegiatan literasi, penguatan perpustakaan, pendidikan budaya, pengenalan profesi, maupun pendampingan teknologi. Sekolah yang tumbuh bersama lingkungannya akan lebih mudah membangun kepercayaan masyarakat.

Apa yang terjadi di Banjarmasin dapat menjadi pelajaran berharga bagi perencanaan pendidikan di Kalimantan Selatan. Setiap daerah memang memiliki karakter yang berbeda, tetapi semuanya membutuhkan keberanian yang sama untuk membaca perubahan sebelum persoalan menjadi semakin besar.

Pada akhirnya, fenomena sekolah yang sepi peminat tidak seharusnya berhenti sebagai berita setiap musim penerimaan murid baru. Ia perlu menjadi momentum untuk memperbaiki perencanaan, memeratakan mutu, dan memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang sama baiknya, di sekolah mana pun mereka berada.

Kelak, anak-anak mungkin tidak akan mengingat berapa banyak teman yang duduk bersama mereka pada hari pertama sekolah. Yang akan mereka ingat adalah guru yang sabar mengajarkan membaca, teman yang menemani mereka bertumbuh, dan sekolah yang memberi keberanian untuk bermimpi.

Karena itu, tugas kita bukan sekadar membuat sekolah kembali ramai. Tugas yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap sekolah tetap menjadi tempat yang layak bagi tumbuhnya harapan dan masa depan anak-anak Banua.

Iklan
Iklan