PALANGKA RAYA, Kalimantanpost.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, melalui Dinas Kehutanan terus melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), dan guyuran hujan buatan selama satu jam terbukti menurunkan jumlah hotspot atau titik panas.
Hingga Selasa (8/9/2026) di Provinsi Kalteng tercatat 950 titik hot spot. Angka ini menurun tajam dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai 1.824 titik.
Bahkan hal itu jauh lebih rendah dibandingkan puncak tertinggi pada 6 September dengan 5.746 titik.
Data ini dirilis Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng, bersumber dari laman sipongi.gakkum.kehutanan.go.id dengan tingkat kepercayaan Medium–High. Pemantauan berlangsung dalam masa Status Tanggap Darurat Karhutla yang berlaku sejak 31 Agustus hingga 29 September 2026.
Perkembangan jumlah hotspot harian, fluktuasi jumlah hotspot selama periode 1–8 September 2026 adalah sebagai berikut:
01 September: 7.081 titik
02 September: 4.861 titik
03 September: 3.552 titik
04 September: 4.436 titik
05 September: 5.357 titik
06 September: 5.746 titik
07 September: 1.824 titik
08 September: 950 titik
Persebaran Hotspot per Kabupaten/Kota (per 8 September 2026), yakni : Barito Selatan 16 hotspot, Barito Timur 3 hotspot, Barito Utara 3, Gunung Mas 10, Kapuas 55, Katingan 48, Kota Palangka Raya 84, Kotawaringin Barat 40, Kotawaringin Timur 125, Lamandau 4, Murung Raya 12, Pulang Pisau 341, Seruyan 86 dan Sukamara 123 hotspot.
Kepala Dinas Kehutanan Kalteng, Agustan Saining, menyambut baik penurunan jumlah hotspot tersebut, namun mengingatkan agar tidak menurunkan kewaspadaan.
“Hotspot menurun tidak berarti kita menurunkan kewaspadaan. Angka yang turun ini menunjukkan upaya pengendalian berjalan, tetapi potensi api masih ada dan bisa kembali meningkat sewaktu-waktu,” ucapnya, Rabu (9/9/2026).
Diungkapkan, status tanggap darurat masih berlaku hingga 29 September 2026, sehingga pemantauan dan penanganan harus terus dilakukan di seluruh wilayah, khususnya daerah yang masih mencatat angka tinggi seperti Pulang Pisau dengan 341 titik, diikuti Kotawaringin Timur 125 titik, dan Sukamara 123 titik.
Dikatakan, pihaknya tetap memantau setiap titik yang terdeteksi. Sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, perusahaan, serta masyarakat di lapangan menjadi kunci utama agar hotspot tidak kembali meningkat.
“Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan jika melihat titik api di sekitar lingkungannya,” jelasnya. (drt/ist/KPO-4)















