Banjarmasin,KP – Anggota komisi IV DPRD Kota Banjarmasin Ir Sukrowardi M.AP merespon positif atas target Pemko Banjarmasin menurunkan prevalensi stunting minimal hanya pada angka 14 persen pada tahun 2024.
Kendati demikian ia mengingatkan, capaian yang juga ditargetkan pemerintah secara nasional itu diharapkan melalui sejumlah program dilaksanakan harus sesuai dengan kondisi sebenarnya.
” Tak terkecuali menyangkut soal pendataan harus benar-benar dilaksanakan secara akurat sesuai fakta sebenarnya yang ada di lapangan,” katanya.
Hal itu disampaikannya kepada (KP) Jumat (21/10/2022) menanggapi masih cukup tingginya penderita stunting sejumlah daerah Indonesia termasuk Kota Banjarmasin.
Menurutnya, sehubungan gangguan pertumbuhan pada anak ini capaian penurunan stunting dianggap sebagai capaian sebuah prestasi bagi setiap pemerintah daerah.
Oleh karena itu kata Sukrowardi kembali menandaskan, karena dianggap sebagai sebuah prestasi bisa saja angka stunting yang diklaim turun oleh pemerintah daerah sebaliknya tidak sesuai data akurat yang ada di masyarakat.
Sebagaimana diketahui stunting adalah gagal tumbuh kembang anak. Salah penyebab utamanya akibat kekurangan gizi kronis dengan ciri tumbuh pendek di bawah standar usia anak.
Lebih jauh anggota dewan dari Fraksi Partai Golkar ini menilai, bahwa akibat berbagai keterbatasan terutama pengetahuan dan masalah ekonomi pemahaman sebagian masyarakat terhadap stunting masih rendah.
” Menyikapi ini,maka dibutuhkan solusi untuk mengatasi persoalan tersebut. Seperti memberikan pengetahuan kepada masyarakat agar memberikan pola makan anak dengan gizi yang seimbang,” ujarnya.
Kembali Sukrowardi menandaskan, jika terjadi pendataan dan penanganan stunting tidak sesuai data, maka dikhawatirkan target penurunan stunting 2024 tidak akan bisa tercapai.
Lebih jauh anggota komisi diantaranya membidangi masalah kesehatan ini berharap, melalui petugas kesehatan serta kader posyandu yang diterjunkan Pemko Banjarmasin terus meningkatkan sosialisasi dalam rangka memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada masyarakat untuk mencegah kekurangan gizi (stunting) terhadap anak.
“Memberikan pengetahuan dan pemahaman sangat penting karena para orang tua lah yang setiap hari mengurus dan mengawasi pertumbuhan anaknya agar bisa tumbuh sehat,” tutup Sukrowardi. (nid/K-3)















