Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Orang Muda Berprestasi
(Mengenang Jamal T Suryanata dan Sarmuji Arjan)

×

Orang Muda Berprestasi<br>(Mengenang Jamal T Suryanata dan Sarmuji Arjan)

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ahmad Barjie B
Penulis buku “Mengenang Ulama dan Tokoh Banjar”

Di sepertiga awal Februari 2023 ini, masyarakat Kalsel kehilangan setidaknya dua orang tokoh muda yang berprestasi. Pertama, Jamaluddin (56) atau yang lebih dikenal dengan nama pena Jamal T Suryanata, seorang sastrawan Banjar terkenal, meninggal dunia di Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut pada 4 Februari. Kedua, Sarmuji bin Arjan (53), Ketua KPU Kalsel, meninggal pada 11 Februari. Jamal kelahiran Kandangan 1 September 1966 meninggal karena sakit dan dikebumikan di Pelaihari, Sarmuji kelahiran Anjir-Batola 53 tahun lalu, juga meninggal karena sakit dan dikebumikan di kampung halamannya.

Kalimantan Post

Meskipun iklan dukacita meninggalnya kedua tokoh ini sudah banyak dimuat media massa dan media sosial disertai ungkapan dukacita dan doa berbagai pihak, namun meninggalnya dua tokoh muda ini, tetap perlu digarisbawahi lebih jauh. Walaupun penulis lebih tua dari mereka, namun cukup mengenal dari kiprah mereka di dunianya masing-masing.

Sastrawan Banjar

Jamaluddin bekerja di Kesbangpol Tanah Laut sebagai Kepala Bidang Ideologi dan Wawasan Kebangsaan. Teman akrab Bupati Tanah Laut, Sukamta ini sebelumnya sebagai Sekretaris Dinas Sosial, lama menjadi guru dan Ketua PGRI Tanah Laut. Jauh sebelumnya Jamal T Suryanata, yang kadang juga menulis dengan nama Jamaluddin el-Banjary, sejak masa remaja sudah aktif di dunia sastra dan tulis menulis. Abdul Ghani, mantan pejabat di lingkungan Pemko Banjarbaru, yang rumahnya di Pelaihari berdekatan dengan rumah Jamal menyatakan bahwa ia sejak sekolah SMP sudah mengenal nama Jamal karena keaktifan Jamal dalam dunia sastra, baik sastra lisan maupun tulisan.

Jamal tidak hanya mengenyam pendidikan S1 dan S2 dalam program studi Sastra dan Bahasa dari STIKIP PGRI dan FKIP ULM Banjarmasin, ia juga seorang praktisi yang konsen sekali dalam mendalami bidang yang satu ini. Karena itu pengetahuan dan daftar pengalamannya di bidang sastra sangat luas, mendalam dan panjang. Ia sering menjadi peserta atau tampil sebagai pemakalah pada temu sastra nasional dan regional. Hadiah-hadiah sastra juga banyak ia dapatkan. Karyanya di bidang sastra sangat banyak, baik berupa tulisan pendek, makalah dan juga buku.

Baca Juga :  Mamajuakan Banua

Selama ini tidak banyak orang Banjar yang mampu menulis sastra atau kritik sastra hingga ke media ibukota, namun Jamal mampu menampilkan tulisannya di koran nasional Kompas dan majalah sastra bergengsi Horison, sesuai dengan bidang yang diminatinya, baik sastra nasional maupun Banjar. Jamal juga menguasai dengan baik karya-karya klasik ulama Banjar tempo dulu. Kehidupan orang Banjar di perantauan, termasuk sastranya, tidak luput dari amatannya. Tulisan dan buku-buku karya Jamal banyak dijadikan referensi. Kita merasa berhutang budi padanya.

Saya terakhir bertemu Jamal saat bedah buku “Tatarang Tangguk Memahami Peribahasa Banjar” karya Noorhalis Majid di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, pimpinan Dra Hj Nurliani M.AP (Ibu Nunung) lebih setahun lalu. Sebenarnya ada rencana saya bersama Aliansyah Jumbawuya, agar buku yang kami susun berjudul “Kisah-kisah Tematik Banjar Nusantara dan Dunia” yang diterbitkan oleh Dispersip Kalsel juga dibedah oleh Bung Jamal. Bahkan saat ini saya sudah merampungkan naskah buku berjudul “Nilai-nilai Pendidikan dalam Tunjuk Ajar Melayu Riau, Pitaruah Mandeh Minang dan Pantun Babasa Banjar”, nantinya juga dibedah oleh Jamal, karena dialah yang ahli di bidang ini. Namun Allah swt menghendaki lain, dia meninggal dunia sebelum rencana kami terwujud dan buku ini sempat saya terbitkan. Untunglah sebagian kita masih memiliki beberapa karya Jamal, sehingga meskipun ia sudah meninggal, namun kita yang hidup masih bisa belajar lewat karyanya.

Ahli Kepemiluan

Beda lagi dengan Sarmuji Arjan, dia Ketua KPU Kalsel yang masih aktif hingga meninggal. Saya sebenarnya lebih kenal dengan kakaknya, yaitu Musa Arjan (alm) yang seangkatan kuliah, juga adiknya Ahmad Noor Arjan (alm). Sarmuji Arjan jauh lebih muda. Meskipun demikian, nama Sarmuji cukup dikenal dan pengalaman Sarmuji melebihi orang-orang yang seangkatan bahkan lebih tua darinya.

Baca Juga :  Menyiram Tanaman dan Menjaga Alirannya: Refleksi tentang Kebijakan Pendidikan yang Adil dan Edukatif

Menurut informasi Ust Drs Sarmiji Asri MHI yang bersama Prof Dr Fathurrahman Azhari MH berkenan melayat dan mengantarkan almarhum ke kubur, Sarmuji saat ini tercatat sebagai Ketua KPU Kalsel, setelah periode sebelumnya sebagai anggota. Ia juga pernah menjadi anggota KPU Tapin. Tugas-tugas kepemiluan, yang ditangani oleh KPU tentu rumit, kompleks dan krusial, tidak mudah untuk menjalankannya dengan baik. Para pengurus KPU tak hanya harus menguasai peraturan dan perundang-undangan, tetapi juga harus memiliki managerial skill dan human skill karena harus berhadapan dengan sejumlah orang dan partai politik serta massa yang tidak jarang melakukan protes dan gugatan-gugatan.

Selama ini, penyelenggaraan Pemilu di Kalsel lancar, sukses dan kondusif. Semua ini tentu tidak lepas dari kontribusi Sarmuji beserta para komisioner dan staf KPU Kalsel serta KPU kabupaten/kota. Sarmuji tergolong sukses menakhodai KPU Kalsel, menyusul seniornya seperti Dr H Mirhan dan Prof Dr H Abdul Hafiz Anshari yang juga sama-sama berasal dari IAIN Antasari Banjarmasin.

Sarmuji seorang aktivis organisasi sejak muda. Setelah menjadi PNS, sehari-hari bekerja sebagai dosen dan Ketua Program Studi Hukum Tata Negara pada Fakultas Syariah UIN Antasari, dan masih menjalani kuliah program doktor S3 pada Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin. Di organisasi ekstra ia duduk di pengurus NU, HMI dan KAHMI Kalsel.

Di samping cerdas, berwawasan luas, Sarmuji juga dikenal peramah dan supel bergaul dengan kalangan mana saja. Itu sebabnya, begitu ia meninggal banyak kalangan dan kenalannya terkejut, sebagian sempat melayat ke rumah duka, dan sebagiannya hanya bisa mendoakan dari kejauhan.

Melihat kisah singkat di atas, jelas kedua tokoh adalah orang yang berprestasi sejak muda. Banyak kiprah dan jasa yang telah mereka torehkan sesuai bidang kompetensi dan keahliannya. Kita doakan semoga keluarga yang ditinggalkan selalu sabar, ada generasi penerusnya dan mereka meninggal husnul khatimah, berlimpah rahmah dan maghfirah. Semoga pahala amal ibadahnya dilipatgandakan oleh Allah SWT. Aamiin.

Iklan
Iklan