Oleh: DR Syafiq Riza Basalamah Lc MA
Mitos bulan Safar dalam tradisi masyarakat Jahiliyah. Tidak sebatas memaju mundurkan penanggalan seenaknya, masyarakat Jahiliyah juga membawa kebiasaan (yang sayang sekali) juga diikuti sebagian negeri yang notabene mayoritas muslim. Yaitu meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan yang penuh kesialan.
Seorang Muslim Hendaknya Meyakini Bahwa Segala Sesuatu yang Terjadi adalah Ketetapan Allah
Bentuk nyata dari keimanan seorang muslim adalah keimanannya terhadap ketetapan-ketetapan Allah azza wajalla. Ia yakin bahwa Allah azza wajalla telah menetapkan bagian dari seluruh yang ada di alam semesta dengan porsinya masing-masing. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya (yang artinya),
“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Al Furqan : 2).
“Allah azza wajalla tidak menjadikan hal-hal seperti angka, hari, atau burung sebagai penyebab kesialan.”
Sebagian orang bahkan percaya bahwa pada hari-hari tertentu mereka tidak boleh membuka toko, karena takut kalau buka toko di hari itu akan membuat mereka bangkrut. Jika ditanya mengapa, seringkali mereka menjawab, “Karena nanti akan ada malapetaka.” Sampai sejauh itu mereka percaya, padahal ini semua hanyalah keyakinan yang tidak berdasar.
Dalam sebuah hadis, Rasululullah menyampaikan bahwa Allah azza wajalla berfirman dalam hadis qudsi.
“Aku sebagaimana persangkaan hamba-Ku.” (HR Bukhari, no. 7400 dan Muslim, no. 2675)
Anggapan Sial dalam Sebuah Hari Tertentu Bukan Ajaran Islam
Barangsiapa yang meyakini bahwa dalam sebagian masa terdapat kesialan dan tidak dengan masa yang lainnya, maka sungguh ia telah mengikuti jejak masyarakat Jahiliyah dalam berkeyaninan. Sebagaimana tersebut dalam pelajaran sebelumnya, bahwa sejarah Islam merekam banyak peristiwa bersejarah dan membahagiakan bagi kaum Muslimin terjadi di bulan ini. Bagaimana mungkin orang-orang yang selamat hatinya akan mengikuti keyakinan batil tersebut?!
Dipublikasikan Oleh Tim Ilmiah Elfadis