Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Puasa dan Pencerahan

×

Puasa dan Pencerahan

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : Ahmad Barjie B
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Kupu-kupu adalah salah satu serangga yang indah. Ketika seekor kupu-kupu terbang atau merubung bunga, tampak betapa indahnya dia, sama indahnya dengan bunga itu sendiri. Tetapi sebelum menjadi kupu-kupu dewasa (imago), kita semua tahu bahwa ia harus melalui proses metamorfosis. Setelah berupa telur, ia harus menjadi larva, kemudian pupa dan seterusnya imago. Ketika berupa larva (ulat/belatung), ia adalah makhluk lunak dan menjijikkan. Begitu pula saat menjalani fase kepompong (pupa), bentuknya sama sekali tidak menarik dan tidak berdaya. Tapi setelah itu, ia pun menjelma menjadi kupu-kupu dengan bulu dan sayap yang indah beraneka warna, dan jadilah ia terbang bebas mencari berbagai bunga yang disuka, sambil mengisap madunya dan ikut berjasa dalam pembuahan aneka tumbuhan.

Kalimantan Post

Mengapa sang kupu-kupu bisa menjadi makhluk indah dan bemakna, tidak lain karena ia rela dan telah lulus melewat proses sebagai kepompong. Di masa menjadi kepompong inilah ia menjalani ujian berat, yaitu berpuasa, tidak makan dan minum, sehingga tubuhnya kering kerontang dan lemah tidak berdaya. Sekiranya ia tidak mau berpuasa sebagai kepompong, maka ia tidak akan pernah menjadi kupu-kupu.

Contoh di atas sama berlaku untuk hewan lain, katakanlah ayam dan itik. Di kala mengeram telur, pada dasarnya mereka berpuasa. Sanggup menahan makan, minum dan berjalan-jalan, sehingga badannya ringan bagai kapas, bahkan ada kalanya mereka mati di kandang atau tempatnya bertelur karena saking lapar dan hausnya. Sekiranya mereka terlalu banyak makan dan minum, meninggalkan tugasnya, bahkan menginjak tempat becek atau mandi-mandi, tentu tugasnya mengeram telur akan gagal, dan banyak dari telur yang rusak alias tambuk.

Tumbuhan juga demikian, sebelum berbunga dan berbuah, biasanya mereka mengalami musim rontok/gugur. Di musim tanpa daun ini mereka rela menanggalkan keindahan, sebab dengan tanpa daun seolah pohon itu telah mati. Tapi dengan tanpa daun mereka sanggup berpuasa, sebab hanya menyerap air dan makanan dari tanah seperlunya saja. Dengan seberkas embun tipis di musim kemarau, mereka sanggup bertahan hidup. Setelah waktunya berlalu, mereka pun menunjukkan kedigjayaannya, yaitu menampakkan musim bunga, dan selanjutnya menghasilkan buah untuk dimanfaatkan manusia dan makhluk lain.

Baca Juga :  PUASA MENGASAH KEPEKAAN

Ilustrasi nyata di atas menunjukkan, siapa saja yang ingin meningkatkan kualitas dirinya dan sukses dalam mengemban tugasnya, baik itu hewan maupun tumbuhan, ia harus menjalani proses berpuasa. Apalagi bagi manusia yang sejak azali sudah dicanangkan Tuhan sebagai khalifatullah fil ardh. Adalah mustahil manusia mampu mengemban tugas kekhalifahan bila ia tidak mau berpuasa sesuai syariat agamanya. Itu sebabnya sepanjang zaman, syariat berpuasa selalu ada. Tegasnya sebelum kita umat muslim berpuasa, umat terdahulu juga melakukan hal sama, begitu pula sebagian umat lain di masa kini.

Inti ibadah puasa, baik puasa wajib di bulan Ramadhan maupun puasa sunat di bulan lain adalah menahan dan mengendalikan diri dari makan, minum, bergaul suami istri dan melakukan perbuatan tercela dalam waktu yang ditentukan. Kalau pelaku puasa hanya mampu menahan mkan, minum dan bersetubuh, maka puasanya masih tergolong awam, hanya melepaskan kewajiban. Tapi bagi mereka yang mampu mengisinya dengan ibadah dan amal saleh lainnya, ditambah dengan kemampuan menjauhi maksiat lahir dan batin, maka itulah puasa khusus yang berkualitas plus.

Para pemimpin adalah orang yang berada di atas awam, sehingga mereka diistilahkan dengan elit. Istilah elit tentu saja tidak menghendaki eksklusivisme, melainkan bahwa para elit haruslah memiliki kualitas lebih dibanding orang awam. Mereka harus mampu menjadi pemimpin yang baik di segenap lini, baik formal maupun informal, baik eksekutif, legislatif, yudikatif dll. Kalau kualitas dan mentalitas mereka sama bahkan lebih jelek dari orang awam, maka mereka tidak perlu menjadi pemimpin yang digaji besar, sebab tidak akan membawa perubahan, pencerahan dan perbaikan.

Dewasa ini kita banyak memiliki pemimpin di segenap jajaran dan lapisan, namun mencari pemimpin yang baik, tampaknya kita masih sangat kesulitan. Kerusakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, sangat boleh jadi disebabkan terjadinya krisis kepemimpinan. Sebuah hadits mengatakan, ada dua golongan di antara manusia, bila keduanya baik maka baiklah seluruh manusia dan bila rusak, rusak pulalah seluruh manusia, itulah ulama dan umara (penguasa).

Baca Juga :  MENJAGA LAILATUL QADAR

Krisis kepemimpinan bukan karena kurangnya kuantitas orang, tapi karena lemahnya kualitas dan integritas, baik kualitas profesional dan kompetensi maupun kualitas kepribadian, mentalitas atau integritas. Salah satunya adalah lemahnya pengendalian diri. Orang yang tidak kapabel dan kompeten memaksakan ambisinya untuk menduduki jabatan-jabatan publik, padahal ada orang lain yang lebih layak dan kompeten. Para elit juga tidak bisa mengendalikan ucapan dan tindakannya, sehingga cenderung bacakut papadaan untuk berebut pengaruh dan kekuasaan, dengan mengabaikan amanah rakyat yang mesti diprioritaskan untuk diperjuangkan, bahkan tidak jarang justru membuat rakyat dan umat resah dan bingung. Dan tidak bisa disangkal, para pemimpin juga tidak bisa mngendalikan diri untuk mengejar kekayaan dan kedudukan, sehingga KKN pun marak dalam berbagai bentuknya.

Justru itu kita harapkan, ibadah puasa yang dilaksanakan mampu memberi nilai plus setelah puasa diselesaikan. Jangan sampai puasa hanya dijalani secara formalitas belaka, sehingga setelah berpuasa kualitas kepribadian kita berjalan di tempat dan tidak meningkat. Alangkah naifnya kita, bila kalah dengan binatang atau tumbuhan yang setelah berpuasa selalu menghasilkan kualitas terbaik dan memberi manfaat bagi orang lain. Manusia adalah termulia di antara semua makhluk, jadi sudah sepantasnya bila memiliki kualitas diri yang tinggi dengan akhlak terpuji dan memberi manfaat bagi orang. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang bagus akhlaknya dan banyak manfatnya bagi orang lain. Kelebihan, kesuksesan dan kemuliaan diri seseorang tidak terletak pada sejauhmana ia mampu menikmati hidup dan meraih kesuksesan sendiri, melainkan kepeduliaannya untuk membantu, memberdayakan dan memuliakan orang lain.

Iklan
Iklan