Banjarbaru, KP – Inovasi sederhana berbasis masyarakat mulai menunjukkan dampak nyata dalam pengelolaan sampah di Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin. Program “Suster Santi” (Sumur Komposter Sanitasi) yang digulirkan sejak 27 Maret 2026 kini telah membangun 15 unit sumur komposter yang aktif dimanfaatkan warga.
Di tengah persoalan klasik sampah perkotaan, inovasi ini hadir sebagai solusi konkret dari tingkat rumah tangga. Suster Santi merupakan sumur komposter sedalam sekitar satu meter yang digunakan untuk mengolah sampah organik seperti sisa makanan, daun kering, dan limbah dapur agar terurai menjadi kompos secara alami.
Inovasi ini diinisiasi Ketua RT 33 RW 07, Yoni Setiawan, bersama warga setempat. Ia menyebut, ide tersebut berangkat dari keresahan terhadap tingginya volume sampah rumah tangga yang selama ini bergantung pada sistem angkut buang ke TPS dan TPA.
“Suster Santi ini muncul dari kegelisahan kami melihat sampah yang terus menumpuk. Padahal sekitar 50 persen adalah sampah organik yang sebenarnya bisa diolah di rumah,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, satu unit sumur komposter dimanfaatkan oleh sekitar enam rumah tangga secara bergiliran. Pengelolaan dilakukan secara terkoordinasi dengan pemantauan rutin setiap pekan untuk memastikan proses penguraian berjalan optimal dan tetap higienis.
“Dalam satu minggu saja, volume sumur bisa terisi hingga 50 persen. Ini menunjukkan kebutuhan fasilitas ini memang nyata. Karena itu kami menambah titik baru dengan dana pribadi agar pengelolaan tetap berjalan baik,” jelas Yoni.
Langkah tersebut terbukti efektif dalam mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke tempat pembuangan. Selain itu, hasil penguraian juga dimanfaatkan kembali sebagai pupuk kompos bagi tanaman warga.
Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat, jumlah sumur komposter terus bertambah. Hingga pertengahan April, total 15 unit telah terbangun dan dinilai mampu menekan signifikan volume sampah organik di lingkungan tersebut.
Camat Landasan Ulin, Dinny Wahyuni, memberikan apresiasi atas inisiatif warga tersebut. Menurutnya, Suster Santi tidak hanya menjadi solusi teknis, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah.
“Inovasi ini adalah langkah nyata yang menyentuh langsung kebiasaan sehari-hari warga. Kesadaran memilah dan mengelola sampah dari rumah menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan yang bersih,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika dilakukan secara konsisten, gerakan ini akan memberikan dampak besar terhadap pengurangan volume sampah kota secara keseluruhan.
Pihak kecamatan, lanjutnya, akan terus mendukung melalui pembinaan, sosialisasi, serta kolaborasi lintas sektor agar inovasi ini dapat berkelanjutan dan direplikasi di wilayah lain.
“Kami berharap Suster Santi bisa menjadi contoh praktik baik bagi daerah lain,” pungkasnya.(Dev/K-5)’















