Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Kalsel

Dampak Menciptakan “Orang Miskin Baru”, Kalsel Termasuk Tertinggi

×

Dampak Menciptakan “Orang Miskin Baru”, Kalsel Termasuk Tertinggi

Sebarkan artikel ini
1 15 klm menag
Menag RI, KH Nasaruddin Umar

Banjarmasin, KP – Meski ada sekitar 200 ribu pasangan yang melangsungkan pernikahan di Tanah Air.

“Namun di sisi lain, fenomena perceraian juga sangat marak, dan wilayah kalimantan Selatan (Kalsel)

Kalimantan Post

termasuk tertinggi,” kata Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA.

Itu disampaikannya saat melantik Pengurus Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Provinsi Kalsel di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, pada Minggu (9/8).

Menag menyoroti tingginya angka perceraian di Indonesia.

Ia menyebut setiap tahun ada sekitar 200 ribu pasangan melangsungkan pernikahan di Tanah Air.

Namun di sisi lain, fenomena perceraian juga sangat marak.

“Kalsel termasuk provinsi dengan tingkat perceraian paling tinggi,” ujar Menag.

Yang lebih mengejutkan, Nasaruddin mengungkap data bahwa 65 persen perceraian saat ini diajukan oleh pihak istri.

“Kalau dulu suami yang menceraikan istri, tapi fenomena terbalik sekarang.

Di kota-kota besar termasuk di Kalsel Banjarmasin justru yang dominan istri menceraikan suami. Makanya hati-hati para suami,” tegasnya.

Menag mengingatkan perceraian adalah hal yang halal namun paling dibenci Allah.

Dampaknya, akan menciptakan “orang miskin baru”.

“Karena kalau terjadi perceraian dipastikan ada orang miskin baru di tempat kita.

Siapa?, anak dan istri. Tadinya diantar bapaknya ke sekolah, sekarang tidak ada yang antar dan pindah ke sekolah dekat rumah yang bocor-bocor. Kasian istri dan anak stres,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung stigma sosial terhadap janda di budaya Indonesia. “Di budaya kita posisi janda itu sangat prihatin, beda dengan duda. Kalau duda tidak ada bekasnya, datang ke kota lain bilang saya bujang, beres.

Tapi kalau istri tidak bisa dikatakan masih gadis dan ada bekas,” ucapnya.

Baca Juga :  Ombudsman Mulai Penilaian Maladministrasi 2026 di Kalsel, Sasar 85 Unit Layanan

Menag mengaitkan perceraian dengan kenakalan anak.

Berdasarkan survei, katanya, banyak anak nakal berasal dari keluarga broken home.

“Jangan sampai orang tuanya egois, anaknya jadi korban.

Mari kita menyadari hal ini,” imbaunya.

Lebih jauh, Menag menyoroti tren global penurunan angka pernikahan. Di negara-negara seperti Prancis, Korea, Jepang, dan Amerika, angka perkawinan turun tajam sekitar 40 persen.

“Mereka tidak mau kawin lagi sebab ada istri itu merepotkan, anak juga merepotkan.

Akibatnya mereka jajan, mereka zina. Fenomena ini mulai merambat di kota-kota besar dunia termasuk DKI Jakarta.

Saya punya data statistiknya,” ujarnya.

Padahal, lanjutnya, menikah adalah sunnah Rasulullah jika sudah memenuhi syarat.

Menag merinci ada 13 faktor penyebab perceraian.

Di antaranya faktor ekonomi, jenjang pendidikan, TKW yang terlalu lama di luar negeri, dan kriminal karena terlalu lama di penjara.

“Yang menarik ada faktor politik. Ada satu provinsi 500 pasang cerai gara-gara politik.

Gara-gara suami memilih si A dan istrinya memilih si B, sehingga mereka cerai. Begitu rapuhnya kita sekarang,” katanya.

Menutup arahannya, Menag meminta Kanwil Kemenag Kalsel bersama jajaran BP4 untuk memperkuat pembinaan rumah tangga.

“Mari kita perkuat rumah tangga kita.

Mohon perceraian ini dibatasi, jangan terlalu emosi sehingga anak kita yang jadi korban,” ucapnya. (*/ham/K-2)

Iklan
Iklan