Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Kartini Digital: Literasi Informasi di Era AI

×

Kartini Digital: Literasi Informasi di Era AI

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

Setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai momentum refleksi atas perjuangan emansipasi perempuan. Namun, di tengah arus transformasi digital yang kian cepat, makna emansipasi tidak lagi sebatas akses pendidikan formal atau kesetaraan sosial semata. Hari ini, tantangan baru muncul dalam bentuk yang lebih kompleks: bagaimana memastikan setiap individu, khususnya perempuan, mampu mengakses, memahami, dan memanfaatkan informasi secara kritis di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Kalimantan Post

Di era digital, informasi tersedia dalam jumlah yang melimpah. Ironisnya, kelimpahan ini tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pemahaman masyarakat. Justru, banjir informasi sering kali memunculkan persoalan baru seperti misinformasi, disinformasi, hingga bias algoritma. Dalam konteks ini, literasi informasi menjadi kunci utama. Literasi informasi bukan sekadar kemampuan membaca atau mencari informasi, melainkan kemampuan untuk mengevaluasi, menginterpretasi, dan menggunakan informasi secara bijak.

Semangat Kartini yang dahulu memperjuangkan akses terhadap pengetahuan kini menemukan relevansinya dalam konteks literasi digital. Jika dahulu Kartini berjuang agar perempuan dapat membaca buku, maka di era AI, perjuangan tersebut bertransformasi menjadi kemampuan membaca “data” dan memahami “algoritma”. Dengan kata lain, emansipasi modern menuntut kecakapan baru: literasi digital yang kritis dan adaptif.

Kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan informasi. Algoritma menentukan apa yang kita lihat di media sosial, mesin pencari menyaring informasi berdasarkan preferensi pengguna, dan sistem rekomendasi membentuk pola konsumsi pengetahuan kita. Tanpa literasi yang memadai, masyarakat berisiko terjebak dalam “ruang gema” (echo chamber), di mana informasi yang diterima hanya memperkuat pandangan yang sudah ada tanpa membuka perspektif baru.

Di sinilah pentingnya peran literasi informasi sebagai bentuk emansipasi baru. Perempuan, sebagai bagian dari masyarakat yang historically mengalami keterbatasan akses, perlu didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi subjek yang aktif dan kritis. Literasi AI tidak berarti semua orang harus menjadi programmer, tetapi setidaknya memahami bagaimana teknologi bekerja dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  PPPK Dikorbankan Demi Menghemat Anggaran Negara

Dalam konteks kepustakawanan, peran perpustakaan dan pustakawan menjadi semakin strategis. Perpustakaan tidak lagi sekadar ruang penyimpanan buku, melainkan pusat literasi digital yang inklusif. Pustakawan masa kini dituntut untuk mampu menjadi fasilitator literasi informasi, membimbing masyarakat dalam memilah informasi yang valid, serta mengedukasi pengguna tentang etika penggunaan teknologi.

Transformasi ini menuntut perubahan paradigma. Pustakawan tidak cukup hanya mengelola koleksi, tetapi juga harus aktif dalam edukasi literasi digital. Program pelatihan, workshop, hingga kampanye literasi informasi menjadi bagian penting dari layanan perpustakaan modern. Dalam konteks ini, semangat Kartini hadir dalam bentuk yang lebih kontekstual: pemberdayaan melalui pengetahuan yang relevan dengan zaman.

Namun, tantangan literasi informasi di era AI tidaklah sederhana. Salah satu persoalan utama adalah kesenjangan digital (digital divide), baik dari sisi akses maupun kemampuan. Tidak semua masyarakat memiliki akses yang sama terhadap teknologi, dan tidak semua pengguna memiliki keterampilan yang memadai untuk memanfaatkan teknologi tersebut. Tanpa intervensi yang tepat, kesenjangan ini justru dapat memperlebar ketidaksetaraan.

Selain itu, isu bias algoritma juga menjadi perhatian penting. Sistem AI dibangun berdasarkan data, dan data tidak selalu netral. Bias dalam data dapat menghasilkan keputusan yang tidak adil, termasuk dalam aspek gender. Dalam konteks ini, literasi informasi juga mencakup kesadaran kritis terhadap potensi bias dalam teknologi. Masyarakat perlu memahami bahwa teknologi bukan entitas yang sepenuhnya objektif.

Oleh karena itu, literasi informasi harus dipandang sebagai bagian dari upaya pembangunan manusia yang berkelanjutan. Pendidikan formal perlu mengintegrasikan literasi digital dan AI sebagai bagian dari kurikulum. Di sisi lain, pendidikan nonformal seperti yang dilakukan oleh perpustakaan, komunitas, dan organisasi masyarakat juga memegang peranan penting dalam menjangkau kelompok yang lebih luas.

Baca Juga :  Kekuatan Doa

Momentum Hari Kartini seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa perjuangan emansipasi terus berlanjut dalam bentuk yang berbeda. Jika dahulu Kartini memperjuangkan akses terhadap pendidikan, maka hari ini kita ditantang untuk memastikan akses terhadap informasi yang berkualitas dan kemampuan untuk memanfaatkannya secara bijak.

Kartini digital adalah simbol dari perempuan yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran kritis dalam menghadapi arus informasi. Ia mampu memilah fakta dari opini, memahami konteks di balik data, serta menggunakan teknologi untuk tujuan yang produktif dan beretika. Lebih dari itu, Kartini digital juga berperan sebagai agen perubahan, menyebarkan literasi informasi di lingkungannya.

Pada akhirnya, literasi informasi di era AI bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga tentang nilai dan etika. Bagaimana kita menggunakan teknologi untuk kebaikan bersama, bagaimana kita menjaga integritas informasi, dan bagaimana kita memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak meninggalkan kelompok tertentu.

Semangat Kartini mengajarkan bahwa perubahan dimulai dari kesadaran dan keberanian untuk belajar. Di era AI, semangat itu menemukan bentuk barunya dalam literasi informasi. Dengan memperkuat literasi ini, kita tidak hanya melanjutkan perjuangan Kartini, tetapi juga memastikan bahwa emansipasi tetap relevan dan bermakna di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

Kartini mungkin hidup di masa lalu, tetapi gagasannya tetap hidup hari ini telah bertransformasi dalam layar, data, dan algoritma. Tugas kita adalah memastikan bahwa semangat itu tidak hanya dikenang, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata.

Iklan
Iklan