Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom.
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Ada sebuah paradoks yang jarang kita sadari di tengah kehidupan digital kita sehari-hari. Seorang petani yang sawahnya terendam banjir tidak bisa minum dari air yang menggenanginya, airnya ada di mana-mana, tetapi tidak satu pun yang layak diminum. Inilah gambaran paling jujur dari kondisi kita hari ini: kita hidup di tengah banjir informasi yang paling dahsyat dalam sejarah peradaban manusia, namun justru semakin haus akan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar informasi. Kita haus akan kebijaksanaan, kemampuan untuk berpikir jernih, menimbang dengan adil, dan mengambil keputusan yang tepat di tengah derasnya arus data yang tak pernah berhenti mengalir.
Banjir informasi itu bukan kiasan semata. Setiap menit, lebih dari 500 jam konten video diunggah ke YouTube. Platform media sosial di Indonesia dibanjiri ratusan juta unggahan setiap harinya. Rata-rata warga Indonesia salah satu yang tertinggi di dunia menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di media sosial. Namun pertanyaannya bukan berapa banyak yang masuk, melainkan berapa banyak yang sungguh-sungguh dipahami, direnungkan, dan dijadikan pijakan untuk bertindak lebih baik. Jawabannya, jika kita jujur, sangat sedikit.
Dunia kepustakawanan mengenal hierarki yang disebut DIKW (Data, Information, Knowledge, Wisdom). Data adalah fakta mentah. Informasi adalah data yang telah diolah dan memiliki konteks. Pengetahuan adalah informasi yang telah dipahami dan diinternalisasi. Dan kebijaksanaan adalah puncaknya kemampuan menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan yang tepat dan berdampak baik bagi sesama. Media sosial telah gemilang mengantarkan kita naik dari data ke informasi secara masif dan instan. Namun ia berhenti di sana bahkan seringkali mendorong kita mundur, karena algoritma yang mengutamakan sensasi di atas substansi membuat kita terus berputar di permukaan tanpa pernah menyelam ke kedalaman.
Tepat di Hari Media Sosial Indonesia yang diperingati setiap 10 Juni, ironi ini perlu disuarakan dengan jujur. Kita merayakan konektivitas yang luar biasa dan memang sudah sepatutnya kita bangga. Teknologi informasi adalah anugerah. Namun anugerah yang tidak disertai kebijaksanaan dalam penggunaannya bisa berubah menjadi bencana. Kita menyaksikan masyarakat yang semakin terkoneksi tetapi semakin terpolarisasi, semakin banyak mendapat informasi tetapi semakin sulit membedakan yang benar dari yang palsu, semakin rajin membagikan konten tetapi semakin jarang merenungkan maknanya.
Akar dari kekeringan kebijaksanaan ini terletak pada satu kegagalan sistemik yang sudah lama terjadi: kita tidak cukup diajarkan cara berpikir. Sistem pendidikan kita lebih banyak mengajarkan apa yang harus dipikirkan daripada bagaimana cara berpikir dengan baik. Kita mahir menghafal rumus tetapi kurang terlatih mempertanyakan asumsi. Akibatnya, ketika dunia digital melemparkan kita ke dalam lautan informasi yang kompleks dan saling bertentangan, kita tidak punya pelampung yang cukup kuat dan akhirnya hanyut bersama arus yang paling keras berteriak.
Di sinilah perpustakaan dan pustakawan memiliki peran yang tidak tergantikan. Selama berabad-abad, perpustakaan adalah tempat di mana manusia belajar naik dari sekadar informasi menuju pengetahuan yang mendalam dan dari pengetahuan menuju kebijaksanaan yang bijak. Perpustakaan mengajarkan bahwa membaca bukan hanya kegiatan mata, tetapi kegiatan pikiran. Bahwa sebuah data bisa dipakai untuk mendukung argumen yang saling berlawanan, tergantung konteks dan sudut pandangnya. Pustakawan yang terlatih adalah pemandu di tangga DIKW itu akan membantu masyarakat tidak hanya menemukan informasi, tetapi mengolahnya menjadi kebijaksanaan yang bisa dipakai dalam kehidupan nyata.
Untuk menjembatani jurang antara banjir informasi dan kekeringan kebijaksanaan ini, ada tiga langkah mendesak. Pertama, jadikan berpikir kritis sebagai kurikulum inti di semua jenjang pendidikan, bukan sekadar sisipan, melainkan pendekatan menyeluruh dalam cara kita mengajar. Kedua, perkuat perpustakaan sebagai pusat literasi informasi komunitas yang aktif menjangkau masyarakat dengan program pelatihan evaluasi informasi yang relevan dan mudah diakses. Ketiga, bangun gerakan membaca yang berkelanjutan karena membaca buku dengan segala kedalaman dan kerumitannya adalah latihan paling efektif yang pernah ditemukan manusia untuk melatih pikiran agar jernih dalam mengambil keputusan.
Tentu saja membangun kebijaksanaan kolektif bukan tugas satu pihak. Pemerintah perlu hadir dengan kebijakan literasi informasi yang serius dan terukur—bukan hanya kampanye musiman yang ramai sesaat lalu menghilang. Platform media sosial perlu merancang ulang arsitektur produknya agar mendorong refleksi, bukan sekadar reaksi instan. Dan setiap individu perlu mengambil tanggung jawab pribadi: tidak sekadar menjadi konsumen informasi yang pasif, melainkan menjadi warga digital yang kritis dan bertanggung jawab atas setiap kata yang disebarkan.
Hari Media Sosial Indonesia mengingatkan kita bahwa kita sudah sangat mahir membangun jalan tol informasi dengan jaringan yang cepat, lebar, dan menghubungkan seluruh penjuru negeri. Namun kita lupa membangun kendaraan yang layak untuk melintas di atasnya. Kendaraan itu bukan perangkat keras atau perangkat lunak, melainkan akal budi manusia yang diasah melalui pendidikan, bacaan, dan refleksi. Tanpa kendaraan yang layak, jalan tol informasi yang megah itu hanya akan menjadi arena kecelakaan berulang: tempat di mana kebenaran tertabrak kecepatan, dan kebijaksanaan terhimpit oleh kebisingan.
Banjir memang tidak bisa dihentikan dengan tangan kosong. Tetapi ia bisa dikelola dengan tanggul yang kuat, saluran yang tepat, dan kesiapan yang matang. Tanggul kita dari banjir informasi adalah literasi dan kebijaksanaan adalah tanah kering yang kita perjuangkan untuk tetap bisa berpijak. Di tengah zaman yang serba cepat dan serba riuh ini, mungkin tindakan paling revolusioner yang bisa kita lakukan bukanlah mengunggah lebih banyak konten melainkan berhenti sejenak, membaca lebih dalam, berpikir lebih lama, dan berbicara lebih bijak. Karena pada akhirnya, bukan mereka yang paling banyak menerima informasi yang akan bertahan, melainkan mereka yang paling bijak mengolahnya.











