BANJARMASIN, Kalimantan.com – Kerinduan untuk kembali mengenal kampung halaman leluhur menjadi benang merah yang melahirkan gagasan Banjar Heritage Journey atau Mudik ke Tanah Leluhur. Program wisata budaya ini diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan kembali diaspora Banjar di Malaysia, Singapura, Brunei, hingga berbagai negara lain dengan akar sejarah dan keluarga mereka di Kalimantan Selatan.
Gagasan tersebut disusun Ketua GATENSI Kalimantan Selatan, Ir. M. Khuzaimi, MM, bersama pegiat literasi dan pemerhati seni budaya Banjarmasin, Ikhsan Alhaque.
Menurut mereka, bagi masyarakat Banjar yang telah lama menetap di luar negeri, perjalanan pulang bukan sekadar berwisata. Lebih dari itu, perjalanan menjadi kesempatan menapaki kembali jejak leluhur yang berasal dari kawasan Banua Enam, seperti Nagara, Alabio, Kalua, Birayang, Margasari, Kandangan, Barabai, Amuntai, Tanjung, hingga Martapura.
“Yang dicari bukan hanya tempat, tetapi cerita tentang asal-usul keluarga, sejarah, dan ikatan batin yang diwariskan turun-temurun,” ujar penyusun konsep tersebut.
Melalui Banjar Heritage Journey, para peserta tidak hanya diajak mengunjungi kampung halaman nenek moyang, tetapi juga mengenal budaya lokal, kuliner khas, tradisi masyarakat, hingga kisah tokoh-tokoh yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah Banjar.
Nilai utama perjalanan ini, menurut mereka, justru terletak pada perjumpaan kembali dengan keluarga besar dan masyarakat Banua. Momen itu diharapkan mampu mempererat silaturahmi yang mungkin telah terpisah selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Agar konsep ini dapat diwujudkan, diperlukan pemetaan kampung-kampung asal diaspora Banjar, penyusunan narasi sejarah yang kuat, serta kehadiran pemandu wisata yang tidak hanya mengantar perjalanan, tetapi juga mampu menjadi penutur kisah tentang identitas masyarakat Banjar.
Selain memberi pengalaman emosional bagi diaspora, program ini juga dinilai berpotensi menjadi wisata budaya berkelanjutan yang memberi manfaat bagi masyarakat lokal melalui pengembangan ekonomi kreatif, kuliner, kerajinan, hingga jasa pariwisata.
Penggagas berharap ide tersebut mendapat masukan dari masyarakat Banjar, baik yang berada di Kalimantan Selatan maupun di perantauan. Dengan kolaborasi berbagai pihak, Banjar Heritage Journey diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu ikon wisata budaya Kalimantan Selatan, sekaligus menjadi ruang untuk merawat ingatan, memperkuat persaudaraan serumpun, dan menjaga warisan sejarah agar tetap hidup lintas generasi.(nau/KPO-1)















