BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Hubungan masyarakat Banjar di tanah kelahiran dengan para perantau di Pamadaman dan wilayah lainnya mulai mengalami kemunduran sejak awal abad ke-20. Salah satu penyebab utamanya adalah berkurangnya armada perahu tradisional Banjar yang selama berabad-abad menjadi sarana utama pelayaran dan perdagangan antarpulau.
Sejarawan mencatat, melemahnya jalur pelayaran tradisional tidak terlepas dari kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang mengambil alih pengaturan aktivitas perdagangan setelah berakhirnya perlawanan rakyat Banjar.
Di saat yang sama, perdagangan juga semakin didominasi oleh para pedagang Tionghoa yang memperoleh berbagai kemudahan dari pemerintah kolonial.
Kondisi tersebut membuat jaringan komunikasi dan hubungan ekonomi antara masyarakat Banjar di kampung halaman dengan para perantau, termasuk yang bermukim di Pamadaman, perlahan semakin renggang.
Padahal, sebelumnya jalur pelayaran tradisional menjadi penghubung utama yang memungkinkan mobilitas penduduk, pertukaran barang, serta terjalinnya ikatan sosial dan budaya antarkomunitas Banjar.
Berbagai upaya sebenarnya pernah dilakukan untuk mempertahankan kemandirian ekonomi masyarakat Banjar. Salah satunya melalui organisasi Sarekat Islam Cabang Banjarmasin yang mendirikan Sarekat Pelayaran. Organisasi ini bertujuan memperkuat transportasi sungai dan jalur pelayaran sebagai penopang perdagangan di Kalimantan Selatan.
Namun, inisiatif tersebut dinilai belum mampu menandingi sistem perdagangan yang telah lama dimonopoli. Dominasi para pedagang Tionghoa yang mendapat perlindungan pemerintah kolonial, ditambah kebijakan eksploitasi ekonomi Hindia Belanda, membuat ruang gerak pelaku usaha lokal semakin terbatas.
Akibatnya, aktivitas pelayaran tradisional Banjar terus mengalami kemunduran. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor perdagangan, tetapi juga terhadap hubungan sosial masyarakat Banjar yang tersebar di berbagai daerah perantauan. Jalur komunikasi yang dahulu terbangun melalui aktivitas pelayaran perlahan terputus, sehingga ikatan antara bubuhan Banjar di banua dan di rantau semakin melemah.
Dalam kajiannya, Wajidi (2007:123) menyebutkan bahwa kebijakan kolonial dan monopoli perdagangan menjadi faktor penting yang mempercepat surutnya kekuatan ekonomi masyarakat Banjar, sekaligus mengubah pola migrasi dan hubungan antarkomunitas Banjar di Nusantara.(nau/KPO-1)















