Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Ambisi Israel Raya, Rampas Palestina, Rebut Aqsa

×

Ambisi Israel Raya, Rampas Palestina, Rebut Aqsa

Sebarkan artikel ini

Oleh : Alesha Maryam
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Konflik di Palestina terus mengalami eskalasi yang semakin mengkhawatirkan. Di Gaza, entitas Zionis Israel terus melancarkan operasi militer meskipun berbagai upaya gencatan senjata telah dilakukan. Laporan terbaru menyebut adanya rencana penguasaan hingga sekitar 70% wilayah Gaza, disertai pembangunan pos-pos militer baru yang mengindikasikan upaya mempertahankan kontrol jangka panjang. Kondisi ini menyebabkan ruang hidup warga Palestina semakin menyempit dan krisis kemanusiaan semakin memburuk. Di Tepi Barat, Israel juga terus memperluas pemukiman dengan membangun ribuan unit baru yang dinilai sebagai bentuk perampasan tanah Palestina, sementara kekhawatiran terhadap status dan pengelolaan Masjid Al-Aqsa terus meningkat akibat berbagai tindakan yang dipandang sebagai upaya memperkuat dominasi atas wilayah suci umat Islam (antaranews.com, 16/6/2026).

Kalimantan Post

Perkembangan ini menunjukkan bahwa penderitaan rakyat Palestina tidak hanya disebabkan oleh konflik bersenjata di Gaza, tetapi juga oleh strategi perluasan wilayah yang berlangsung sistematis di berbagai kawasan Palestina. Tindakan yang menyebabkan hilangnya nyawa warga sipil, penghancuran permukiman, dan pemindahan paksa penduduk merupakan bentuk kezaliman yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan maupun hukum internasional. Di balik itu, berbagai kebijakan politik global turut memberi pengaruh terhadap berlanjutnya konflik, termasuk dukungan kekuatan besar terhadap Israel serta pendekatan diplomatik yang tidak menghentikan agresi di lapangan. Selain itu, lemahnya sikap tegas sebagian penguasa negeri-negeri Muslim juga berkontribusi pada tidak adanya perlindungan nyata bagi rakyat Palestina. Kondisi ini mencerminkan lemahnya mekanisme global dalam menghentikan kezaliman dan menjaga hak-hak dasar suatu bangsa yang tertindas.

Dalam pandangan Islam, penderitaan ini tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Islam menegaskan pentingnya tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa serta larangan saling membantu dalam dosa dan permusuhan (QS. Al-Maidah: 2). Karena itu, segala bentuk penjajahan dan perampasan hak rakyat Palestina wajib ditolak. Umat Islam juga diingatkan bahwa mereka adalah satu kesatuan yang bersaudara, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (QS. Al-Hujurat: 10), sehingga penderitaan satu bagian umat seharusnya menjadi penderitaan bersama yang melahirkan kepedulian dan tindakan nyata.

Baca Juga :  PERLINDUNGAN MASYARAKAT

Untuk itu, Islam menekankan pentingnya persatuan umat dalam menghadapi kezaliman. Rasulullah SAW bersabda bahwa pemimpin adalah pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam konteks ini, keberadaan kepemimpinan umat dipahami sebagai sarana untuk menyatukan kekuatan kaum Muslimin agar tidak terpecah oleh batas-batas nasionalisme dan kepentingan politik yang sempit. Dengan persatuan tersebut, umat Islam memiliki kekuatan kolektif untuk menjaga kehormatan dan keselamatan kaum Muslimin di berbagai wilayah.

Dalam konteks Palestina, kepemimpinan umat dipandang memiliki tanggung jawab untuk membela rakyat yang tertindas dan menghentikan agresi yang terjadi, sebagaimana firman Allah SWT: “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah…” (QS. An-Nisa: 75). Hal ini menunjukkan bahwa pembelaan terhadap kaum tertindas merupakan bagian dari tanggung jawab umat secara kolektif.

Karena itu, berbagai pihak memandang bahwa solusi mendasar tidak cukup hanya bertumpu pada kecaman atau jalur diplomasi semata, tetapi membutuhkan kekuatan politik umat yang bersatu dalam satu arah perjuangan. Dalam kerangka ini, umat Islam diarahkan untuk kembali kepada sistem yang mampu menyatukan kekuatan mereka, menghilangkan sekat-sekat perpecahan, serta mengarahkan seluruh potensi politik, ekonomi, dan kekuatan umat untuk membela kaum Muslimin yang tertindas, termasuk rakyat Palestina.

Dengan demikian, persoalan Palestina pada akhirnya bukan hanya soal konflik wilayah, tetapi juga soal arah persatuan umat dan keberpihakan terhadap keadilan. Selama kezaliman terus berlangsung dan tidak dihadapi dengan kekuatan yang terorganisir, maka penderitaan akan terus berulang. Wallahu a’lam bish-shawab.

Iklan
Iklan