Oleh : Meita Ciptawati
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan
Baru-baru ini kita mendengar bahwa ada dugaan kasus pembakaran santri di Lombok. Seorang kakak kelas di pesantren membakar adik kelasnya yang berujung salah satunya hilang nyawa, dan dua orang luka bakar parah. (www.kompas.com, 09/06/2026)
Sebenarnya mulai dulu tantangan sebuah sekolah apalagi yang dia berasrama adalah tidak semua yang bersekolah adalah orang-orang baik. Bahkan ada anggapan bahwa pesantren adalah sekolah buangan untuk anak-anak nakal. Tapi harapan orangtua adalah anaknya menjadi lebih baik. Sebagian anak disekolahkan di pesantren karena harapan orangtua anaknya mampu menguasai ilmu agama dengan benar dan memiliki kebiasaan yang baik. Karena kalau di rumah orangtua belum tentu mampu mendidiknya dengan konsisten. Tapi hal itu menjadi sulit, kerena banyaknya tantangan hari ini.
Kalau kita lihat pilar pembentuk kokohnya generasi ada tiga yaitu dari keluarga, sekolah termasuk lingkungan dan negara. Hari ini berapa keluarga yang harmonis? Bahkan banyak yang tidak mampu menjalankan perannya sebagai sekolah utama bagi anak. Tingginya beban hidup sehingga ibu ikut bekerja, ataupun banyak ibu yang stress sehingga tidak fokus mencetak generasi. Bahkan angka perceraianpun setiap tahun meningkat. Pendidikan tidak mampu mencetak generasi terbaik, karena kita lihat output dari lulusan sekolah hari ini gagal mencetak generasi terbaik. Karena memang pendidkan kita hari ini berasas pada selurarisme (pemisahan antara agama dengan kehidupan). hanya prestasi yang dikejar, tapi ruhiyah kering. Pintar tapi tidak takut kepada Allah, bahkan mereka tidak takut mencontek demi nilai tinggi atau masuk ke sekolah favorit.
Anak-anak yang sudah dididik untuk menjadi generasi lurus akan berbelok, karena gemburan budaya barat yang masuk tanpa filter ke smartphone mereka masing-masing. Teman-teman ataupun lingkungan yang jauh dari Islam menjadi contoh bagi mereka. Kebenaran tidak lagi dianggap baik dan harus diperjuangkan. Karena asas sekularisme hanya menjadikan pendikan itu mencetak generasi pintar tapi jauh dari kata sholeh. Maka wajar jika pendidikan hari ini tidak mampu mencetak generasi terbaik.
Padahal Allah sudah memuji kita dengan pujian generasi terbaik (lihat surah Ali Imran: 110). Tidak hanya pendidikan yang gagal mencetak generasi terbaik yaitu yang takut hanya kepada Allah. Negara yang berperan penting untuk membawa arah pandang pendidikan tidak mampu menciptakan kurikulum terbaik, terbukti dengan berganti-gantinya kurikulum sekolah.
Dalam Islam jelas kurikulum yang digunakan adalah kurikulum Islam, yaitu tujuan dari Pendidikan Islam adalah mencetak generasi menjadi orang yang berkepribadian Islam. Yaitu yang pola pikir dan perilakunya berdasarkan Islam. Dia tidak akan melanggar perintah Allah karena dibangun sejak sekolah dasar aqidah yang kuat, yaitu takut pada Allah. Dan dipahamkan akan kehidupan dunia yang sementara sedangkan akhirat selamanya. Jadi jelas tujuan di dunia adalah berlomba-lomba dalam kebaikan. Disamping negara sangat menjaga lingkungan agar tetap aman dan terkendali.
Peran negara dalam Islam jelas bersandar pada standar halah dan haram. Jika haram wajib ditinggalkan, walaupun ada keuntungan. Membatasi akses dunia maya yang bebas masuk ke media sosial. Hanya tontonan yang bermanfaat saja yang masuk. Segala situs yang menjerumuskan generasi akan dihapus. Negara juga menjamin pemenuhan kebutuhan setiap warga negaranyanya sehingga sejahtera. Membuka lapangan pekerjaan yang cukup untuk warganya. Keluarga dalam negara Islam dipahamkan peran mereka masing-masing, ibu, ayah ataupun anak. Masing-masing punya tugas dan peran, ketika mereka menjalankan dengan baik maka surga balasannya. Maka sistem Pendidikan saling berkaitan dengan sistem yang lainnya yaitu sistem ekonomi dan juga sistem pemerintahan.












