TURKI, Kalimantanpost.com – Dicle University, salah satu perguruan tinggi terkemuka di Turki, semakin memperkuat kemitraan strategisnya dengan Indonesia melalui berbagai program akademik dan teknologi.
Langkah nyata ini ditandai dengan peluncuran Program Magister Bersama Hukum Internasional hasil kolaborasi dengan Universitas Islam Indonesia (UII) yang mulai menerima mahasiswa baru pada tahun akademik 2024–2025.
Program yang telah mendapat persetujuan dari Dewan Pendidikan Tinggi Turki (YÖK) ini sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris dan menawarkan gelar ganda bagi lulusannya tanpa perlu penyetaraan ijazah.
“Kami dengan bangga mengumumkan bahwa Program Magister Bersama Hukum Internasional hasil kolaborasi Dicle University dan UII ini merupakan program pertama di Turki yang memberikan gelar ganda tanpa penyetaraan ijazah.
Harapannya program ini menjadi bukti nyata komitmen kedua institusi dalam mencetak lulusan hukum global yang unggul.” jelas Dekan Fakultas Hukum Dicle University, Prof. Dr. Mehmet Burak Buluttekin melalui rilis yang diterima Kalimantan Post (14/7).
Selain di bidang hukum, Dicle University juga menjalin kerja sama erat dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melalui proyek Erasmus+ International Credit Mobility.
Program mobilitas staf dan mahasiswa ini telah menciptakan sinergi positif di bidang sains dan teknologi, sekaligus memperluas wawasan global kedua institusi. Hubungan diplomatik pun turut diperkuat melalui pertemuan delegasi Dicle University dengan Duta Besar Turki untuk Indonesia di Jakarta guna membahas visi internasionalisasi pendidikan tinggi.
Kerja sama Indonesia-Turki tidak berhenti pada ranah akademik. Berbagai kegiatan budaya seperti festival “Heart-to-Heart Cultures” yang digelar di kampus Dicle University juga melibatkan partisipasi aktif mahasiswa Indonesia, mempererat hubungan antarbudaya kedua negara. Ke depan, Dicle University bersama mitra-mitranya di Indonesia berkomitmen untuk terus memperluas kolaborasi melalui simposium bersama dan proyek-proyek lintas budaya, menjadikan kemitraan ini sebagai jembatan intelektual yang menghubungkan Asia dan Eropa. (rfz/KPO-1)















