BANJARMASIN, KP – Minat Generasi Z (Gen Z) terhadap kuliner tradisional Banjar dinilai terus mengalami penurunan. Jika kondisi ini tidak segera diantisipasi, berbagai makanan khas Banjar dikhawatirkan hanya akan menjadi konsumsi generasi tua dan kehilangan regenerasi penikmatnya di masa depan.
Pengamat pariwisata Kalimantan Selatan, H Ir H Khuzaimi, mengatakan tantangan tersebut tidak boleh dipandang sekadar sebagai persoalan selera makan anak muda, tetapi harus dilihat sebagai persoalan pelestarian budaya yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.
“Yang sedang kita hadapi bukan hanya perubahan pola konsumsi, tetapi juga perubahan cara generasi muda memandang identitas budaya. Kuliner merupakan bagian dari warisan budaya yang harus diwariskan lintas generasi,” ujarnya kepada Kalimantan Post.
Menurut Jimy, terdapat sedikitnya lima faktor yang menyebabkan kuliner Banjar mulai kehilangan daya tarik di kalangan Gen Z.
Pertama, tampilan makanan tradisional dinilai kurang menarik dibandingkan makanan modern yang banyak beredar di media sosial. Sebagian besar masih disajikan secara sederhana dengan kemasan yang belum mengikuti perkembangan tren visual.
“Generasi sekarang sangat dekat dengan media sosial. Makanan bukan hanya dinikmati, tetapi juga dipotret dan dibagikan. Karena itu, penyajian harus lebih menarik tanpa menghilangkan keaslian cita rasanya,” katanya.
Faktor kedua adalah semakin berkurangnya kebiasaan menikmati makanan tradisional sejak usia dini.
Kemudian banyak keluarga lebih sering menyajikan makanan cepat saji atau menu praktis sehingga anak-anak tidak lagi akrab dengan Soto Banjar, Ketupat Banjar, Lontong Banjar maupun aneka kuliner khas lainnya.
Ketiga, derasnya pengaruh media sosial membuat makanan viral, restoran cepat saji, kafe kekinian, hingga kuliner luar negeri lebih mendominasi ruang digital dibandingkan makanan tradisional.
“Algoritma media sosial bekerja mengikuti tren. Kalau kuliner Banjar tidak hadir dalam ruang digital, maka generasi muda juga semakin jarang mengenalnya,” ujarnya.
Keempat, makanan tradisional masih dianggap kurang praktis. Proses penyajiannya relatif lebih lama, lokasi penjual belum merata di pusat aktivitas anak muda, serta inovasi menu masih terbatas dibandingkan kuliner modern.
Kelima, menurut Jimy, banyak Gen Z belum memahami nilai sejarah, filosofi, maupun manfaat kesehatan dari kuliner Banjar yang menggunakan berbagai rempah alami.
“Padahal Soto Banjar, Ketupat Banjar maupun Lontong Banjar bukan sekadar makanan. Di dalamnya tersimpan sejarah, tradisi, hingga kearifan lokal masyarakat Banjar yang diwariskan turun-temurun,” katanya.
Bangun Ekosistem Pelestarian
Jimy menilai persoalan tersebut sesungguhnya bukan semata-mata karena rendahnya minat anak muda, melainkan belum terbentuknya ekosistem pelestarian kuliner sejak dini.
Menurutnya, pendidikan formal maupun lingkungan keluarga masih minim memperkenalkan makanan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya daerah. Sementara promosi kuliner lokal juga belum memanfaatkan media komunikasi yang dekat dengan kehidupan Gen Z.
“Kalau sejak kecil anak-anak sudah dikenalkan dengan kuliner daerah, mereka akan tumbuh dengan rasa memiliki. Tetapi jika sejak awal yang dikenal hanya makanan modern, tentu akan sulit menumbuhkan kebanggaan terhadap kuliner lokal,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong kolaborasi pemerintah daerah, sekolah, keluarga, komunitas, pelaku UMKM, media, hingga kreator konten untuk membangun ekosistem pelestarian kuliner Banjar.
Beberapa langkah yang diusulkan antara lain pembentukan Duta Kuliner Kota Banjarmasin sebagai bagian dari promosi pariwisata dan ekonomi kreatif, menjadikan Nanang Galuh Banjar sebagai ikon kampanye Bangga Kuliner Banjar, menghadirkan program Kuliner Banjar Goes to School, serta menggelar lomba vlog, fotografi, hingga konten digital bertema kuliner lokal.
Selain itu, pembinaan dan sertifikasi UMKM kuliner juga dinilai penting agar mampu berinovasi dalam penyajian dan pemasaran tanpa menghilangkan cita rasa autentik. Promosi kuliner khas Banjar juga perlu menjadi bagian dari setiap agenda pariwisata, festival budaya, maupun kegiatan ekonomi kreatif.
Diplomasi Budaya Lewat Bahasa Kuliner
Lebih jauh, Jimy mengusulkan agar pelestarian kuliner juga dilakukan melalui apa yang disebutnya sebagai diplomasi budaya dalam penulisan maupun promosi.
Menurutnya, istilah lokal jangan dihilangkan ketika dipublikasikan secara nasional, tetapi justru disandingkan dengan istilah yang lebih umum sehingga masyarakat luas perlahan mengenal kosakata Banjar dan Kalimantan.
Sebagai contoh, kata jaring, sebutan masyarakat Banjar untuk jengkol, sebaiknya tetap dicantumkan berdampingan dalam berbagai narasi. Bahkan di Brunei Darussalam, kata tersebut dikenal sebagai jering, menunjukkan adanya keterkaitan budaya serumpun di kawasan Borneo.
“Kalau kita terus menggunakan istilah lokal secara elegan dalam narasi berita, promosi wisata, maupun publikasi kuliner, lama-kelamaan masyarakat Indonesia akan mengenalnya. Ini bagian dari diplomasi budaya, bukan memaksakan, tetapi memperkenalkan identitas kita secara alami,” ujarnya.
Ia mencontohkan keberhasilan sineas, penulis, hingga musisi Indonesia yang mampu mengangkat istilah dan budaya lokal menjadi dikenal secara nasional. Hal serupa, menurutnya, sudah saatnya dilakukan dalam pemberitaan maupun promosi kuliner Banjar.
“Jurnalisme juga memiliki peran sebagai media diplomasi budaya. Melalui narasi yang baik, kita bukan hanya memberitakan makanan, tetapi juga mengangkat identitas, sejarah, dan kebanggaan masyarakat Banjar kepada khalayak yang lebih luas,” pungkasnya.(nau/KPO-1)















