PROGRES s perbaikan Jalan Veteran Kilometer 5,5 di Sungai Lulut yang telah mencapai 90 persen tentu menjadi kabar menggembirakan bagi masyarakat. Setelah amblas pada pertengahan Juli lalu dan memutus salah satu jalur vital di Banjarmasin Timur, perlahan harapan mulai tumbuh bahwa aktivitas warga akan kembali normal dalam waktu dekat. Namun, di balik optimisme tersebut, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan: keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama.
Jalan bukan sekadar hamparan aspal yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya. Infrastruktur ini merupakan urat nadi perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, proses perbaikannya tidak boleh hanya berorientasi pada kecepatan penyelesaian, melainkan juga pada kualitas dan ketahanan konstruksi dalam jangka panjang.
Langkah Komisi III DPRD Kalimantan Selatan yang turun langsung meninjau lokasi patut diapresiasi. Pengawasan dari para wakil rakyat menjadi bentuk tanggung jawab untuk memastikan bahwa pekerjaan yang dilakukan sesuai standar dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Pengawasan seperti ini penting agar setiap tahapan perbaikan berjalan transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Peringatan mengenai adanya potensi retakan dan kemungkinan longsor susulan juga harus menjadi perhatian serius. Kerusakan jalan sering kali bukan hanya disebabkan oleh faktor permukaan, melainkan persoalan yang lebih kompleks, seperti kondisi tanah, kualitas pondasi, hingga sistem drainase yang kurang memadai. Jika akar masalah tidak ditangani secara menyeluruh, bukan tidak mungkin kerusakan serupa akan kembali terjadi di masa mendatang.
Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa perbaikan infrastruktur yang dilakukan secara tergesa-gesa demi mengejar target waktu justru berisiko menimbulkan persoalan baru. Oleh sebab itu, proses pemadatan dan pengaspalan harus dilakukan secara cermat dan terukur. Lebih baik menunggu beberapa hari lebih lama daripada membuka akses terlalu cepat, tetapi mengorbankan keselamatan pengguna jalan.
Keputusan untuk menutup total ruas jalan selama proses pekerjaan berlangsung memang menimbulkan ketidaknyamanan. Warga harus mencari jalur alternatif, waktu tempuh bertambah, dan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi ikut terdampak. Namun, ketidaknyamanan tersebut sejatinya merupakan investasi demi menghadirkan infrastruktur yang lebih aman dan berkualitas.
Peristiwa amblasnya Jalan Veteran Sungai Lulut juga seharusnya menjadi momentum evaluasi bagi pemerintah daerah. Pengawasan berkala terhadap kondisi jalan, pemetaan wilayah rawan, serta peningkatan sistem drainase perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Infrastruktur yang baik bukan hanya dibangun saat rusak, tetapi dipelihara secara berkelanjutan.
Masyarakat tentu berharap, ketika Jalan Veteran kembali dibuka pada 10 Agustus mendatang, yang hadir bukan sekadar jalan baru, melainkan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi semua pengguna. Sebab, keberhasilan pembangunan sejatinya diukur bukan dari seberapa cepat pekerjaan diselesaikan, tetapi dari seberapa besar manfaat dan rasa aman yang dapat dirasakan masyarakat.













