BANJARMASIN, Kalimantanpost.con – Anggota DPR RI, Bambang Heriyadi, meminta Kementerian Agama (Kemenag) memperketat pengawasan dan lebih selektif terhadap biro perjalanan umrah menyusul kasus penelantaran 36 jemaah asal Kalimantan Selatan di Jeddah, Arab Saudi.
Menurut Bambang, peristiwa tersebut tidak hanya menyisakan penderitaan bagi para jemaah, tetapi juga mencoreng nama baik bangsa dan daerah. Ia menegaskan, kejadian serupa tidak boleh kembali terulang.
“Ini tidak boleh terjadi. Selain kasihan terhadap jemaah, kasus seperti ini sangat memalukan negara dan daerah, bahkan mencederai warga yang sedang menjalankan ibadah,” tegas Bambang sepulang Umroh, di rumahnya Jalan Teluk Tiram Banjarmasin, Kamis (06/08/2026).
Peristiwa itu bermula ketika Bambang sedang menjalankan kegiatan Jumat berkah di Arab Saudi. Di tengah aktivitasnya, ia menerima kabar tentang puluhan warga Banua yang terlantar akibat persoalan yang diduga dilakukan oleh pihak travel umrah.
Tanpa berpikir panjang, Bambang langsung meminta rekannya mencari keberadaan para jemaah tersebut. Setelah ditelusuri, mereka ternyata berada di Jeddah setelah sebelumnya berpindah-pindah dari Madinah dan Makkah.
“Begitu mendapat kabar, saya langsung meminta lokasi mereka dicek. Ternyata mereka sudah beberapa hari terlantar,” ujarnya.
Kisah para jemaah itu pun mengundang rasa haru. Sebagian dari mereka mengaku diusir dari hotel karena biaya penginapan tidak dibayarkan oleh pihak travel. Dalam kondisi cuaca ekstrem yang mencapai 44 hingga 45 derajat Celsius, para jemaah, termasuk sejumlah lansia, harus bertahan dengan kondisi serba terbatas.
“Kasihan sekali. Ada yang hanya makan roti, ada lansia yang sudah kelelahan dan kebingungan. Yang lebih menyedihkan, tiket kepulangan yang mereka pegang ternyata palsu,” kata Bambang.
Tidak sedikit dari para jemaah yang pasrah dengan nasib mereka. Sebagian bahkan sudah kehabisan uang setelah menyewa tempat tinggal sementara sambil menunggu kepastian untuk pulang ke Indonesia.
Melihat kondisi itu, Bambang mengaku tergerak membantu. Ia kemudian menanggung seluruh biaya pemulangan, mulai dari penginapan, konsumsi, transportasi darat, hingga tiket pesawat menuju Tanah Air.
Mencari tiket untuk 36 orang sekaligus, menurutnya, bukan pekerjaan mudah. Berbagai maskapai dihubungi agar seluruh jemaah dapat dipulangkan dalam satu rombongan.
“Awalnya ada usulan dipisah-pisah, tetapi itu justru menyulitkan. Akhirnya kami berupaya agar semuanya bisa pulang bersama sehingga lebih mudah didampingi,” tuturnya.
Dari total 38 jemaah yang terlantar, sebanyak 36 orang dipulangkan melalui Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin menggunakan pesawat Citilink. Sementara dua orang lainnya memilih pulang secara mandiri karena memiliki keluarga di Arab Saudi.
Bambang menegaskan, apa yang dilakukannya murni atas dasar kemanusiaan dan rasa persaudaraan sesama warga Kalimantan Selatan.
“Di mana pun kita berada, apalagi mereka adalah tamu Allah, sudah sepatutnya kita saling membantu. Saya hanya tidak tega melihat warga Banua kesulitan di negeri orang,” ungkapnya.
Ia pun mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk bertindak tegas terhadap biro perjalanan yang terbukti menelantarkan jemaah.
Menurut Bambang, masyarakat juga harus lebih berhati-hati sebelum memilih travel umrah. Calon jemaah diminta memastikan legalitas perusahaan, kejelasan tiket pulang-pergi, hingga kepastian akomodasi yang akan digunakan.
“Pastikan travel-nya jelas, tiket dan hotelnya ada. Jangan mudah tergiur dengan iming-iming murah, karena risikonya sangat besar,” pesannya.
Bambang berharap kisah pilu yang dialami puluhan jemaah asal Kalimantan Selatan itu menjadi pelajaran bersama agar tidak ada lagi warga yang harus menanggung penderitaan saat hendak menunaikan ibadah di Tanah Suci. Bagaimanapun, perjalanan spiritual yang seharusnya dipenuhi ketenangan dan kekhusyukan tidak boleh berubah menjadi pengalaman pahit akibat ulah pihak yang tidak bertanggung jawab.(nau/KPO-1)















