Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

KERAS HATI

×

KERAS HATI

Sebarkan artikel ini
ade hermawan 3
ADE HERMAWAN

Oleh : ADE HERMAWAN

Hati (al-qalb) bukan sekadar organ fisik, melainkan pusat navigasi spiritual manusia. Hati adalah tempat bersemayamnya keimanan, ketakwaan, dan empati. Namun, sebagaimana tubuh yang bisa sakit, hati pun memiliki penyakitnya sendiri. Salah satu kondisi spiritual paling berbahaya yang sering diperingatkan dalam ajaran Islam adalah keras hati.

Kalimantan Post

Keras hati menggambarkan kondisi ketika nurani seseorang kehilangan sensitivitasnya terhadap kebenaran, kebaikan, dan keberadaan Ilahi. Al-Qur’an menggambarkan fenomena kerasnya hati dengan perumpamaan yang sangat tegas. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 74, Allah SWT berfirman:

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi…”

Perumpamaan ini menggarisbawahi bahwa batu meski keras masih bisa terbelah dan memancarkan air, atau meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Namun, hati manusia yang telah mengeras tidak lagi tergetar oleh ayat-ayat-Nya, tidak tergerak oleh penderitaan sesama, dan tidak lagi takut akan peringatan kematian.

Dalam interaksi sehari-hari, seseorang yang mengalami qaswatul qalb dapat dikenali dari sikap atau Tindakan merasa berat atau enggan melaksanakan ibadah, serta tidak merasa bersalah saat berbuat dosa, Sulit menerima kritik, nasihat, atau kebenaran yang datang dari orang lain, dan Tidak tersentuh oleh penderitaan orang lain, kaku dalam berinteraksi, dan cenderung egois.

Kerasnya hati tidak terjadi secara mendadak. Ia merupakan proses pengikis nurani secara perlahan yang disebabkan oleh Menumpuknya Dosa Tanpa Taubat. Rasullullah SAW menjelaskan bahwa setiap kali manusia berbuat dosa, timbul satu bintik hitam di hatinya. Jika ia tidak bertaubat, bintik-bintik tersebut mengendap dan akhirnya menutupi seluruh permukaan hati, melupakan zikir dan Al-Qur’an (keterasingan dari Al-Qur’an dan kelalaian mengingat Allah membuat jiwa kehilangan pasokan nutrisi utamanya), keterikatan berlebihan pada dunia/hubbud dunya (ambisi tanpa batas terhadap harta, tahta, dan kepuasan fisik sering kali menumpulkan rasa empati serta kepedulian terhadap kehidupan akhirat), dan terlalu banyak hal sia-sia (pembicaraan yang tidak berguna, makanan yang haram/berlebihan, serta tontonan yang merusak moral turut memberi kontribusi pada redupnya cahaya hati).

Baca Juga :  Merdeka dari Korupsi dan Beban Pajak

Mengerasnya hati adalah sebuah proses gradual (perlahan), bukan peristiwa yang terjadi seketika. Hal ini umumnya dipicu oleh kombinasi kelalaian diri dan pengaruh lingkungan. Setiap maksiat atau kesalahan yang dilakukan manusia meninggalkan satu bintik hitam (nuktah sauda’) pada hati. Jika seseorang enggan bertaubat, bintik-bintik tersebut bertambah hingga akhirnya menutupi seluruh permukaan hati (ar-ran). Kunci pintu nurani pun terkunci rapat dari hidayah.

Sesuatu yang berlebihan, meskipun pada dasarnya tidak haram, dapat menumpulkan sensitivitas hati. Terlalu banyak makan, Menjadikan tubuh malas dan syahwat dominan. Terlalu banyak bicara, meningkatkan risiko ghibah, dusta, dan kata-kata yang tak berguna. Terlalu banyak tidur, mengikis kedisiplinan dan semangat beribadah. Dan terlalu banyak bergaul, membuat fokus jiwa terdistraksi dari refleksi diri.

Hati membutuhkan pasokan spiritual secara rutin. Mengabaikan zikir, jarang membaca dan merenungi Al-Qur’an, serta enggan menghadiri majelis ilmu membuat jiwa mengalami “gizi buruk” spiritual.

Ketika porsi perhatian dan ambisi terhadap materi, status, serta kepuasan fisik menguasai pikiran, orientasi akhirat memudar. Hati menjadi kaku karena terus-menerus dikalkulasi dengan kepentingan material semata.

Dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ma’idah: 13), Allah menyebutkan bahwa salah satu penyebab dikunci dan dikerasakannya hati kaum terdahulu adalah karena mereka suka merusak janji (naqdlihim miitsaaqahum).

Dampak dari kerasnya hati tidak hanya merusak hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga merusak tatanan hubungan antarmanusia dalam kehidupan sehari-hari.

Keras hati mengakibatkan apatisme terhadap kebenaran. Hati tidak lagi tergetar saat mendengar peringatan, ayat Al-Qur’an, atau nasihat kebaikan. Keras hati mangakibatkan Ibadah Menjadi Beban. Shalat, doa, dan ritual keagamaan terasa sebagai rutinitas yang berat dan hampa makna (tanpa kekhusyukan). Dan keras hati mengakibatkan Kehilangan Rasa Takut dan Bersalah. Berbuat dosa tidak lagi menimbulkan rasa menyesal dan rasa malu kepada Sang Pencipta perlahan sirna.

Baca Juga :  MENELITI KEHIDUPAN

Keras hati mengakibatkan Kesulitan merasakan penderitaan orang lain, kaku dalam merespons musibah sesama, dan enggan menolong. Menganggap diri selalu benar, sulit menerima kritik, serta cenderung meremehkan pendapat orang lain. Kehilangan kelembutan (rifq) dalam tutur kata dan tindakan, sehingga mudah mengeksploitasi atau menyakiti sesama demi kepentingan pribadi. Secara internal, pemilik hati yang keras sebenarnya kehilangan thuma’ninah (ketenangan batin), karena kedamaian hakiki hanya didapat dari kelembutan berzikir.

Islam tidak hanya mendiagnosis penyakit spiritual ini, tetapi juga menawarkan penawar (syifa’) yang konkret untuk melunakkannya Kembali, yaitu dengan memperbanyak zikir dan istigfar (Memohon ampun secara konsisten adalah cara terbaik menghapus bintik-bintik hitam yang melapisi hati), Mentadabburi Al-Qur’an (membaca Al-Qur’an dengan merenungi artinya memberikan efek pendingin dan pembersih bagi hati yang keruh), mengingat kematian (kesadaran akan sifat dunia yang fana dapat meruntuhkan kesombongan dan mengembalikan orientasi hidup manusia), dan menyantuni anak yatim dan orang miskin (Rasulullah SAW pernah menasihati seseorang yang mengeluhkan kerasnya hati agar mengusap kepala anak yatim dan memberi makan orang miskin. Sentuhan kasih sayang langsung ini terbukti secara efektif melunakkan kekakuan empati).

Iklan
Iklan