Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Banjarbaru

Hadapi Kemarau dan Karhutla, Pemkot Banjarbaru Gelar Salat Istisqa

×

Hadapi Kemarau dan Karhutla, Pemkot Banjarbaru Gelar Salat Istisqa

Sebarkan artikel ini
Hal 6 3 KLM BJB 1 12
SALAT ISTISQA — Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby bersama jajaran Pemkot Banjarbaru dan ratusan ASN mengikuti Salat Istisqa di Lapangan Dr Murdjani, Senin (24/8/2026). Salat meminta hujan digelar sebagai ikhtiar menghadapi kemarau panjang, kekeringan, dan dampak karhutla. (KP/Devi)

Banjarbaru,KP – Pemerintah Kota Banjarbaru menggelar Salat Istisqa secara berjemaah di Lapangan Dr Murdjani, Senin (24/8/2026) pagi. Salat meminta hujan tersebut digelar sebagai ikhtiar menghadapi kemarau panjang, kekeringan, serta dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Banjarbaru.

Salat Istisqa diikuti Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby, Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru Sirajoni, serta ratusan aparatur sipil negara (ASN) dan tenaga non-ASN dari sejumlah SKPD dan instansi di lingkungan Pemkot Banjarbaru.

Kalimantan Post

Kehadiran jajaran pemerintah bersama ratusan jemaah menjadi bentuk ikhtiar menghadapi kondisi kemarau yang berdampak terhadap ketersediaan air, kesehatan dan aktivitas masyarakat.

Salat dipimpin Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarbaru KH Mukhlis Kaspul Anwar. Selain bertindak sebagai imam, KH Mukhlis juga menyampaikan khotbah di hadapan jemaah.

Dalam khotbahnya, KH Mukhlis menggambarkan dampak kemarau yang semakin dirasakan masyarakat. Tanah mulai mengering, sumber air menyusut, tanaman layu, hingga asap karhutla mengganggu kualitas udara.

“Saat ini bumi tempat kita berpijak sedang diuji dengan kemarau panjang. Tanah-tanah mulai retak mencerminkan dahaga, sumber air surut dan menipis, tanaman layu, dan debu kering bertebaran ditiup angin. Kebakaran hutan meluas dan asap menyelimuti bumi. Udara yang kita hirup mengganggu kesehatan, menimbulkan keresahan, hingga mengganggu berbagai aktivitas kehidupan,” ujarnya.

KH Mukhlis juga mengajak jemaah melakukan introspeksi. Menurutnya, musibah kekeringan dan tertahannya hujan dapat menjadi momentum bagi manusia untuk mengevaluasi diri serta meningkatkan rasa syukur.

“Musibah kekeringan yang menimpa dan tertahannya tetesan air hujan dari langit ini bisa jadi buah dari kelalaian tangan kita sendiri. Ini semua boleh jadi bersumber dari genangan dosa-dosa yang terus kita tumpuk. Kemaksiatan yang dikerjakan secara terang-terangan serta keengganan kita untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Nya,” tegasnya.

Baca Juga :  104 Sertifikat Tanah Wakaf Diserahkan, Pemko Banjarbaru Perkuat Kepastian Hukum

Ia menekankan, Salat Istisqa bukan sekadar ritual untuk memohon turunnya hujan. Momentum tersebut juga menjadi ajakan untuk memperbaiki ibadah, membersihkan hati dan memperbaiki hubungan antarsesama.

Di akhir khotbah, jemaah diajak untuk menjaga lingkungan serta memperbanyak istighfar dan doa. Mereka juga memohon agar kemarau dan kekeringan yang memicu karhutla serta kabut asap segera berakhir.

Hujan diharapkan segera turun sebagai rahmat sehingga kondisi lingkungan kembali membaik, sumber-sumber air terisi, serta aktivitas masyarakat dapat berjalan normal tanpa terganggu dampak kekeringan dan kabut asap.(Dev/k-5)

Iklan
Iklan