Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Hukum & Peristiwa

Sempat Hindari Wartawan, MTs Al-Furqon Akhirnya Buka Suara soal Kematian Dua Siswa

×

Sempat Hindari Wartawan, MTs Al-Furqon Akhirnya Buka Suara soal Kematian Dua Siswa

Sebarkan artikel ini
IMG 20260908 WA0025 e1788841857486
SUASANA - Suasana MTs Pondok Pesantren Al-Furqan Muhammadiyah Banjarmasin. (Kalimantanpost.com/hamdi)

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Sempat menghindari wartawan selama berjam-jam. Akhirnya pihak MTs Pondok Pesantren Al-Furqan Muhammadiyah Banjarmasin bersedia ditemui untuk dikonfirmasi terkait meninggalnya dua siswa setelah mengikuti Kemah Akbar yang dilaksanakan di kawasan Universitas Muhamadiyah Banjarmasin (UMB) pada 5 – 7 September lalu.

Dalam keterangannya, pihak sekolah mengatakan pelaksanaan kegiatan tersebut berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan.

Kalimantan Post

“Kami dari panitia berusaha sebaik mungkin di kegiatan itu dan sesuai dengan SOP dalam melaksanakannya,” ucap salah satu pihak sekolah yang menjabat sebagai Wakil Direktur Bidang Kesantrian, Senin (7/9/2026).

Terkait peristiwa meninggalnya dua siswa Rizqi FAdly Fakhrian (13) dan Muhammad Farhan Alkatiri (13). Pihak sekolah menyampaikan bahwa kasusnya telah diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk ditangani lebih lanjut.

Pihak sekolah juga menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan agar tidak terjadi kembali di kemudian hari.

“Ke depannya ada evaluasi dan perbaikan dari kami,” ujarnya.

Atas kejadian itu, pihak MTs Al-Furqon menyampaikan belasungkawa yang sebesar-besarnya kepada keluarga korban yang ditinggalkan.

“Rencananya kami juga mau mendatangi kedua orang tua korban,” akhirnya.

Sebelumnya, salah satu orang tua korban, Atikah mengungkapkan kekecewaannya terhadap pihak sekolah yang sulit dihubungi untuk mengetahui keberadaan Farhan anaknya saat kejadian tersebut.

Bahkan, menurut Atikah, informasi mengenai kronologi kejadian justru ia peroleh dari cerita teman-teman Farhan setelah mereka ditanyai.

Atikah menceritakan bahwa kekhawatiran memuncak setelah ada orang tua siswa yang lain menghubunginya melalui sambungan telpon dengan kondisi menangis dan membahas anaknya.

“Dia menelpon sambil menangis-nangis dan minta saya cepat-cepat datang karena anak saya. Saat itu saya posisinya di Jalan Gambut. Jadi saya langsung ke grup sekolah dan wali kelasnya, minta tolong anak saya dan saya tanya kemana anak saya dibawa,” terangnya.

Baca Juga :  Tiga Tersangka Dugaan Korupsi KPR Sekitar Rp237 Miliar Ditahan Kejar

Namun, menurut Atikah, pertanyaannya di grup sekolah maupun kepada wali kelas tidak mendapat respons. Kondisi tersebut bahkan membuatnya sempat salah mendatangi rumah sakit.

Ia juga sangat menyesalkan sikap sekolah yang lamban memberitahukan dirinya setelah anaknya hilang. Terlebih, dari informasi yang ia dapat anaknya baru ditemukan dua jam lebih setelah dinyatakan hilang dan dicari pihak sekolah.

“Itu yang saya sesali, harusnya dua jam lebih anak saya Farhan hilang paling tidak sekolah telpon orang tua, Tim SAR, apapun lakukan semaksimal mungkin untuk menolong anak saya,” tuturnya.

Keluarga juga telah melaporkan kasus ini kepada pihak berwajib untuk diusut tuntas agar kronologi kejadian terungkap dengan sebenar-benarnya.

“Sudah dilaporkan,” akhirnya

Diketahui sebelumnya, kedua siswa tersebut ditemukan tenggelam di sebuah kolam yang berada di kawasan UMB pada 6 September 2026 lalu.

Kronologi naas tersebut terungkap saat panitia melakukan absensi. Namun keduanya tidak terlihat dan menjawab.

Siswa lain memberi tahu bahwa keduanya sempat terlihat berada di sekitaran kolam untuk mencuci kaki hingga pada akhirnya pencarian keduanya dilakukan.

Keduanya sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat. Salah satu dari keduanya sempat bernafas dan menunjukkan tanda-tanda kehidupan saat dibawa. Namun akhirnya keduanya dinyatakan meninggal dunia. (ham/KPO-4).

Iklan
Iklan