BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Tak pernah terlintas di benak Atikah, kegiatan Kemah Akbar di kawasan Universitas Muhamadiyah Banjarmasin (UMB) pada Minggu (6/9/2026) lalu yang seharusnya menjadi pengalaman berharga bagi anaknya justru berakhir dengan kabar duka.
Putra pertamanya Muhammad Farhan Alkatiri (13), ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di kolam yang berada di kawasan acara tersebut. Tentunya kepergian Farhan menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga.
Di tengah duka tersebut, Atikah juga mengungkapkan kekecewaan terhadap pihak sekolah. Ia mengaku tidak mendapat jawaban saat berusaha menghubungi pihak sekolah untuk mengetahui keberadaan anaknya.
Bahkan, menurut Atikah, informasi mengenai kronologi kejadian justru ia peroleh dari cerita teman-teman Farhan setelah mereka ditanyai.
Kekhawatiran itu bermula ketika Atikah berulang kali menghubungi putranya sejak pagi. Namun tidak ada jawaban karena khawatir ia mencoba menghubungi salah seorang ibu dari temannya Farhan.
“Saya telpon-telpon sejak pagi tidak diangkat, saya hubungi mama temannya Farhan dan katanya lagi dicari. Waktu itu saya pikir anaknya sedang bermain,” ungkap Atikah kepada awak media, Senin (7/9/2026).
Tak kunjung mendapat kabar, Atikah kembali menanyakan keberadaan anaknya. Namun jawaban diterimanya masih sama, yakni Farhan belum ketemu.
Namun tak lama dari situ, orang tua siswa yang lain menghubunginya melalui sambungan telpon dengan kondisi menangis hingga kekhawatirannya pun memuncak.
“Dia menelpon sambil menangis-nangis dan minta saya cepat-cepat datang, karena anak saya. Saat itu saya posisinya di Jalan Gambut. Jadi saya langsung ke grup sekolah dan wali kelasnya, minta tolong anak saya dan saya tanya kemana anak saya dibawa,” terangnya.
Namun, menurut Atikah, pertanyaannya di grup sekolah maupun kepada wali kelas tidak mendapat respons. Kondisi tersebut bahkan membuatnya sempat salah mendatangi rumah sakit.
Awalnya ia mendapat informasi bahwa anaknya dibawa ke Rumah Sakit RSUD dr H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin. Namun sesampainya disana anaknya tidak ada.
Ternyata putranya dibawa ke Klinik Setara di Handil Bakti, Kabupaten Barito Kuala. Hal tersebut membuatnya mempertanyakan penyampaian informasi dari pihak sekolah.
Ia sangat menyesalkan sikap sekolah yang lamban memberitahukan dirinya setelah anaknya hilang. Terlebih, dari informasi yang ia dapat anaknya baru ditemukan dua jam lebih setelah dinyatakan hilang dan dicari pihak sekolah.
“Itu yang saya sesali, harusnya dua jam lebih anak saya Farhan hilang paling tidak sekolah telpon orang tua, Tim SAR, apapun lakukan semaksimal mungkin untuk menolong anak saya,” tuturnya.
Ia juga sempat mendapat informasi bahwa yang masuk ke kolam tidak hanya anaknya saja. Melainkan beberapa siswa lainnya. Namun tiga siswa lainnya selamat, sedangkan anaknya dan satu temannya lagi tidak selamat.
Bahkan dari pengakuan dari salah seorang temannya Farhan sempat menarik tangan korban. Namun terlepas karena posturnya lebih kecil dibandingkan Farhan.
Selain itu, saat kejadian teman Farhan yang lain berlari melaporkan pada guru yang berada di lokasi kegiatan.
“Sempat ditarik tapi terlepas, dan ada teman Farhan yang lain melaporkan ke guru setelah melihat kejadian itu,” ujarnya.
Ia juga menyayangkan sekolah membiarkan siswanya mendekati area kolam yang ada di kawasan tersebut.
Dari informasi yang ia dapat, para siswa sempat mengikuti permainan yang membuat tubuh mereka kotor. Kemudian anak-anak diarahkan mencuci kaki di kolam.
“Padahal disana ada WC kenapa tidak mencuci di WC yang lebih aman. Malah disuruh ke kolam,” ujarnya.
Ia juga mengaku sempat mengecek ke lokasi langsung untuk mengetahui kondisi kolam yang menjadi tempat anaknya meninggal.
“Kolam itu licin dan berlumpur, semakin kita injak tanah di dalam kolam itu semakin masuk ke dalam. Jadi berbahaya, masa guru membiarkan anak-anak cuci kaki disitu,” ungkapnya.
Dari banyaknya kejanggalan tersebut, membuat pihak keluarga semakin yakin untuk mencari tahu kronologi yang sebenarnya yang terjadi pada anaknya.
Keluarga juga telah melaporkan kasus ini kepada pihak berwajib untuk diusut tuntas aga kronologi kejadian terungkap dengan sebenar-benarnya.
“Sudah dilaporkan,” akhirnya. (ham/KPO-3)















