Penambak Ikan Banua Hanyar Derita Kerugian Miliaran Rupiah

MATI – Karena pengaruh air sungai Martapura yang tercemar petambak ikan di Banua Anyar Banjarmasin menderita kerugian miliaran rupiah, karena matinya ikan yang siap panen. (KP Arifin)

BANJARMASIN ,KP – Puluhan penambak ikan di Sungai Martapura dikawasan Banua hanyar, Banjarmasin Timur mengalami nasib tak beruntung pasalnnya hasil ikan yang dipelihara dan siap panen mati seketika, akhirnnya para penambak dikawasan tersebut rugi mencapai miliaran rupiah.

Wakil Ketua Tani dan Penambak Ikan Banua Hanyar Awi mengatakan, hampir seluruh penambak ikan Bawal di kawasannya mengalami hal tersebut, puluhan ton ikan yang siap panen mati.

“Hampir 90 persen penambak dikawasan Banua Hanyar mengalami kegagalan yakni matinya ikan yang siap panen sejak hari Kamis kemarin,” katannya Senin (7/10)

Ada sekitar dua puluh lebih penambak ikan di Banua Hayar tersebut, dimana satu orang penambak ikan memiliki 5 hingga 40 keramba ikan. 1 keramba modal awal sekitar Rp 6 juta, dan ketika panen keuntungan yang didapat Rp 3 hingga Rp 4 juta dari modal.

“Dua keramba ikan yang siap panen bisa menghasilkan ratusan kilo ikan bawal, bagaimana mereka memang memiliki puluhan keramba tersebut, berapa kerugiannya,” ucap Awi.

Kejadian tersebut dengan matinya ikan yang secara tiba-tiba ini sama persis dengan di Tahun 2016 silam, sedangkan tahun 2017 dan 2018 tak mengalami kejadian.

“Saya tidak tahu persis penyebab kejadian tersebut, memang ada perubahan air disungai Martapura, kadar asin yang cukup tinggi atau bisa pula akibat surutnya air dan tiba tiba hujan turun membawa sejumlah pencemaran dari hulu,” katanya.

Sementara penambak ikan Habhan petani tambak ikan dikawasan Banua Hanyar mengatakan, dirinya mengalami gagal panen dan kerugian yang cukup besar yakni sebanyak 80 ton ikan jenis bawal miliknnya mengapung tak bernyawa, hingga mengakibatkan kerugian yang sangat besar.

“Kurang lebih kerugian yang diderita mencapai Rp 1,2 miliar,”ucapnya.

Para penambak mengharapkan, kejadian seperti ini hendaknnya ada solusi dari dinas terkait, sebab kami para penambak hanya bisa memprediksi berdasarkan alam yakni masalah air.

“Dinas terkait hendaknya bisa mengatakan jika bulan-bulan tertentu keadaan air serta situasi alam seperti apa, jadi kami bisa memanennya lebih awal hingga tak mengalami kerugian yang sangat besar sepert ini,” ucap Fendy. (fin/K-1)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...