Dua Kali Disomasi, PT JBA ‘Tak Peduli’, Tetap Doser Tanaman Warga dan Keruk Batubara

BERDIALOG - Sejumlah warga keberataran lahannya mau didoser yang disebut-sebut oleh PT JBA, juga ada pernyataan keberatan warga, bukti kwitansi serta pajak atas lahan tersebut. (KP/Ist)

BANJARMASIN, KP – Tumbangkan pohon karet, pohon sawit dan tak ada ganti rugi kepada pemilik lahan hingga pengerukan batubara menjadikan warga resah.

Itu disebut dilakukan PT Jasa Bara Anugerah (JBA) di Sungai Karuh Desa Sangsang Kecamatan Kelumpang Tengah Kotabaru Kalimantan Selatan (Kalsel).

Dua kali disomasi, namun sepertinya PT JBA yang disebut-sebut subcon PT Arutmin itu ‘tak peduli’, karena terbukti masih melakukan penggarapan lahan yang dinilai masih bermasalah.

“Karena surat Somasi kami tanggal 12 Nopember 2019 sudah dilayangkan dan sampai hari ini tidak ada tanggapan dari PT (JBA).

Kami setelah menyampaikan surat Somasi, masih memberi toleransi waktu selama tujuh hari,” kata Mukhtar Yahya Daud SH, pengacara dari warga ketika dihubungi, Senin (25/11).

Ia membenarkan adanya permasalahan tersebut yang belum tuntas.

“Apabila Somasi ini tidak ada tanggapan, maka kami menempuh jalur proses hukum.

Baik secara pidana perusakan tanaman karet 3.600 pohon, Kelapa Sawit 128 pohon dan Tanaman Lada (Sahang) sebanyak 300 pohon,” ujarnya.

Serta dikatakan, batubara yang sudah diangkut lebih dari 100.000 ton.

“Atas semua para pemiik tanaman/kebun tersebut sangat dirugikan oleh PT JBA. Mareka masih berbaik hati dengan menyampaikan surat somasi itu,” ungkap Mukhtar Yahya Daud.

Lain lagi diceritakan salah satu pemilik lahan H Syamsuddin, kalau tanah mereka tak pernah dijual kepada siapapun, sesuai surat segelnya.

Dan ada surat pajaknya dengan luas tanah dimilikinya yang tanaman karet produksi miliknya dibuldozer perusahaan tersebut ada seluas 4 hektare.

“Batasnya juga lengkap dengan nomor segel 004 tertanggal 15 Maret 1984,” ujarnya.

Namun, Lagi lagi PT JBA mendoser tanahnya tanpa ada persetujuan.

“Ada tedorong tanaman karet khusus milik saya 1.100 pohon yang sudah produksi

Dan tanaman sahang sebanyak 300 pohon dengan luas tanah terdorong kurang lebiih dua hektare pada Hari Rabu tanggal 6 Nopember 2019,” kata dia.

Diceritakan sebelumnya, tanpa sepengetahuan ada yang menjual lahan warisan itu yakni diketahuinya bernama Aspiani alias Aas kepada H Nunci alias Ala.

“Sebenarnya lahan milik kami itu hanya seluas empat hektare saja, tapi oleh Ass dijual kepada Ala malah disebut seluas lima hektare,” jelas Syamsudin.

Kemudian bagaimana selanjutnya, tiba-tiba muncul PT JBA yang garap.

“Kita jelas keberatan, dan langsung melapor ke Kepala Desa Sangsang,” ucapnya seraya menujukan bukti kepemilikan dan lainnya hingga somasi pribadinya yang pertama ke PT JBA.

Dan ketika itu antara dua penjual dipertemukan hingga ada kesepakatan kalau Aas kembalikan uang dari lahan telah dijual dan kwitansi jualbeli itu dicabut tertanggal sejak tanggal 12-08-2018.

“Waktu berjalan muncul PT JBA melakukan penggarapan tersebut,” ucapnya.

Ternyata soal itu dialami warga lainnya.

Di Desa Sangsang itu yang keberatan pula ada 7 warga. “Itu sebagai nafkah keperluan sehidup sehari- hari warga.

Dan telah dirusak PT JBA, yang disaksikan pagawai/karyawan PT Arutmin menggunakan tiga buah mobil melakukan pendoseran pohon,” tambah Mukhtar. (K-2)

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...