Abad 14 Pedagang Cina (Tionghoa) Masuk di Banjarmasin

Banjarmasin, KP – Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur S.Pd M.Hum menyebut catatan tertua tentang Orang Cina yang berdagang ke Banjarmasin mulai ada sekitar Abad ke-14. Seperti dalam catatan kronik Cina Buku 323, Sejarah Dinasti Ming tahun 1368-1643, menyebutkan tentang keberadaan Kesultanan Banjar, pada masa Sultan Hidayatullah I (Sultan Banjar ketiga).

Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur S.Pd M.Hum

Dalam sumber ini, ujar Mansyur, juga menunjukkan adanya kunjungan pedagang Cina di Bajarmasin. “Artinya pada tahun 1368-1643, orang Cina sudah ada di Banjarmasin untuk berdagang, walaupun belum tinggal menetap,” bebernya.

Mansyur memaparkan pada umumnya, orang-orang Cina membawa porselin, teh, kain sutera, dan beras serta membeli lada dan hasil hutan, tripang, dan agar-agar yang dibawa dari pedagang Makasar serta rempah-rempah dari Maluku. Karena mereka memiliki modal yang kuat maka mereka mampu menyewa perahu kecil dari penduduk untuk digunakan berlayar sampai ke pedalaman.

“Di sana mereka dapat menjual barang dagangannya kepada penduduk di pedalaman. Kemudian mereka juga mencari komoditas lada/sahang yang dihasilkan Kesultanan Banjar yang ramai diperdagangkan di pasar internasional dengan orang Eropa,” ujarnya.

Dijelaskannya, dalam sumber Cina masa dinasti Ming tahun 1618, kembali muncul catatan orang cina tentang Banjarmasin. Sumber ini menyebutkan terdapat rumah-rumah di atas air yang dikenal sebagai rumah Lanting (rumah rakit). Sumber ini berasal dari catatan yang dirangkum zang xie, dalam tulisannya dong xi yang kao tahun 1618.

Pedagang Cina pada era ini sudah mulai menetap dengan menempati wilayah Pecinan. Pedagangan orang orang Cina sempat menurun dan bahkan terhenti sekitar periode tahun 1701-1707 karena adanya perselisihan antara pedagang Banjar (Biaju) dengan orang orang Inggris,” terangnya.

Mansyur menguraikan, pada tahun 1707, orang-orang Cina bebas kembali untuk mengadakan transaksi dengan para pedagang lada Banjar dan Biaju. Jumlah orang-orang Cina yang berkumpul di daerah Kesultanan Banjar makin hari makin besar.

Berita Lainnya
1 dari 2.623

“Mereka terdiri dari 2 golongan yakni pedagang-pedagang jung dan pedagang-pedagang menetap. Pada awal abad 18 ini jua mulai diangkat seorang Cina yang bernama Lin Bien Ko, sebagai Syahbandar yang berkedudukan di pelabuhan Tatas,” urainya.

Mansyur mengutip dari beberapa Sumber, seperti buku Sejarah Banjar (2013) terbitan Balitbangsa Kalsel, dituliskan pada tahun 1736 dengan izin Sultan Hamidullah (1700-1734 M), orang-orang Cina mendirikan perkampungan untuk tempat tinggal dekat pelabuhan Tatas. Perkampungan orang-orang Cina ini dikepalai oleh seorang Kapiten Cina yang setiap bulan harus membayar sejumlah uang sewa kepada sultan.

Disamping itu lanjutnya, dalam keadaan mendesak misalnya terjadi perang, kapiten wajib membantu sultan dengan meminjamkan perahu kepada sultan bila diperlukan. Hubungan yang cukup erat dengan sultan merupakan salah satu dasar mengapa sultan akhirnya memberikan izin kepada orang Cina yang awal mulanya hanya datang sebagai pedagang dan tinggal untuk sementara kemudian diperbolehkan menetap dan menjadi masyarakat yang berbaur dan turun temurun tinggal di kawasan tepi Sungai Martapura di Banjarmasin.

Diuraikannya, Pedagang-pedagang jung (perahu besar khas Cina) hanya tinggal sementara di Tatas atau di tempat lain di daerah Banjar. Setelah selesai dengan aktivitas perdagangannya termasuk mengisi perbekalan kapalnya, mereka akan kembali berlayar ke Kanton, Amoy atau pelabuhan lainnya di Tiongkok, baru kembali ke Banjar pada musim berikutnya. Sedang pedagang menetap, mulanya mereka juga seperti pedagang jung yang hanya tinggal sementara di Banjar, namun karena melihat kemungkinan untuk menjadikan Banjar sebagai rumah mereka yang kedua, maka kemudian mereka tinggal dan menetap.

“Beberapa di antara mereka membuat toko di kota atau pelabuhan, menjadi pedagang perantara antara pedagang jung dan pedagang Banjar,” runutnya.

Kemudian kata Mansyur, Terdapat sekitar 80 keluarga di Tatas (Banjarmasin) dan Kayu Tangi (Martapura) sebelum tahun 1708, jumlah mereka terus bertambah menjadi sekitar 200 keluarga sesudah periode itu. Secara berangsur-angsur beberapa di antara mereka dapat berkomunikasi dengan penduduk setempat dalam bahasa setempat.

“Mereka dengan mudah dapat berintegrasi, sehingga kemudian dapat bergerak bebas dimana mereka suka. Bahkan pimpinan mereka di Banjar, kapten Lim Kom Ko, sering diutus oleh para penguasa kerajaan Banjar (Sultan Suria Alam) untuk ikut mewakili dalam perundingan-perundingan dengan orang-orang Eropa pada tahun 1708,” ungkapnya.

Dipaparkannya, menurut Dana Listiana dalam risetnya tentang Kampung Cina di Banjarmasin, menuliskan data paling awal yang menyebut permukiman Cina secara tekstual adalah Laporan Umum tahun 1850. Dalam laporan bertitel Algemeen Verslag tersebut dipaparkan bahwa kampung dan pemukiman Cina di Banjarmasin terdiri atas Kampung Ulu dan Kampung Ilir.

“Sejak itu, mulai ada pencatatan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda tahun 1895, jumlah suku Tionghoa yang terdapat di Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo (Kalsel-Kalteng-Kaltim-Kaltara) seluruhnya berjumlah 4.525 jiwa (laki-laki 2.829). Jadi sejak dahulu jumlah populasi di ke-4 provinsi tersebut relatif sedikit dibanding dengan daerah lainnya di Borneo yaitu Kalbar, Sarawak dan Sabah yang jumlah suku Tionghoanya mencapai 40% dari populasi penduduk daerah-daerah ini,” kata Mansyur. (zai/KPO-2)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya