Ada Apa di Balik Moderasi Kurikulum

Oleh: Ridha Yanty
Pemerhati Sosial dan Kemasyarakatan

Memasuki tahun ajaran 2020/2021, pemerintah melalui Kementerian Agama memberlakukan kurikulum baru untuk pendidikan di madrasah yaitu kurikulum PAI dan Bahasa Arab. Kurikulum tersebut tercantum dalam Keputusan Menteri Agama atau KMA 183 tahun 2019 yang menggantikan KMA 165 tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran PAI dan Bahasa Arab pada Madrasah.

Nantinya, madrasah akan menggunakan buku yang sebelumnya telah dinilai Tim Penilai Puslibang Lektur dan Khazanah Keagamaan. Sebanyak 155 buku telah disiapkan, termasuk untuk PAI (Detiknews.com, 11/7/2020).

Pun, dilansir dari Okezone.com, 03/7/2020. Kurikulum baru ini merupakan bagian dari program moderasi yang dirancang pemerintah sebagai bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) IV tahun 2020-2024. Kemenag telah menjabarkan moderasi beragama dalam Rencana Strategis (renstra) pembangunan di bidang keagamaan lima tahun mendatang.

Program tersebut antara lain review 155 buku pendidikan agama, pendirian Rumah Moderasi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), dan penguatan bimbingan perkawinan. Nilai-nilai moderasi beragama diinternalisasikan Kemenag melalui program ToT guru dan dosen, menyusun modul karakter moderat serta ramah anak.

Pendistorsian Makna Islam

Wujud nyata dari moderasi kurikulum madrasah yaitu pandangan yang menyebutkan bahwa pembelajaran tentang kepemimpinan dalam sistem Islam/Khilafah hanyalah sejarah. Bukan lagi sebagai hukum Islam yang wajib diperjuangkan atau diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya dalam Alqur’an dan sunah.

Khilafah diposisikan sebagai sejarah. Kondisi di masa lalu yang tidak perlu diwujudkan kembali. Sedangkan jihad lebih dimaknai sebagai spirit atau semangat semata. Bukan kewajiban berperang untuk menghilangkan kezaliman di muka bumi. Pelajaran tentang Khilafah dan jihad tidak akan lagi diajarkan pada pelajaran fiqih karena dianggap tidak releven dengan kondisi sekarang.

Meskipun diklarifikasi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemeneg, Kamaruddin Amin, bahwa pihaknya bukan menghapus kata Khilafah dan jihad melainkan hanya dilakukan revisi. Kamaruddin berkata, materi khilafah dan jihad tidak dihapus karena merupakan bagian dari sejarah Islam. Namun, perlu ada penyesuaian mengikuti perkembangan zaman. Sehingga, makna Khilafah dan jihad akan memiliki perspektif yang lebih produktif dan konstekstual.

Menurutnya, kata Khilafah saat ini dinilai sudah tidak releven dengan Undang-undang Dasar 1945. Khilafah adalah fakta sejarah yang pernah ada dalam pelataran sejarah peradaban Islam, tetapi tidak cocok lagi untuk indonesia yang telah memiliki konstitusi. Begitu juga dengan jihad, ada perspektif baru soal jihad (Cnnindonesia.com, 08/12/2019).

Sebagai akibat dari moderasi kurikulum pendidikan yang berlandaskan pada Islam moderat, diambillah sikap kompromi dan jalan tengah. Islam moderat berusaha mengkompromikan dengan selain Islam. Akhirnya, Islam setengah-setengah. Dipilih untuk mengapresiasikan sikap toleransi.

Berita Lainnya
1 dari 154
Loading...

Padahal, Islam moderat atau moderasi Islam tidak pernah dikenal sebelumnya dalam tsaqofah Islam tatkala kekhilafahan berdiri. Di dalam sistem pendidikan Islam pun tidak dikenal apa itu moderasi kurikulum. Wajar, sebab istilah ini merupakan bagian dari program moderasi Islam arahan Barat dan rencana mereka untuk menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam sebagai falsafah atau ideologi yang memuat aturan kehidupan yang komprehensif.

Umat Islam juga dibuat untuk menolak akan kebenaran Islam sebagai satu-satu ideologi yang memberikan solusi atas seluruh permasalahan umat. Umat digiring pada pemahaman bahwa agama hanyalah sekedar alat kebudayaan dan menempatkan agama bukan sebagai asas kehidupan bagi muslim.

Amat sangat terlihat, moderasi agama melalui kurikulum pendidikan madrasah lahir dari ketakutan penguasa akan munculnya paham radikal ditengah masyarakat. Pemahaman yang salah dalam memaknai radikal, radikal dianggap sebagai kekerasan dan terorisme. Islam radikal itu adalah yang menurut mereka bercirikan Islam yang menolak ide-ide kufur Barat seperti sekularisme, pluralisme dan liberalisme, taat syariat, menginginkan syariat diterapkan dalam bentuk negara kekhilafahan.

Pemahaman inilah yang terus dipropagandakan agar umat terbawa arus pemahaman yang mereka inginkan dan moderasi sebagai obat yang mampu meredupkan paham radikal dimasyarakat.

Kurikulum pendidikan diotak-atik demi menjauhkan umat Islam dari agamanya sendiri, menghapus jejak kemulian Syariah Islam dan mengaburkan pemahan umat tentang yang benar tentang Islam. Umat Islam dibuat takut tentang ajaran kepemimpinan Islam dalam bingkai kekhilafahan. Sehingga umat berstigma bahwa khilafah adalah musuh yang tidak boleh ada dalam ajaran Islam dan menolak ide Khilafah.

Khilafah Ajaran Islam

Khilafah merupakan ajaran Islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw, para sahabat, dan penerusnya hingga periode khilafah Ustmaniyah. Hal itu tercatat dalam sejarah. Khilafah mampu memberikan sistem yang sempurna dalam mengatur kehidupan manusia. Karena berdasarkan pada Alquran dan As Sunnah. Seperti halnya dengan materi shalat, puasa, zakat, dan haji, khilafah juga materi pelajaran Islam yang wajib dipelajari dan dilaksanakan berdasarkan Ijma’ Sahabat maupun ulama, khususnya ulama Ahlussunnah wal Jamaah. 

Imam an-Nawawi rahimahullah tegas menyatakan, “Mereka (para ulama) telah bersepakat bahwa wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang khalifah (menegakkan Khilafah, red). Kewajiban ini berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal” (Syarkh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 12/205 ).

Islam bukanlah agama yang bisa dipilih aturan mana yang cocok, apalagi ajaran Islam yang dihapus dianggap tidak releven. Hakikatnya, umat Islam wajib untuk memeluk Islam secara kaffah, sebagaimana firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh)”. (QS. Al Baqarah : 208).

Allah SWT telah menetapkan kewajiban jihad di dalam Alquran dan pelaksanaannya di bawah perintah seorang Khalifah yang telah dibaiat secara syar’i. Secara syar’i jihad bermakna perang di jalan Allah sebagaimana dalam hadis penuturan Anas bin Malik ra, “Perangilah kaum musyrik dengan harta, jiwa, dan lisan kalian”. (HR Abu Daud, an-Nasa’I dan Ahmad).

Sehingga, sudah seharusnya kita sebagai muslim sadar bahwa moderasi kurikulum berbahaya bagi umat Islam dan bagi generasi muslim. Hal tersebut merupakan penyesatan sistematis terhadap ajaran Islam. Pun, strategi Barat untuk menyesatkan pemahaman umat agar menjegal tegaknya kembali Khilafah yang menerapkan hukum Islam secara kaffah melalui kurikulum pendidikan. Tentu kita sebagai muslim menolak ide moderasi ini.

Wallaahu a’lam.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya