Perempuan dan Lesunya UMKM Akibat Covid-19

Oleh : Baiq Lidia Astuti, S.Pd
Pemerhati Masalah Perempuan dan Anak

Ketangguhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia kembali diuji dalam menghadapi dampak ekonomi akibat penyebaran virus korona Covid-19. Selain membutuhkan dukungan pemerintah, pelaku UMKM perlu melakukan terobosan dan strategi agar tetap mampu bertahan di tengah lesunya ekonomi.

Merosotnya pendapatan para pelaku UMKM di Indonesia akibat pandemi sungguh nyata terjadi. Secara nasional berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM setidaknya ada 163.713 UMKM dan 1.785 koperasi terkena dampak Covid-19.

Pemprov Kalsel melalui Dinas Koperasi dan UMKM saat ini tengah mendata koperasi dan UMKM yang terdampak pandemi virus Corona. Diperkirakan ada ribuan UMKM dan ratusan koperasi di Kalsel yang terpuruk akibat pengaruh pandemi virus korona. Turunnya permintaan secara signifikan menjadi permasalahan utama dihadapi UMKM. Padahal sektor UMKM berkontribusi tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, pelaku UMKM ternyata didominasi oleh perempuan. Lebih dari 60 persen pelaku UMKM adalah perempuan. Jadi, perempuan pun terimbas secara ekonomi tersebab pandemi ini. Banyak para perempuan yang menjadi pelaku UMKM akhirnya gulung tikar, sementara kondisi covid ini mengharuskan mereka untuk tetap bisa bertahan hidup di tengah kesulitan. Padahal, keterlibatan kaum perempuan dalam UMKM terbesar adalah karena alasan ekonomi, apakah karena kebutuhan yang tidak terpenuhi ataupun untuk eksistensi diri agar bisa sama dengan laki laki.

Dalam kapitalisme, perempuan merupakan bagian yang harus diberdayakan demi meningkatnya perekonomian. Peningkatan partisipasi perempuan dalam UMKM tentu saja akan makin menggairahkan perekonomian. Perempuan yang berdaya secara ekonomi dianggap dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Itulah pandangan kapitalis atas pemberdayaan ekonomi perempuan yang berkesesuaian dengan pandangan Barat yang hanya dilandaskan pada aspek ekonomi semata. Kapitalisme menjadikan perempuan sebagai tumbal kesejahteraan dan mengabaikan perannya sebagai ibu generasi.

Berita Lainnya
1 dari 154
Loading...

Pemberdayaan perempuan membuat perempuan menjadi mandiri secara finansial. Perempuan dipaksa membiayai hidupnya sendiri. Negara abai akan nasib warga negaranya sendiri. Perempuan terpaksa menjadi autopilot karena negara tidak mengurusinya. Bahkan, negara juga abai akan nasib generasi penerus yang lahir dari rahimnya.

Di sisi lain, pemberdayaan ekonomi perempuan dan kesetaraan gender juga membuat perempuan diaruskan untuk terjun dalam dunia kerja sebagaimana laki-laki.

Kesetaraan gender memaksa perempuan untuk disamakan dengan laki-laki dan menunaikan tanggung jawab laki-laki. Kesetaraan gender yang mendambakan terwujudnya Planet 50×50 memaksa perempuan untuk melupakan kodratnya sebagai perempuan.

Pemahaman ini berkesesuaian dengan ide feminisme yang mendukung peran perempuan di ranah publik. Karenanya saat pandemi terjadi, kapitalisme pun mulai redup, resesi ekonomi di ujung tanduk. Alhasil perempuan pun banyak yang harus kembali ke rumahnya sebab tak punya pekerjaan lagi.

Islam memiliki pengaturan yang jelas tentang sistem ekonomi negara. Sekaligus Islam memiliki pengaturan khas pada perempuan. Islam menetapkan perempuan adalah istri dan ibu generasi, bukan pemilik kewajiban untuk mencari nafkah. Islam menetapkan laki-laki lah yang wajib mencari nafkah. Islam juga memiliki mekanisme untuk menanggung nafkah perempuan dan anak-anaknya dalam kondisi tertentu, sehingga perempuan tetap dapat menjalankan perannya sebagai ibu generasi.

Islam memberikan keleluasaan untuk para perempuan menuntut ilmu. Islam juga membolehkan perempuan untuk bekerja, namun tidak mewajibkannya sebagai penanggung jawab nafkah, meski untuk dirinya sendiri.

Semua itu karena Allah sudah menetapkan tugas kodrati masing-masing sesuai dengan peran dan fungsi berdasarkan jenis kelaminnya. Dan bukan karena merendahkan perempuan atau menjadikannya sebagai warga kelas dua, namun justru karena memuliakannya. Dan sungguh, hanya Islam lah yang dengan pengaturannya mampu mengembalikan peran utama perempuan. Wallahu A’lam

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya