Maulid Dan Kecintaan Kepada Rasul

Oleh : Drs. Ismail Wahid, SH. MH.
Praktisi Hukum

Sekarang kita berada di bulan Rabiul Awal 1442 Hijriah. Kebiasaan kaum muslimin di Indonesia, begitu tiba bulan Rabiul Awal, banyak masyarakat muslim yang merayakan dan memperingati maulid atau kelahiran Rasulullah SAW, baik di rumah-rumah, masjid dan mushalla, di kantor, di sekolah sekolah dan tempat-tempat lainnya. Dengan mengundang tetangga dan warga masyarakat.

Selain itu ada juga yang memperingati maulid dengan berbagai cara seperti bakti sosial, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, khitanan masal, baayun maulid dan lain lainnya. Pembacaan syair syair maulid seperti pembacaan Ad Diba, Al-Habsyi, Al-Barzanji, Syaraful Anam dan bacaan bacaan lainnya yang diikuti dengan pengajian agama yang berkaitan dengan sejarah atau riwayat kehidupn Rasul seperti akhlak dan keteladanan Rasulullah SAW.

Pertanyaanya sekarang, apakah pernah Nabi Muhammad SAW merayakan dan

memperingati hari kelahirannya? Sejak kapan peringatan maulid Nabi dimulal dan bagaimana hukumnya memperingati maulid Nabi Muhammad SAW?

Kalau memperhatikan sejarah, di masa Rasululah SAW, semasa hidupnya tidak pernah memperingati hari ulang tahun kelahirannya dengan bentuk upacara, tetapi beliau memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa. Suatu ketika Rasulullah pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berpuasa hari Senin”. Rasul menjawab, “Pada hari Senin aku dilahirkan”. Dengan demikian, Rasululah memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa dan oleh masyarakat dikenal dengan sebutan “puasa kelahiran”.

Imam Jamaluddin As-Suyuthi dalam sebuah kitabnya menulis dengan judul

“Husnul Maqasid fil Amal Al-Mawalid”, menjelaskan bahwa pada zaman Rasulullah dan Khulafur Rasyidin memang belum ada peringatan maulid Nabi dalam bentuk upacara itu. Peringatan maulid mulai dilaksanakan pada saat kondisi umat Islam yang semakin terpuruk dan jauh dari Islam serta tidak punya semangat memperjuangkan agamanya, padahal sebelumnya Islam telah berjaya dan mampu menaklukan Romawi, Persia, bahkan sampai ke banua

Eropa.

Pada perang salib, kaum Nasrani balas dendam, dimana umat Islam mengalami kekalahan, orang-orang Nasrani menjajah Timur Tengah, membunuh orang-orang Islam, merampas hartanya dan merusak kebudayaan. Di saat-saat semangat juang umat Islam melawan penjajah mulai menurun dan budaya Islam terkoyak-koyak, maka timbullah inisiatif seorang raja bernama Al-Malik Mudhaffarudin (Raja Himsyiyah) mengundang para ulama dan masyayikh ke Istana untuk bermusyawarah, bagaimana caranya mmbangkitkan semangat juang umat Islam dan membebaskan diri dari penjajah, serta menanamkan kepada anak-anak muda dan kaum muslimin agar selalu cinta dan meneladani Rasulullah SAW. Hasil musyawarah tersebut, para ulama mengusulkan adalah dengan cara memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, yang kemudian dikampanyekan secara besar-besaran. Para ulama dan mubaligh ditugaskan untuk menceriterakan sejarah Nabi dan para ahli syair ditugaskan membuat syair-syair maulid yang berisi puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Terhadap hasil musyawarah ulama ini, diantaranya ada yang tidak setuju dengan alasan bid’ah, karena peringatan maulid Nabi tidak pernah dilaksanakan oleh Nabi.

Berita Lainnya
1 dari 181

Menanggapi ketidaksetujuan ini, para ulama yang hadir menjelaskan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat, tetapi ada juda bid’ah hasanah.

Sayyid Alwi Al-Maliki Al-Hasani menjelaskan dalam kitab “Muhtasar Sirah

Nabawiyah”, bahwa peringatan maulid Nabi bukan termasuk bid’ah dhalalah, melainkan Sesuatu yang dianggap baik, apalagi dilakukan dengan ikhlas karena Allah akan mendapatkan pahala. Selanjutnya, menurut Imam Al-Iz Abdussalam dan Ibnu Atsar menjelaskan, bahwa, peringatan maulid Nabi itu tidak termasuk ibadah mahdhah muqayyadah, yaitu sesuatu ibadah murni yang tata caranya terikat dan tidak boleh diubah, seperti shalat dan haji, tetapi peringatan maulid Nabi itu adalah termasuk ibadah mutlaqah

ghairu muqayyah, yaitu ibdah mutlaq yang tata caranya tidak terikat, dimana perintahnya sudah ada, tetapi teknis pelaksanaanya tidak diatur dan terserah kepada masing masing orang. Contohnya membaca shalawat, perintahnya disebutkan dalam Alqur’an : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatnya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al Ahzab : 56).

Perintah membaca shalat ini sebenarnya sudah ada, namun dalam pelaksanaannya terserah kepada kita apakah mau membaca shalawat yang panjang, pendek ataupun berupa syair-syair maulid, apakah mau membacanya di rumah, di masjid atau mushalla dan di kantor, apakah dengan suara nyaring, menggunakan pengeras suara atau pelan-pelan yang penting bershalawat kepada Rasulullah.

Seluruh ulama memutuskan dalam pertemuan itu, bahwa paringatan maulid Nabi Muhammad SAW itu boleh, kemudian Al Malik Mudhaffaruddin langsung memberikan sumbangan seratus ekor unta dan sekian ton gandum untuk mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, ternyata sangat efektif untuk

menyadarkan kaum muslimin untuk cinta kepada Rasulullah dan membangkitkan semangat juang melawan penjajahan tentara salib. Akhirnya laskar Islam bersama panglima Shalahuddin Al-Ayyubi dapat memenangkan perang salib pada tahun 580 Hijriah. Sejak tahun itulah peringatan maulid Nabi Muhammad SAW diadakan oleh negara-negara muslim di dunia, termasuk di Indonesia.

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang selama ini dilaksanakan, hendaknya mampu menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah untuk selanjutnya tergerak hati untuk mencontoh dan meneladani beliau serta bangga dan gembira melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan beliau tanpa beban dan rasa terpaksa.

Mudah-mudahan dengan mengetahui latar belakang sejarah dilaksanakannya

peringatan maulid Nabi Muhammad SAW tidak akan terjadi pertentangan di antara sesama muslim, kapan dan di manapun kita berada, karena orang-orang muslim itu bersaudara.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya