Upaya Pemulihan Ekonomi, Dua Ikon Wisata Terapung Diresmikan

Banjarmasin, KP – Baru-baru ini, Pemerintah Kota Banjarmasin meresmikan dua ikon wisata terapung baru yang berada di dua lokasi terpisah yang ada di Kota Banjarmasin.

Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengatakan, dengan diresmikan ikon wisata baru tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah dalam pemulihan ekonomi melalui sektor wisata.

“Ini kita bangun dengan Dana Insentif Daerah (DID) dari Pemerintah Pusat yang diberikan dalam rangka pemulihan ekonomi nasional melalui sektor wisata,” ucapnya pada awak media usai meresmikan Galeri Terapung yang ada di Kampung Sasirangan, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Senin (21/12) pagi.

Menurutnya, jika upaya tersebut berhasil dan sudah mulai pulih, objek-objek wisata itu semakin bagus. “Makanya kami menyerahkan kepada Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) di lokasi tersebut untuk pengelolaannya,” tambahnya.

Tidak hanya Galeri Terapung Sungai Jingah, orang nomor satu di Kota Baiman itu juga meresmikan Rumah Lanting yang berlokasi di Kelurahan Mantuil.

Ia menjelaskan, Rumah Lanting Mantuil tersebut akan menjadi daya tarik tambahan bagi kawasan yang ada di pesisir Kota Seribu Sungai itu.

“Soalnya sekarang tempat itu sudah semakin ramai dikunjungi warga, apalagi menjelang peresmian Jembatan Pulau Bromo,” ujarnya.

Ia meyakini, kedepannya akan banyak warga yang berkunjung ke kawasan tersebut untuk berwisata.

“Ini juga menjadi penambah khazanah spot wisata susur sungai di Banjarmasin,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Sungai Jingah, Muhammad Rafi mengaku sangat bersyukur atas diresmikannya Galeri Terapung yang akan dikelola oleh pihaknya.

“Kami selaku warga Kampung Sasirangan Sungai Jingah sangat senang dengan keberadaan galeri ini. Rencananya akan kita gunakan sebagai wadah promosi kain sasirangan karya para pengrajin sasirangan di Sungai Jingah,” jelasnya.

Berita Lainnya
1 dari 589

Di lokasi tersebut terdapat 24 pengrajin yang saat ini masih aktif memproduksi kain yang merupakan budaya khas Suku Banjar itu.

“Galeri itu terbuka untuk seluruh pengrajin, jadi siapa pun bisa meletakkan karyanya untuk jadi display,” tukasnya.

Kendati demikian, dalam pemanfaatannya, Pokdarwis Kampung Sasirangan Sungai Jingah tidak bisa membuka galeri tersebut setiap hari.

“Karena tidak ada pintu atau penutup di bangunan itu, jad kalau hujan dan angin deras, kemungkinan bisa merusak kainnya. Jadi kita hanya membuka display hanya saat ada tamu saja,” ungkapnya.

Saat ditanya terkait bagaimana cara Pokdarwis mempromosikan Galeri Terapung itu ke masyarakat, pria dengan sapaan Baba Rafi itu mengaku jika Pokdarwis Sungai Jingah memanfaatkan sosial media.

“Kita juga sudah memiliki akun instagram untuk mempromosikan galeri ini. Apalagi disini bisa jadi spot foto yang bagus,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Pokdarwis Jembatan Pulau Bromo yang menjadi pengelola Rumah Lanting Mantuil, Hamdani.

Ia menuturkan, bahwa warga di Kelurahan Mantuil sangat menyambut baik atas kehadiran Rumah Lanting tersebut.

“Rumah Lanting ini akan kita isi dengan hasil karya masyarakat sekitar seperti kerajinan tanggui, purun, tas, dan kerajinan lainnya yang kental dengan nuansa Banjar,” imbuhnya.

Lantaran baru saja dibentuk, Hamdani mengaku bahwa Rumah Lanting tersebut belum diisi apapun, rencananya hari Jumat ia bersama anggota Pokdarwis Jembatan Pulau Bromo baru akan mulai membukanya.

“Nanti hari jumat baru akan kita buka, jadi sebelum masuk ke Rumah Lanting, nanti ada wisata kuliner di depannya,” ujarnya.

Keterlambatan pemanfaatan ikon wisata baru tersebut dikarenakan warga sekitar yang merupakan para pengrajin, memiliki keterbatasan bahan baku untuk membuat kerajinan.

“Disini kami terkendala bahan baku, makanya hari Jumat baru kami buka,” tutupnya.(Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya