Satpol PP Kewalahan Tindak Badut Anak

Banjarmasin, KP – Keberadaan badut anak yang kian marak terjadi di Kota Banjarmasin menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah Kota (Pemko) setempat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Banjarmasin Fakhrurrazie mengakui pihaknya kesulitan untuk menertibkan badut badut yang ada berkeliaran di penjuru Kota Banjarmasin.

“Karena mereka ini seperti kucing-kucingan dengan petugas. Saat kita lewat patroli mereka sembunyi, setelah itu mereka muncul lagi,” ungkapnya pada awak media saat ditemui di depan Gedung Balai Kota Banjarmasin, Jumat (8/1).

Padahal, menurut pria dengan sapaan Razie itu, pihaknya sudah gencar melakukan operasi yustisi untuk menertibkan badut-badut jalanan yang mayoritas dilakoni oleh anak-anak usia sekolah.

“Sudah cukup banyak kita tertibkan. Kebanyakan anak-anak yang jadi badut. Ini yang menjadi perhatian oleh Pak Wali Kota,” ucapnya.

Kendati demikian, pihaknya masih belum berani mengatakan bahwa fenomena tersebut merupakan salah satu bentuk eksploitasi anak.

Pasalnya hingga kini Pemko Banjarmasin dalam hal ini adalah Satpol-PP dan Dinas Perlindungan Pemberdayaan perempuan dan Anak (DP3A) Kota Banjarmasin masih melakukan pendalaman tentang hal tersebut.

“Ini yang masih kita pelajari. Apakah mereka memang dieksploitasi atau tidak. Walaupun saat kita tangkap anak-anak yang jadi badut jalanan itu ngakunya untuk cari uang agar bisa beli HP dan segala macam lainnya atas kemauan sendiri,” jelas Razie.

Berita Lainnya
1 dari 3.585

Namun, karena beberapa waktu yang lalu, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengeluarkan statemen agar badut-badut tersebut ditertibkan, maka selaku aparat penegakkan Perda di Kota Banjarmasin, pihaknya akan segera bergerak melakukan operasi yustisi.

“Akan tetap ditertibkan selama mereka berada di area-area terlarang. Akan kita lakukan Yustisi. Jadi mereka yang terjaring akan kita bawa ke pengadilan dan akan dijatuhi sanksi,” tegasnya.

Ia membeberkan, Satpol PP Kota Banjarmasin sendiri telah menertibkan puluhan badut anak-anak. Dalam giat terakhir yang dilakukan beberapa waktu yang lalu, pihaknya sudah menertibkan lebih 20 badut.

“Yang mirisnya, isi dalam kostum badut-badut itu mayoritas adalah anak-anak,” bebernya.

Walaupun sudah pernah disuruh menandatangani surat perjanjian, orang dewasa maupun anak-anak yang terjaring razia itu tetap saja turun ke jalan untuk mengamen.

“Saya sering lihat itu, bahkan ada yang sampai jam 11 malam masih ngamen jadi badut di persimpangan jalan,” tambahnya.

Dari hasil introgasi petugas, alasan utama mengapa para anak-anak yang memutuskan untuk jadi badut jalanan adalah urusan ekonomi.

“Masalah ekonomi dan urusan perut yang jadi alasan mereka jadi badut. Takutnya terjadi eksploitasi anak, Itu yang dikhawatirkan oleh Pak Wali,” pungkasnya. (zak/K-7)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya