Harga Ayam Potong di Pasar Masih Mahal

Banjarmasin, KP – Harga ayam potong di pasar tradisional dalam pekan ini terbilang cukup tinggi. Pedagang mengeluhkan harga yang tak kunjung turun.

Alih-alih menjadi normal, harga ayam potong justru terpantau mahal. Masalah itu berdampak pada penjualan daging ayam yang semakin tak menentu bagi sejumlah pedagang.

Hj Suriah (48), pedagang ayam di Pasar Sentra Antasari, Jalan Pangetan Antasari, Banjarmasin Tengah, mengeluhkan harga jual ayam potong yang cukup tinggi.

“Jualan sunyi, harga ayam naik terus. Ukuran seperti ini, 2 bulan yang lalu paling seharga Rp 20 ribu sampai 22 ribu. Sekarang harganya Rp 43 ribu” ujar Hj Suriah, sambil menunjukkan ayam potong berukuran tak terlalu besar.

Ia menambahkan, naiknya harga ayam potong membuat pembelinya menurun dibanding beberapa bulan sebelumnya. Agar tak ditinggal pelanggan, Hj Suriah pun terpaksa mengambil untung sedikit saja.

“Pelanggan biasanya beli 1 ekor, karena mahal, belinya hanya 1/2 ekor saja. Bahkan, ada yang tak jadi membeli setelah tahu harganya cukup tinggi,” katanya pada Kalimantan Post, Senin (22/2).

Untungnya, Hj Suriah memiliki pelanggan yang tetap membeli meskipun harga ayam potong mengalami kenaikan.

Hal yang sama dilontarkan Hj Fatimah, seorang penjual makanan yang tengah berbelanja di Pasar Hanyar.

Berita Lainnya
1 dari 643

Menurutnya, tingginya harga ayam potong membuatnya harus pandai mengatur pengeluaran.

“Biasa saya beli ayam dikisaran harga Rp 40.000 ukurannya cukup besar. Kini, dengan harga yang sama, ukuran ayamnya malah lebih kecil. Jadi, harus bisa mengatur uang belanja biar semua keperluan bisa terbeli,” keluhnya.

Ia mengaku, enggan menaikkan harga lauk ayam yang dijualnya, lantaran takut pelanggan akan lari. “Saya jual harganya tetap saja, cuma ukurannya saja yang lebih kecil sedikit, yah menyesuaikan lah,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan, H Birhasani mengungkapkan, berdasarkan Permendag No 7 Tahun 2020, harga acuan ayam potong di tingkat konsumen adalah Rp 35.000 per kilogram.

“Jadi, penjualan itu patokannya adalah kilogram, bukan perekor. Jika satu ekornya lebih dari satu kilo, maka harganya disesuaikan dengan berat timbangannya,” ungkap Birhasani saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Ia menyebut, terjadinya kenaikan harga ayam potong di sejumlah pasar disebabkan oleh stok yang menipis dipertenakan dan keterlambatan pengiriman pasokan bibit ayam.

“Bibit biasanya dari sentralnya di Lianganggang dikirim ke peternak di kawasan Bati-bati dan Pelaihari. Namun, akibat banjir serta terkendala transportasi, jadi terlambat dalam pengiriman,” paparnya.

Alasan lain, katanya lagi, lantaran usia ayam yang belum memasuki usia potong. Rata-rata usia ayam potong untuk bisa dijual berusia sekitar 40 hari.

“Saat ini usia ayam masih rata-rata berumur 15 hingga 20 hari, sehingga tak bisa untuk dijual atau dipotong,” pungkasnya. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya