Pasca Banjir, Harga Cabai Masih ‘Pedas’

Jangankan mau untung lebih, laku terjual saja sudah bagus. Pembelinya sepi. Harga mahal pelanggan jadi berpikir untuk beli banyak. Biasa beli 1 kilo, sekarang belinya paling 1/4 kilo,” keluh Rasidi warga Sungai Andai ini.

Banjarmasin, KP – Pasca musibah banjir, harga cabai di pasar tradisional Banjarmasin terpantau masih tinggi hingga saat ini.

Misalnya saja, cabai tiung, harga per kilogram Rp90 ribu, padahal seminggu lalu hanya Rp75 ribu per kilogram. Begitu juga dengan cabai rawit taji yang mengalami kenaikan, harga per kilogramnya Rp90 ribu, sebelumnya hanya Rp80 ribu.

Jenis lainnya, cabai hijau besar juga naik menjadi Rp24 ribu per kilogram dari minggu sebelumnya hanya Rp20 ribu. Cabai merah besar yang semula Rp30 ribu per kilogram saat ini Rp35 ribu per kilo. Demikian pula cabai keriting, yang sebelumnya hanya Rp35 ribu per kilogram ikut naik jadi Rp40 ribu per kilogram.

Purwati, salah sorang pedagang di Pasar Hanyar Banjarmasin, mengatakan, harga cabai saat ini masih mahal. Tingginya harga yang didapat, membuatnya sulit untuk menjual lagi.

Diakuinya, mahalnya harga cabai sudah terjadi sejak musibah banjir di beberapa daerah penghasil.

“Harga cabai mulai naik saat banjir. Sampai saat ini masih mahal. Jualan jadi sepi,” ucap wanita paruh baya ini, Rabu (24/2).

Berita Lainnya
1 dari 856

Purwati memperkirakan intensitas curah hujan yang masih tinggi dan banjir menyebabkan banyak petani cabai yang gagal panen dan pasokan dari Jawa berkurang.

“Harganya jadi mahal karena gagal panen dan cabainya kosong. Yang datang ini kebanyakan cabai dari Sulawesi, sebagian cabai lokal,” bebernya.

“Kalau cabai rawit sebelum banjir memang sudah kosong, makanya harganya masih tinggi, Rp130 ribu per kilogram,” katanya lagi.

Kondisi yang sama dirasakan Rasidi, pedagang cabai lainnya di pasar tersebut. Menurutnya, mahalnya harga cabai membuat pedagang kesulitan menjual.

“Jangankan mau untung lebih, laku terjual saja sudah bagus.

Pembelinya sepi. Harga mahal pelanggan jadi berpikir untuk beli banyak. Biasa beli 1 kilo, sekarang belinya paling 1/4 kilo,” keluh Rasidi warga Sungai Andai ini.

Jika tak laku terjual, sambung Rasidi, lama-lama cabai akan membusuk. Dari pada harus rugi lebih banyak, mau tak mau dijual lebih murah.

“Resikonya ya seperti ini, bila tidak laku dalam beberapa hari, cabai akan busuk. Terpaksa lah dijual rugi,” imbuhnya. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya